BERBAGI
Sumber Air Binangun Batu yang sedang dibangun | Foto: Grup Facebook Malang Djaman Lawas
Sumber Air Binangun Batu yang sedang dibangun | Foto: Grup Facebook Malang Djaman Lawas
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Salah satu sumber air yang ada di Batu yang dimanfaatkan oleh warga Kota Malang adalah Sumber Air Binangun yang terletak di Kecamatan Bumiaji. Melalui sebuah foto lawas, kita bisa melihat jika sumber itu ternyata sudah dipersiapkan oleh Belanda.

De in aanbuow zijnde watertunnel die in de toekomst Malang van zuiver drink en badwater moet voorzien (de thans bestaande broncapteringen zullen dan worden verlaten)‘, begitu caption tulisan tersebut yang kurang lebih artinya “Sedang ada pembangunan kontruksi terowongan untuk air minum dan mandi masa depan di Malang.

Pembangunan itu adalah pembuatan saluran pipa panjang yang membentang dari Batu ke reservoir PDAM Kota Malang yang ada di Dinoyo dan Betek. Sistem alirannya cukup canggih dengan dinamakan sistem penyadap Brom Captering yang ditransmisikan secara gravitasi. Dengan kata lain, tidak perlu menggunakan pompa karena dengan ketinggian kontur alam yang berbeda sudah bisa mengalirkan air dari Malang ke Batu.

Pada masa pemerintahan kolonial, air bersih memang sudah dipikirkan secara matang meskipun pada saat itu banyak warga yang sudah menggunakan sumur. Perusahaan yang dulu bernama Waterleiding Verordening ini mulai beroperasi sejak 31 Maret 1915. Pembangunan Sumber air Binangun sendiri baru dilakukan pada 1931 dan selesai pada 1935.

Selain Binangun, Kota Malang juga menggunakan sumber lain. Seperti sumber air karangan (1915), sumber air sumbersari (1928) dan lain sebagainya.

Sumber air Tindih yang ada di Dusun Binangun. Salah satu aliran air yang tergenang yang kerap digunakan Mandi oleh anak-anak | Foto: http://kayuhanku.blogspot.co.id/
Sumber air Tindih yang ada di Dusun Binangun. Salah satu aliran air yang tergenang yang kerap digunakan Mandi oleh anak-anak | Foto: http://kayuhanku.blogspot.co.id/

Sumber Berkurang dan Sengketa Sumber Air Binangun

Dahulu, Batu adalah surganya sumber air. Puluhan sumber air ada di kota yang sejak tahun 2000 ini berdiri sendiri ini hadir dan membuat warga yang ada di sana tidak pernah kekurangan air.

Sayang, dewasa ini maraknya pembangunan hotel yang beriringan dengan pembagunan sumur pompa air tanah membuat sumber-sumber yang ada di sana menyusut. 111 sumber air yang pernah tercatat kini hanya tinggal 40-an saja. Tidak heran kini penggiat lingkungan selalu meneriakkan konservasi, penyelamatan, dan pelestarian sumber air.

Penyusutan ini rupanya juga terjadi di sumber air Binangun. Dulu debit air yang pernah dicatat dan dilaporkan pada tahun 1980 sebanyak 250 liter per detik dan pada 2009 menjadi 230 liter/detik.

Menurunnya jumlah debit air di Batu juga membuat PDAM Kota Batu berniat mengambil alih sumber air Binangun di tahun 2005. Pengambilalihan itu memang sempat memanas hingga membuat kepala daerah masing-masing turun tangan. Batu sebagai daerah yang diambil airnya merasa hal ini tidak sesuai undang-undang sehingga ada nominal tertentu atau memutus aliran itu. Sementara Kota Malang yang merasa punya peralatan dan kadung ada 22 ribu pelanggan merasa memiliki sumber tersebut.

Setelah melalui deal-deal tertentu akhirnya disepakati jika Kota Malang harus membayar dengan nilai Rp250 per meter kubik pada 2006. Jumlah itu akan naik menjadi Rp300 per meter kubik pada 2007, dan Rp350 per meter kubik pada 2008. Harga air tidak berubah selama PDAM Kota Malang tidak menaikkan harga ke pelanggan.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.