BERBAGI
Erupsi Gunung Bromo
Erupsi Gunung Bromo
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Ada hal yang berbeda dalam perayaan upacara Kasada tahun ini yang dilakukan pada Rabu malam (20/7) hingga Kamis dini hari (21/7) ini dilakukan dengan pengawalan yang ketat.

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) membuat pengamanan ketat untuk menjaga keselamatan masyarakat selama upacara berlangsung. Hal ini tidak lepas dari status Gunung Bromo yang saat ini masih erupsi sehingga berstatus waspada.

Upacara Kasada atau Yadnya Kasada digelar setiap tahun oleh Suku Tengger dan kerap menjadi daya tarik bagi wisatawan. Upacara itu dilakukan pada tanggal 14 atau bulan purnama mangsa Ashada (Kasada). Berdasarkan pada mantera yang dirapalkan, upacara Kasada merupakan sebuah ritual peringatan akan perjuangan nenek-moyang masyarakat Tengger, yang telah membangun dan melindungi hidup masyarakat Tengger.

Upacara itu dilakukan sebagai rasa syukur kepada Tuhan atas rejeki panen yang melimpah, dan memohon terhindar dari berbagai penyakit dan bencana. Kegiatan ini disimbolkan dengan melempar sesaji ke dalam kawah Bromo, sementara saat sesaji dilempar ada masyarakat yang ada di bawah kawah yang menangkapnya dengan menggunakan jaring.

Karena status Gunung Bromo yang waspada, maka upacara Kasada ada perbedaan dibandingkan sebelumnya. Kebijakan itu adalah pelarangan masyarakat untuk turun ke bawah menangkap sesaji yang dilemparkan.

Menangkap sesaji seperti tahun lalu tidak bisa dilakukan tahun ini
Menangkap sesaji seperti tahun lalu tidak bisa dilakukan tahun ini

“Status gunung masih waspada, sehingga tidak boleh ada warga masyarakat yang turun ke bawah. Saat ini juga kondisi kawah tidak lagi miring landai, melainkan sudah lurus sehingga lebih berbahaya. Dengan kondisi ini, tidak mungkin masyarakat memperebutkan sesaji,” ujar Kepala Seksi Wilayah I Bromo, Sarmin.

Sementara itu ada perlakukan yang berbeda yang dilakukan oleh TNBTS. Mereka bersama petugas kepolisian memasang beberapa garis polisi dengan tujuan untuk memberikan filter bagi pengunjung yang bukan masyarakat Tengger.

Untuk tahun ini, tidak diperbolehkan ada pengunjung selain masyarakat sendiri. Untuk menyaringnya, petugas kepolisian dan masyarakat ditempatkan di pintu-pintu masuk Gunung Bromo.

“Untuk pengunjung sudah di berhentikan di radius satu kilometer, ini adalah hajatannya suku Tengger dan untuk tahun ini dilakukan dengan kondisi waspada,” lanjut Sarmin yang juga menyatakan melibat sekitar 150 tim SAR untuk berjaga-jaga.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.