BERBAGI
Sekolah Kartini di Malang | Foto: Troppen Museum
Sekolah Kartini di Malang | Foto: Troppen Museum
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Dulu, di Malang pernah ada sekolah yang dikhususkan untuk siswa perempuan. Sekolah Kartini (Kartini School) namanya, yang terletak di sekitar Jalan Bareng Kartini. Konon penamaan jalan itu terjadi setelah adanya sekolah tersebut.

Sekolah Kartini didirikan atas politik balas budi atau politik etis. Pada awal tahun 1900-an, pemerintah Hindia Belanda merasa perlu melakukan balas jasa atas kekayaan yang diambil dari tanah jajahannya yaitu Indonesia. Keadaan tersebut tersebut merupakan pemikiran dari Pieter Brooshooft (wartawan Koran De Locomotief) dan C.Th. van Deventer (politikus).

Ada tiga hal yang menjadi panggilan moral dan hutang budi (een eerschuld) terhadap bangsa pribumi di Hindia Belanda. Tiga itu adalah irigasi (pengairan), Emigrasi (pemerataan penduduk), dan Edukasi (pendidikan).

Banyak pihak menghubungkan kebijakan baru politik Belanda ini dengan pemikiran dan tulisan-tulisan Van Deventer yang diterbitkan beberapa waktu sebelumnya, sehingga Van Deventer kemudian dikenal sebagai pencetus politik etis ini.

Sekolah Kartini sendiri awalnya tidak masuk hitungan, karena pendidikan dikhususkan untuk kaum lelaki pribumi. Memang ketika itu perempuan selalu berada di bayang-bayang lelaki. Beruntung kemudian ada R.A Kartini, sosok perempuan asal Jepara yang sangat rajin berkorespondensi dengan beberapa temannya di Belanda. Korespondensi melalui surat itu menceritakan nasib perempuan di masanya.

Gayung bersambut, akhirnya melalui politik balas budi itulah perempuan pribumi bisa bersekolah. Di awal pendiriannya sekolah Kartini cukup maju, sayang dia kemudian tidak meneruskan perjuangannya karena meninggal dunia di usia 25 tahun akibat pendarahan ketika melahirkan.

Nasib sekolah perempuan itu kemudian diteruskan oleh pasangan Van Deventer. Bahkan dirinya pada tahun 1912 mengeluarkan uang pribadinya untuk mendirikan Yayasan Kartini. Kemudian menggalang dana dari berbagai pihak sehingga beberapa sekolah kartini baru didirikan. Selain Malang, sekolah tersebut juga dibangun di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Madiun, Cirebon, dan beberapa kota lainnya.

Seorang guru dari Belanda mengajar sekolah Kartini di Malang | Foto: Troppen Museum
Seorang guru dari Belanda mengajar sekolah Kartini di Malang | Foto: Troppen Musea

Sekolah Kartini memang unik, selain siswanya adalah perempuan saja. Ada perbedaan dengan sekolah biasa karena di sekolah tersebut siswanya diajari menjahit, memasak dan keterampilan lainnya.

Saat ini keeksisan sekolah Kartini di Malang memang sudah tidak nampak, selain itupula sangat sedikit referensi tentang keberadaannya di Malang. Di sisi lain peran dari sekolah Kartini ini sudah kalah dengan sekolah umum yang pada masa kemerdekaan sudah bisa menerima murid perempuan. Kalaupun ada sekolah yang siswanya adalah perempuan, kebanyakan adalah sekolah penjurusan atau SMK.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.