BERBAGI
Ima Matul Maisaroh, Wanita Malang Penasihat Presiden AS (C) MERDEKA
Ima Matul Maisaroh, Wanita Malang Penasihat Presiden AS (C) MERDEKA
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Tak ada yang menyangka jika nama Ima Matul Maisaroh terpilih menjadi salah satu orang kepercayaan sekaligus penasihat Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. Sejak 2012 lalu, wanita asal Kabupaten Malang ini memang menjadi salah seorang anggota Gugus Tugas Pemberantasan Perdagangan Manusia (PITF).

Cerita Ima hingga sampai ke Negeri Paman Sam sungguh penuh lika-liku. Bermula menjadi seorang buruh migran dengan iming-iming gaji besar, sempat mendapat perlakukan manusiawi, hingga kini wanita asli Kecamatan Gondanglegi itu mampu mengharumkan nama Indonesia di Amerika.

Terbaru, Ima menjadi salah seorang pembicara di Konvensi Nasional Partai Demokrat, di Kota Pennsylvania, Amerika Serikat, Selasa (26/7) waktu setempat. Ia diminta berbagi pengalaman serta upaya melawan perdagangan manusia. Konvensi tersebut digelar dengan agenda pemilihan calon presiden dukungan partai. Sementara Ima sendiri mengisi panggung utama Stadion Fargo yang menjadi venue kongres tersebut.

Kisahnya bermula ketika wanita 33 tahun ini terbujuk berangkat ke AS pada tahun 1997 silam. Saat itu, Ima yang sedang galau dengan pernikahannya, karena sering mendapatkan perlakuan kasar dari sang suami, memutuskan menjadi Tenaga Kerja Wanita. Kebetulan, ada seorang pria yang dikenalnya melalui media sosial menawarinya kesempatan kerja di Kota Los Angeles sebagai pembantu rumah tangga. Menariknya, Ima tak perlu mengeluarkan ongkos awal sepeserpun.

Dituturkannya, si pria bersedia mengurus semua keperluan yang dibutuhkan Ima. Mulai dari paspor, visa, tiket, sudah disiapkan dengan iming-iming gaji kala itu sampai USD 150 per bulan. Ia pun berhak mendapatkan libur sehari dalam sepekan.

Saat menginjakkan kaki di AS, Ima memang sempat menjadi pembantu rumah tangga. Namun kenyataan yang diterimanya berbeda. Pekerjaan dan perlakukan yang didapatnya bisa dibilang sebagai perbudakan. Ima bekerja selama 18 jam sehari dan bahkan lebih. Hak untuk libur sehari dalam sepekan pun tak diterimanya. Majikan Ima memaksanya melakukan semua pekerjaan, seperti membersihkan rumah, mencuci, merapikan taman, hingga mencuci mobil, tanpa kesempatan untuk istirahat.

Setelah menahan derita selama tiga tahun, Ima akhirnya memberanikan diri untuk kabur dari rumah sang majikan. Melalui surat yang dituliskannya, perempuan yang bekerja di seberang rumah, yang juga sesama pembantu rumah tangga, akhirnya bersedia menolongnya. Ima kemudian dibawa ke kantor Koalisi Lawan Perbudakan dan Perdagangan Manusia (CAST) di Los Angeles.

Di tempat itu, Ima dirawat serta diajari bahasa Inggris dan diberikan keterampilan lain, seperti pelajaran komputer. Pada tahun 2005, Ima bergabung sebagai aktivis lembaga CAST. Sebagai salah seorang korban yang berhasil selamat dari praktik perbudakan, kini Ima pun rajin mengkampanyekan gerakan melawan perbudakan serta perdagangan manusia.

Selain menyampaikan pengalamannya sebagai korban perbudakan manusia, Ima juga menyampaikan program-program penanggulangan perbudakan dan perdagangan manusia yang diterapkan oleh Hillary Clinton.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.