BERBAGI
Cangkrukan Budaya
Cangkrukan Budaya bikin kangen Malang.
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Bekerja sama dengan Museum Malang Tempo Doeloe, Majime berhasil menyelenggarakan Cangkrukan Budaya pada empat juni lalu. Dengan tema yang menarik, yaitu Pluralisme Sosial Budaya Kota Malang disampaikan oleh kedua pemateri yang berpengalaman dalam hal budaya, khususnya di Malang. Pemateri pertama dari sejarawan, Drs. M Dwi Cahyono dan yang kedua seorang arkeolog serta seniman Malang, Aji Prasetyo.

Acara dari Majime yang merupakan pratikan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang dalam mata kuliah praktikum public relations ini berlangsung mulai pukul 19.20 hingga 22.40 yang banyak membahas keragaman sosial-kultur di kota Malang oleh pembicara pertama.

“Sengaja mengangkat tema ‘Pluralisme Sosio-Budaya Malang’ dengan demikian berkesuaian (relevan) dengan karakter lokalnya tersebut. Keragaman (pluaralitas) kemasyarakatan dan kebudayaan di Malang adalah realistas, yang oleh karenanya perlu untuk: disikapi secara bijak, dan ditindaki secara bijak pula oleh siapapun yang tinggal menetap (permanent), semi-permanen ataupun esidental di Malang,” kata Dwi Cahyono.

Tentu ini topik yang sangat menarik, karena tak akan ada habisnya jika membahas keragaman kultur dan budaya di Malang. Aji Prasetyo yang akrab disapa Mas Aji juga menuturkan bahwa kebudayaan yang ada di Malang memang bermacam-macam. Dari segi sejarahnya, semuanya ada dalam bentuk fisik yang ditempatkan di museum. Dengan adanya museum, kultur asli Malang terekam jejak perkembangannya dari waktu ke waktu tanpa tergerus kebudayaan lain yang masuk ke Malang.

Kita tahu sendiri bahwa museum di Malang memang beragam, mulai dari sejarah kota hingga sejarah musiknya. Namun sayangnya, generasi muda datang ke museum hanya untuk rekreasi, bukan mencari tahu nilai apa yang ada di dalamnya. Sehingga pesan dari museum sendiri tak akan sampai.

Pak Dwi juga menambahkan bahwa semua museum haruslah memiliki konsep yang kuat agar selain mencari kesenangan untuk pergi ke museum, diharapkan orang-orang juga mendapatkan nilai edukatif dari museum yang mereka datangi.

“Tujuan kami tidak hanya ingin memperkenalkan Museum Malang Tempo Doeloe ke masyarakat Malang, tapi juga ingin mengajak kita semua lebih menghargai sejarah. Tidak hanya sebgai tempat wisata saja, diharapkan museum bisa menjadi media pembelajaran yang efektif” ujar Dio Herdian, selaku ketua pelaksana acara Cangkrukan Budaya.

Acara yang diselenggarakan di Warung Komika Jalan Jakarta No. 34 ini juga dimeriahkan oleh Tari Beskalan, Tari Topeng, Ludruk dari Mlumah. Acara yang diadakan di Rumah Ada-Ada Aja ini juga sebagai malam puncak dimana pengumuman pemenang lomba selfie yang diadakan di Museum Malang Tempo Doeloe sejak tanggal 20 Mei lalu. Pemenang lomba adalah akun @marsicalestarii sebagai juara pertama, @fariskatill sebagai juara kedua dan akun @sofimissof sebagai juara favorit.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.