BERBAGI
Kisah Heroik Meriam si Buang, Penghuni Museum Brawijaya (C) MALANGONLINE
Kisah Heroik Meriam si Buang, Penghuni Museum Brawijaya (C) MALANGONLINE
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Memasuki Museum Brawijaya Malang di kawasan Jalan Besar Ijen Kota Malang, Anda akan disambut oleh deretan senjata lapis baja yang berada di Taman Agne Yastra Loka di depan museum. Salah satu “penghuninya” adalah Meriam si Buang.

Meriam berukuran 3,7 Inch ini dirampas pasukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dari Belanda dalam serangan 10 Desember 1945 yang dilancarkan terhadap kedudukan tentara Belanda di Pos Pantai Desa Betering. Dalam penyerangan itu, TKR dibantu oleh para laskar pejuang lainnya. Kala itu, pertempuran berlangsung sengit dan memakan waktu hampir enam jam lamanya. Dalam perang tersebut, gugurlah seorang prajurit TKR bernama Kopral Buang.

Nama Kopral Buang itulah yang kemudian disematkan pada meriam rampasan yang didapat pasukan TKR dari Belanda. Hal ini dilakukan untuk mengenang jasa-jasa prajurit tersebut, sekaligus untuk menghormati pengorbanannya di medan laga. Hingga saat ini, meriam si Buang tersimpan rapi sebagai salah satu koleksi bersejarah di Museum Brawijaya Malang. Dialah salah satu saksi bisu perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamirkan kepada dunia kala itu.

Selain Meriam si Buang, museum yang berada di bawah naungan Kodam V Brawijaya ini memiliki banyak koleksi kendaraan lapis baja lainnya. Mulai dari Pompom Double Loop, tank buatan Jepang, tank amfibi AM Track, hingga berbagai jenis senjata api yang merupakan rakitan tentara Indonesia dan sebagian adalah hasil rampasan dari penjajah.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.