BERBAGI
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Univesitas Machung mengadakan kegiatan pelatihan astronomi yang mendapatkan bimbingan langsung dari Jepang.

Beberapa siswa sekolah di Indonesia yang mengikuti seleksi olimpiade astronomi setiap tahunnya menemui beberapa kesulitan. Sebab, astronomi kini tidak menjadi salah satu mata pelajaran di sekolah alias masuk ke materi fisika dan geografi, itu pun tidak banyak.

Hal ini sangat disayangkan karena mereka harus mencari alternatif lain untuk belajar. Guru-guru di sekolah pun tak banyak yang memiliki latar belakang pendidikan astronomi. Kebanyakan, sekolah mengerahkan guru fisika untuk membimbing murid-muridnya tersebut.

suasana kelas NASE
Suasana working group di kelas | Foto instagram @surabaya_astro

Berlatar dari sana, salah satu astronom Indonesia, Dr. Chatief Kunjaya mengadakan pelatihan astronomi di Malang. Tak tanggung, presiden IOAA (International Olympiad on Astronomy and Astrophysic) periode 2012-2016 ini menggandeng tiga instruktur dari NASE (Network for Astronomy Education) yang merupakan commission working grup dari  IAU (International Astronomical Union).

Mereka adalah Prof. Rosa Maria Ros dari Spanyol yang juga merupakan presiden NASE, Prof. Beatriz Garcia dari Argentina yang kini menjabat sebagai wakil presiden NASE, dan Dr. Akihiko Tomita dari Jepang.

Selain instruktur internasional, rektor Universitas Ma Chung ini juga menggaet instruktur lokal. Mereka adalah Yudhiakto Pramudya (dosen Fisika Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta), Atsnaita Yasrina (dosen Fisika Universitas Negeri Malang), Daniel Tjandra (dosen Matematika Universitas Negeri Malang), dan M. Dwi Cahyono (dosen Sejarah Universitas Negeri Malang).

workshop session : simulasi meteor yang jatuh ke permukaan bulan | Video oleh Muhammad Hammam Nasiruddin.

Pelatihan selama empat hari yakni tanggal 25-28 Juli 2016 ini digelar di gedung Bhakti Persada Universitas Ma Chung.  Sistem pelatihan yang menerapkan learning by doing ini juga mengambil lokasi di Candi Badut. Seperti ketika sesi kunjungan astronomi yang didalamnya berisi materi mengenai arkeoastronomi oleh M. Dwi Cahyono.

Selain dibekali dengan materi-materi pembelajaran di kelas seperti evolusi bintang, pengembangan alam semesta, dan lain-lain, disini juga diberikan pelatihan membuat alat peraga sederhana dan terhitung murah di sesi workshop. Dari total sepuluh workshop, ada dua percobaan yang paling seru yakni roket dan simulasi jatuhnya meteor di permukaan bulan. Selain itu, juga diberikan cara melihat sinar infrared, mendeteksi adanya gelombang radio, menentukan umur klaster, dan sebagainya. Astronomi yang juga berkaitan erat dengan observasi juga dilakukan di Student Center Universitas Ma Chung. Sayangnya, selama dua hari-berturut-turut sesuai jadwal yang tersedia, langit Malang saat malam hari belum memberi restu untuk para peserta.

 

Peserta pelatihan adalah guru SMA yang memiliki latar belakang ilmu fisika, ilmu falak, matematika, dan astronomi. Selain guru, pelatihan ini juga diikuti oleh siswa-siswa SMA dan komunitas astronomi amatir di Jawa Timur seperti MAC (Malang Astronomy Club) dan SAC(Surabaya Astronomy Club).

Output dari acara yang berdurasi 32 jam ini yakni agar nantinya astronomi dapat diajarkan dengan cara yang lebih sederhana dan menyenangkan tapi tidak menghilangkan ataupun mengurangi esensinya itu sendiri. Buku memang bisa dijadikan sumber belajar. Namun, kadangkala daya tangkap ataupun yang dibayangkan pembaca berbeda dengan kenyataanya. Begitu pula dengan konsep astronomi yang juga seringkali ditangkap dengan salah.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.