BERBAGI
Pawai di Kelenteng Eng An Kiong
Pawai di Kelenteng Eng An Kiong
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Kelenteng Eng An Kiong punya gawe, dalam rangka perayaan HUT ke-191 mereka mengadakan pawai yang bertajuk ‘Kirab Ritual dan Budaya’.

Acara yang dilakukan pada Minggu (17/7) ini menghadirkan 50 Kelenteng dari seluruh Jawa dan Bali. Dalam pawai itu, ada 38 patung dewa yang diarak untuk menarik perhatian masyarakat. Selain mengundang klenteng dari berbagai daerah, panitia juga mengundang beberapa komunitas budaya seperti kelompok punakawan, sakerah dari Madura, reog Ponorogo dan jaran kepang, masyarakat Hindu dari desa Ngadas, tumpeng raksasa hasil bumi dan lain-lain.

Salah satu tujuan dari kirab ini adalah untuk menjalin kebersamaan dan kerukunan antar umat manusia oleh sebab itu kepesertaan melibatkan berbagai pihak. Peserta kirab pun beragam mulai dari laki-laki dan wanita dewasa sampai anak-anak.

Punakawan
Punakawan

Pawai dimulai dari Jalan Laksamana Martadinata (Kelenteng Eng An Kiong) rute melewati Jalan Trunojoyo – Jalan Gajahmada – Jalan Tugu – Jalan Suropati – Jalan Thamrin – Jalan HOS Cokroaminoto – Jalan Dr.Cipto – Jalan J.A Suprapto – Jalan Basuki Rahmat – Jalan Merdeka Timur – Jalan MGR Sugiyopranoto – Jalan Pasar Besar – dan kembali ke Kelenteng Eng An Kiong. Kurang lebih arak-arakan tersebut menempuh jarak sekitar 5km.

“Patung dewa yang kami bawa bernama Kwan Seng Tee Kun (Kwan Kon), yakni panglima perang yang bijaksana,” kata Liliana Anggraeni, koordinator Kelenteng Kwan Seng Tee Kun.

Sebenarnya acara HUT Kelenteng ini sudah dilakukan sejak Sabtu kemarin, mereka menggelar festivasl tari yang dimulai pada pukul 18.00. Kemudian pada hari Minggunya diadakan pawai yang dimulai sejak pagi pukul 08.00 hingga 14.00.

“Perayaan ini meruapakan salah satu bentuk ucapan rasa syukur kepada Tuhan yang maha esa karena Kelenteng ini sudah berusia 191 tahun. Selain itu acara ini juga bekerja sama dengan dinas pariwisata sehingga bisa menarik wisatawan untuk datang dan menyaksikan,” tegas Humas Kelenteng, Bonsu Anton.

Ada komunitas Sakerah Malang
Ada komunitas Sakerah Malang

“Dulu pemerintah Belanda sering kali meminta kami untuk mengarak Dewa Bumi keliling kota guna menangkal musim paceklik, saat musim sukar pangan tiba,”

Sedangkan Walikota Malang HM Anton menyatakan jika kirab ini adalah budaya warga Malang yang menghargai seni dan budaya. Sebagai walikota, dirinya merasa senang karena banyak masyarakat yang sangat antusias menyaksikannya.

Rombongan pembawa patung dari berbagai daerah itu menjadikan suasana kelenteng terlihat sangat ramai. Apalagi mereka juga dihibur dengan penampilan barongsai. Seperti dijelaskan Bonsu Anton Triyono, rohaniwan dan humas Kelenteng Eng An Kiong saat menjelaskan, acara peringatan berdirinya kelenteng ini ada sejak zaman Reformasi.

“Namun, sejak 2010 lalu, kami berkomitmen untuk mengadakan acara ini setiap tiga tahun sekali,” tegas Anton

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.