BERBAGI
pasar tempo doeloe
Begini lah suasana pasar tempo doeloe di Malang. (Foto: malang.endonesa.net)
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Tak susah untuk menemukan pasar tradisional di Malang, masih banyak yang menerapkannya. Hanya beberapa yang sudah direvitalisasi seperti Pasar Oro-oro Dowo. Perkembangan pasar dimulai sudah sejak sebelum tahun 1914.

Sebelum tahun 1914, di Malang hanya ada satu pasar milik swasta di Pecinan. Dewan wilayah yang berkedudukan di Pasuruan hendak membangun pasar di daerah Kayutangan, tetapi akhirnya mengambil alih pasar Pecinan dan mulai dibangun pada 1920 yang sekarang kita kenal sebagai Pasar Besar.

Selanjutnya dibangun pasar di kampong-kampung, Pasar Bunulrejo, Kebalen, dan Oro-Oro Dowo pada 1932, Pasar Embong Brantas dan Lowokwaru tahun 1934, sedangkan Pasar Dinoyo dan Pasar Blimbing dibangun Januari 1940.

Meski sudah ada sejak sebelum Indonesia Merdeka dan tak susah menemukan pasar tradisional, banyak hal yang berbeda tentunya dari pasar masa kini dengan pasar tempo doeloe. Mari bernostalgia dengan foto-foto di bawah ini.

pedagang pasar di malang
Tempeh menjadi wadah paling populer saat itu, hingga sekarang pun tak jarang yang masih menggunakannya. (Foto: malang.endonesa.net)
penjual cenil di malang
Saat ini jarang kita temukan penjual cenil yang berkeliling, pasti untuk menemukan penjual cenil kita harus ke tempat-tempat tertentu. Tak seperti di foto ini yang masih dengan wadah yang dapat disunggi di kepala. (Foto: malang,endonesa.net)
penjual rokok di malang
Penjual rokok seperti ini masih bisa kita temukan di area Pasar Besar. Tapi tentunya dengan packaging atau bungkus yang berbeda dari zaman ini.
penjual ayam di malang
Dahulu melihat jejeran bapak-bapak yang sibuk menjual ayamnya masih sering kita temukan, Anda pada era 2000-an saat ini masih sering kah melihat suasana seperti ini? (Foto: malang.endonesa.net)

Penjual sayur memang selalu ada, pun dengan yang lain karena kebutuhan manusia. Pasar pun tentunya akan selalu ada dari tahun ke tahun, tapi suasananya begitu berbeda dari masa ke masa. Dari beberapa foto di atas, semua perempuan bertahan dengan kebayanya yang tentunya tak bisa kita temukan saat ini.

Kebaya bukan menjadi pakaian tradisional yang hanya digunakan saat Hari Kartini atau menikah saja, namun menjadi pakaian keseharian. Begitu pula dengan bapak-bapak yang sibuk berjualan di pasar, topi fedora tampak menghiasi kepala bapak-bapak dari foto ke foto.

Tentu suasana ibu-ibu berkebaya dan bapak-bapak dengan topi fedoranya tak bisa kita temukan seperti suasana foto di atas. Tapi setidaknya saat ini jangan sampai lupa dengan kebaya yang menjadi pakaian tradisional dan pakaian khas dari Indonesia, tak masalah meski hanya menggunakannya di beberapa hari tertentu, bila bukan kita yang melestarikan sejak sekarang, siapa lagi?

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.