BERBAGI
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Pembangunan Candi Badut tidak lepas dari sisi astronomi, hal ini terlihat dari bentuk bangunannya.

Di Indonesia, kita mengenal zaman prasejarah. Zaman dimana manusia belum mengenal tulisan. Meskipun zaman ini sudah terpaut lampau dari sekarang, tapi jejak kehidupannya masih dapat ditelaah.

Seperti sebelum Indonesia terkena budaya India, manusia nusantara sudah memiliki sepuluh butir budaya yang dikenal dengan ‘Tien Punten Brandes’. Istilah ini jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti Sepuluh Mutiara Brandes. Salah satu dari sepuluh butir tersebut adalah astronomi.

Dulu, astronomi digunakan sebagai navigasi dan menentukan masa bercocok tanam. Hanyalah bintang-bintang di langit yang mereka jadikan pedoman, khususnya arah mata angin timur dan barat. Kedua arah mata angin ini adalah yang utama bagi manusia dahulu karena merupakan tempat terbit dan tenggelamnya matahari. Matahari adalah benda langit yang istimewa menurut mereka. Sebab, matahari dianggap sebagai simbol kelahiran dan kematian. Sehingga, bangunan-bangunan megalitik, salah satunya candi dominan memiliki arah hadap dan orientasi di barat dan timur.

tempat dimana dulunya berdiri candi-candi kecil yang menghadap candi induk
tempat dimana dulunya berdiri candi-candi kecil yang menghadap candi induk.

Di Malang sendiri, ada lebih dari lima candi. Salah satunya candi Badut. Dalam pembangunannya, candi ini tak lepas dari sisi astronomi. Dapat dilihat dari penentuan orientasi dan arah hadap yang sudah dibahas di candi Badut bagian luar.

Berangkat dari menaiki tangga utama, kita akan menemui kepala kala dan kala makara sebagai pintu untuk memasuki bagian dalam candi. Jika kita mengitari keempat sisi candi, di sisi utara, ada sebuah persegi panjang yang menjorok kedalam sebagai tempat arca dari Durga, istri Siwa. Disini digambarkan istri Siwa berada diatas kendaraan bernama Mahesa Suramandhini, dimana Mahesa sendiri memiliki arti kerbau. Diatas kepala Durga, terdapat asura.

tour mengelilingi candi badut dipandu oleh M. Dwi Cahyono | Foto oleh Muhammad Hammam Nasiruddin
tour mengelilingi candi badut dipandu oleh M. Dwi Cahyono | Foto oleh Muhammad Hammam Nasiruddin

Jika kita mengitari sisi candi 180° dari tangga utama, kita menemui tempat arca Ganesha. Namun, kita sudah tidak dapat melihat Ganesha di bagian belakang candi ini. Sebab, Ganesha kini berada di Prigen, Pasuruan. Berlanjut lagi ke sisi bagian selatan, akan ditemui Arca Agastya. Agastya merupakan murid dari Siwa yang berjasa menyebarkan agama Hindu di India utara dan selatan. Julukan pahlawan selatan pun disematkan kepada Agastya karena alasan tersebut.

Setelah mengitari sisi candi, kini saatnya memasuki bagian dalam candi. Tampak sebuah batu kotak besar berwarna kehitaman dengan diatasnya terdapat batu yang berbentuk silinder keatas berwarna abu-abu di tengah candi. Itulah Lingga dan Yoni. Lingga merupakan batu kotak besar yang merupakan simbol dari istri Siwa. Sedangkan batu vertikal berbentuk silinder dan berwarna abu-abu merupakan simbol dari Siwa. Keduanya menggambarkan sentral dari energi kerajaan. Dengan kata lain, disinilah atau di pusat kerajaan terpancar sumber energi.

Bahan batuan untuk Lingga dan Yoni pun berbeda. Lingga dibuat dari bahan yang paling kuat dan keras. Hal ini sejalan karena Lingga merupakan sesuatu yang sakral dan penuh kekuatan yang dimiliki kerajaan. Jika Lingga suatu kerajaan hilang, maka kerajaan tersebut lemah atau runtuh.

Pada saat upacara dilakukan, air diguyurkan dari atas Lingga dan mengucur ke bawah. Ini berarti sebelum air tersebut diguyurkan, air tersebut hanyalah air biasa atau disebut banyu. Namun, setelah diguyurkan air biasa tersebut menjadi tirta atau air yang sakral.

kunjungan astronomi di candi badut
pemberian materi saat kunjungan astronomi di candi badut

Di sisi bagian dalam candi juga terdapat arca. Ada delapan arca kecil yang terbuat dari perunggu untuk menempati keempat sisi candi. Di sisi utara dan selatan ditempati oleh dua arca. Masing-masing dari empat tempat arca tersebut memiliki arti sebagai dewa penjaga penjuru mata angin.

Mengunjungi candi tak hanya sekedar melihat bangunan atau puing-puing bebatuan yang tersusun rapi. Melainkan juga sekaligus memelajari ilmu terkait, seperti astronomi dan sejarah. Banyak cerita yang dimiliki oleh bangunan-bangunan bersejarah, sayang sekali jika sampai dirusak oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab. Oleh karena itu, mari kita jaga bangunan penuh makna ini dengan sebaik-baiknya.

Sumber : M. Dwi Cahyono, dosen Sejarah Universitas Negeri Malang saat acara kunjungan astronomi di candi Badut dalam 82nd International NASE Astronomy Course.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.