BERBAGI
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Simak cerita lanjutan perjuangan Nardi Tjahyo membawa aliran Karate Kyokushinkai ke Indonesia. 

Perjuangan dan keyakinan yang teguh membawa sosok Nardi Tjahjo Nirwanto mencapai salah satu harapannya, bisa pergi ke Jepang. Ia pergi ke Jepang dengan tujuan untuk memberikan kontribusi terhadap Indonesia dalam dunia karate. Dimana di Jepang ia berlatih dibawah bimbingan Masutatsu Oyama.

Setibanya di Haneda airport Tokyo, tanpa disangka sebelumnya, Nardi telah dijemput oleh tiga orang sambil merentangkan spanduk bertuliskan “Selamat datang Tuan Nardi T. Nirwanto S.A. wakil dari Indonesia”, dan salah seorang merentangkan Sang Saka Merah Putih. Mereka adalah Yan Okuyama dari Tokyo, Atsushi Kanamori dari Nagoya, dan Yoshio Kanamori yang sebelumnya hanya dikenal lewat korespondensi saja. Setelah bertemu dengan Oyama, Nardi diperkenankan menempati kamar di tingkat dua apartemen kecil yang berada dibelakang Honbu.

Berlatih karate di Jepang alias tempat dimana aliran ini lahir sangatlah ketat, jadwal padat serta berat. Nardi berlatih setiap hari dari pukul 10.00 – 12.30, lalu dari pukul 15.00 – 17.30 dan pukul 19.00 – 21.30 dengan Jiyu Kumite yang setiap minggunya tidak kurang dari 6-8 kali. Padahal rata-rata anggota biasa berlatih sebanyak dua kali seminggu. Satu lawan satu, belum lagi setiap hari pasti ada Kumite Bergantian. Pada saat berangkat, berat badan Nardi yang semula adalah 93 kg menurun drastis menjadi 72 Kg setelah latihan selama tiga bulan. Mereka yang berlatih seminggu dua kali saja banyak yang tidak masuk karena rasa sakitnya yang tentunya belum hilang akibat free fighting ini.

Dengan intensitas latihannya yang setiap hari, maka dapat diakumulasikan waktu latihannya dalam sebulan adalah sebanyak 90 kali. Padahal jika waktu latihan anggota biasa dijumlahkan, maka dalam sebulan hanya sebanyak Sembilan kali. Artinya satu bulan latihan bagi Nardi sama dengan sepuluh bulan latihan anggota biasa.

Atas dasar ketekunan, semangat, tahan uji dan kesungguhan Nardi berlatih di Honbu, maka secara pribadi dan organisasi diberikan Piagam Penghargaan khusus dari Masutatsu Oyama saat sebelum kembali ke Indonesia yang disimpannya hingga kini. Sepulangnya dari Tokyo, Nardi memantapkan tingkatan dari Yoshida sensei, yaitu DAN I dari Tokyo Honbu sebagai hasil mengikuti Special Black Belt Course For Instructors.

Akhir tahun 1970 Nardi kembali ke Indonesia. Bulan Juli 1971 Tokyo Honbu meningkatkan Nardi ke DAN II. Pada akhir 1972, secara khusus Nardi kembali ke Jepang dan menetap beberapa saat untuk mengikuti ujian dan memperoleh tingkatan DAN III yang saat itu bersamaan dengan diselenggarakannya All Japan Karate Open Tournament. Pada turnamen tersebut, Masutatsu Oyama meminta Nardi berdiri diatas podium pertandingan sambil memberikan Tanda Penghargaan Khusus baik atas nama pribadi maupun Kyokushinkai-Kan, menyatakan dihadapan penonton bahwa Nardi adalah Branch Chief dan Chief Instructor untuk Indonesia serta dukungannya yang kuat.

Lalu pada World Open Karate Tournament II tahun 1979 Nardi diberi kenaikan tingkat menjadi DAN IV di Tokyo. Pada Kejuaraan Asia Pasifik di Jakarta tahun 1981, oleh Masutatsu Oyama, tingkatan Nardi dinaikkan menjadi DAN V yaitu tingkatan tertinggi secara efektif bagi seorang karateka, sedang tingkatan diatasnya adalah lebih bersifat penghargaan dan penghormatan.

Nardi Tjahjo Nirwanto yang telah meninggal dunia pada Selasa, 22 September 2009 pukul 20.00 WIB di Rumah Sakit Saiful Anwar, Malang, Indonesia ini merupakan orang pertama dari Indonesia yang memperdalam aliran kyokushin karate pada Tokyo Honbu dibawah Masutastu Oyama sebagai bapak dan pendiri Sistem Full Body Contact ini dan merupakan orang pertama yang membawa Kyokushinkai karate masuk Indonesia.

 

Sumber : http://www.kyokushinkai.or.id/sejarah.php

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.