BERBAGI
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Banyak orang yang sebetulnya peduli akan kehidupan orang-orang disekitarnya. Namun, tak banyak orang yang punya waktu untuk mewujudkannya secara terus-menerus. Agustinus Tedja Bawana salah satunya.

Dirinya adalah pendiri Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT). Beliau adalah sosok yang sangat peduli terhadap masa depan anak-anak jalanan, terutama di bidang pendidikan.

Namun, pendidikan yang diusung tidak seperti pendidikan formal pada umumnya. Yang ditekankan disini lebih ke pendidikan keterampilan. Sehingga nantinya mereka bisa memiliki usaha dan mendapatkan penghasilan sendiri.

Tentunya yang menjadi relawan tak hanya Tedja seorang diri, ia juga melibatkan para mahasiswa dan orang-orang lain yang memiliki skill mumpuni. Tak heran, umumnya penampilan pendamping disini terlihat sangar karena juga ada yang dari anggota JKJT sendiri. Hampir sama seperti Tedja yang bertato dan berambut gondrong. Meski begitu skill mereka sangat diandalkan.

Wajib sekolah 12 tahun memang tak mudah dilakukan oleh kalangan kaum marjinal. Sebab, kebanyakan dari mereka tidak mampu memenuhi biaya yang harus mereka keluarkan untuk sekolah anak-anak mereka. Untuk lulus SD saja perjuangannya sangat berat. Sehingga dengan ikut bekerjanya anak-anak mereka akan sedikit bisa meringankan beban keuangan di keluarga mereka. Meskipun sekolah gratis sudah ditetapkan pemerintah. Namun, masih tetap ada saja sekolah yang meminta pungutan lain.

salah satu kegiatan oleh Agustinus Tedja Bawana_JKJT Malang
salah satu keseruan kegiatan oleh Agustinus Tedja Bawana di JKJT Malang | Foto Instagram @tedjaudiniwangmailcom

Tingkat pendidikan yang rendah itulah yang mendasari awal terbentuknya JKJT. Pembinaan yang terus dilakukan ini akhirnya membawa dampak yang baik. Dari beberapa pembinaan yang dilakukan seperti memasak, menjahit, merakit CCTV, fotografi, dan musik kini beberapa dari murid binaan tersebut sudah mampu menghasilkan pendapatan sendiri. Contohnya Iwan yang tertarik dengan dunia fotografi. Hal itu terus ia dalami dan kini jika ada permintaan salah satunya wedding photography ia juga ikut menanganinya.

Untuk menampung semua itu, JKJT memliki rumah belajar, yaitu di daerah Muharto dan Jagalan. Disana mereka belajar bersama-sama artinya tidak dibedakan dengan kelas tetapi usia, anak-anak, remaja, dan dewasa. Tidak ada guru yang mengajar disini, yang ada hanya pendamping.

Lokasi untuk belajar memang berpindah-pindah karena mereka sering menggunakan rumah warga. Meskipun begitu, mereka sangat antusias untuk menerima ilmu baru setiap pertemuannya.

Banyak aksi sosial lain yang diinisiasi oleh Agustinus Tedja Buwana di JKJT selain pendidikan, antara lain kesehatan, memperoleh surat atau identitas, bahkan nikah massal.

JKJT yang kini berkantor di Jl. Blitar No. 12, Malang ini sudah ada sejak tahun 1996. Nama awalnya yaitu Jaringan Relawan Kemanusiaan Jawa Timur lalu berganti menjadi Jaringan Kemanusiaan Komisi Kepemudaan Malang dan akhirnya tergabung dalam Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur pada 2002.

Kini sudah banyak murid binaan JKJT yang sukses menjadi pengusaha, wiraswasta, PNS, dan lain lain.

Tedja mengungkapkan bahwa sukses itu bukan modal kuncinya, tapi kemauan. Jika mereka memiliki kemauan ditambah usaha, modal itu datang dengan sendirinya. Di JKJT ditanamkan sikap jujur pada diri sendiri. Sebab, jika sudah jujur nanti pasti akan bisa mengambil kesempatan dengan baik. Juga mereka dihadapkan pada benturan kekecewaan dan kegagalan supaya bisa menjadi lebih dewasa.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.