BERBAGI
Pentas seni wayang Krucil di Wiloso
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Wiloso, nama sebuah Dusun di sebuah Desa Gondowangi Kecamatan Wagir. Siapa sangka, di sana terdapat sebuah peninggalan lebih dari 300 tahun berupa wayang Krucil.

Wayang Krucil tersebut disimpan di rumah Mbah Saniyem dan akan dimainkan di hari-hari tertentu. Salah satunya adalah awal bulan Syawal yang sekaligus menjadi penanda kegiatan lain di kampung Gondowangi seperti Bersih Desa.

Pagelaran wayang Krucil di Wiloso kemarin (13/7) bertepatan dengan hari ketujuh hari raya lebaran atau di Jawa dikenal dengan hari raya kupat atau syawalan.  Dimulai pada pukul 11.00 siang, pertunjukkan yang dilakukan di halaman rumah Mbah Saniyem tersebut berakhir hingga jam 15.00.

Cerita yang disajikan oleh wayang ini cukup berbeda dengan wayang kulit atau wayang golek. Konon wayang yang dikatakan warisan Sunan Kalijaga ini mengisahkan tentang cerita kehidupan sehari-hari. Sehingga tidak akan ditemukan karakter Pandawa Lima atau Kurawa. Melainkan karakter unik masyarakat setempat. Tetapi kebanyakan juga berkisah tentang Majapahit dan Wali-wali dalam menyebarkan agama.

Sayang sekali, tak banyak warga yang menyaksikan kegiatan itu, pertunjukkan hanya dihadiri generasi tua, perangkat desa, akademisi, hingga awak media. Sungguh ironis mengingat wayang yang langka itu memerlukan perhatian dan alih generasi sehingga namanya tidak sekedar dikenang namun juga bisa dimainkan.

Wayang-Krucil-2
Tidak hanya dalang yang tua, para seniman penabuh alat musiknya pun juga tua. Ya, Wayang Krucil memang membutuhkan generasi muda pecinta seni.

Wayang Krucil memang kurang populer, wayang ini terbuat dari kayu pule atau kayu mentaos. Wayang diukir sesuai dengan karakter yang diinginkan. Sayang, kini kayu pule sangat sulit diperoleh di Wagir keberadaan kayu pule hanya ada di punden Sentono, Desa Pandanrejo.

“Kami ingin melestarikan wayang ini, karena di Wagir kami punya koleksi yang paling lengkap dibandingkan daerah lain di Jawa Timur. Saya pernah melihat wayang ini di Ngawi, Kediri, Blitar, Bojonegoro, hingga tempat lain. Dan di sana jumlahnya sedikit, hanya di Wiloso inilah jumlahnya lengkap ada 75 wayang yang semuanya disimpan rapi di dalam peti,” tegas Danis Setyo, Kepada Desa Gondowangi.

“Saat ini Mbah Saniyem adalah generasi ketujuh, dan kami harus bisa melestarikan keberadaan wayang ini karena merupakan satu-satunya yang ada di Kabupaten Malang.”

Menurut Danis, salah satu cara untuk melestarikan wayang yaitu dengan rutin mengadakan pertunjukkan yang dianggarkan lewat APBdes (Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa). Dengan demikian masyarakat akan tahu tentang keberadaan wayang ini.

Sementara, untuk membuat generasi muda tertarik Kepada Desa lulusan Universitas Negeri Malang ini menuturkan akan membuat duplikatnya. Dengan demikian, makin banyak anak muda di kampungnya yang akan belajar dan kesakralan dari wayang krucil asli milik Mbah Saniyem bisa terjaga karena memang tidak sembarangan bisa dimainkan.

“Sebelum digalakkan mulai tahun 2008, Wayang Krucil di sini mati suri dan terakhir dipentaskan pada tahun 60-an,” terang Danis.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.