BERBAGI
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Generasi sekarang mungkin akan berkenyit saat ditanya tentang cikar. Bahkan beberapa diantara pun pasti akan memerintahkan untuk mengulang pertanyaan tentang itu

Cikar adalah kendaraan yang banyak dipakai di zaman dahulu. Bentuknya hampir sama dengan dokar yang masih ada hingga sekarang. Bedanya, cikar ditarik oleh sapi dan bentuk gerobaknya lebih besar dan berbentuk rumah-rumahan di atapnya.

Kendaran ini terbuat dari kayu atau hampir 90 persen berupa kayu. Gerobak dengan roda dua yang melintang tersebut dihubungkan dengan pedati yang ditarik oleh sapi. Pedati ini ada dua macam yaitu pedati tunggal untuk satu sapi dan ganda untuk dua sapi. Roda gerobak tersebut terbuat dari kayu yang tepinya diberi karet ban.

Sapi penarik adalah sapi pilihan ini benar-benar pilihan, harus memiliki unyeng-unyeng (pusaran rambut) yang berada di tengah kepala. Konon fungsi uyeng-uyeng ini untuk membuat sapi tidak takut makhluk halus. Sementara ukuran sapi juga lebih besar dibandingkan sapi biasanya. Terkadang untuk membuat sapi tumbuh besar adalah dengan cara mengebirinya.

Cikar adalah kendaraan santai yang melaju seirama dengan perjalanan sapi, sehingga tidak dipaksakan untuk berlari. Meski terbilang berjalan pelan, namun cukup untuk membuat anak-anak yang berangkat sekolah nggandol untuk berangkat. Cukup menghemat tenaga bagi anak-anak yang dulu banyak berangkat dengan jalan kaki ini.

Adanya angkutan ini difungsikan mengangkut hasil bumi ke kota. Di Malang sendiri keberadaannya banyak dipunyai oleh penduduk di kawasan kabupaten Malang untuk mengangkut hasil bumi seperti padi, jagung, dan lain sebagainya ke Malang. Seorang kawan di kawasan Turen menceritakan jika dulu mengangkut hasil bumi di Turen ke Gadang dari pagi hingga sore. Meskipun di saat itu kereta Malang Stoomtram Maatschappij sudah ada jalur Turen, tetap cikar menjadi andalan bagi sebagian orang.

Bentuk pajak kendaraan cikar di Malang | Foto: Facebook: Wahyu Mencleg
Bentuk pajak kendaraan cikar di Malang | Foto: Facebook: Wahyu Mencleg

Pada masanya, cikar dianggap sebagai kendaraan mewah sehingga dulu ada namanya surat kendaraan yang berbentuk seperti BPKB (Bukti Pemilik Kendaraan Bermotor), selain surat juga ada plat untuk angkutan tersebut. Kemudian dari surat kendaraan itu pemilik diwajibkan untuk membayar sejumlah pajak.

Bicara tentang pajak, di tahun 1970-an bentuk pajak untuk cikar berbentuk seperti stiker yang mirip dengan peneng sepeda pancal. Stiker tersebut tetap dipertahankan hingga akhir tahun 1990-an.

Kendaraan ini sudah sangat jarang di kota Malang. Daya saingnya tentu kalah dengan angkutan motor seperti pick-up yang mampu mengangkut barang lebih banyak dan cepat. Popularitasnya kini hanya terdapat di wilayah Malang pinggiran dengan fungsi utamanya mengangkut hasil panen.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.