BERBAGI
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Kota Malang tak bisa dipisahkan dari sejarah kemerdekaan Indonesia. karena kota ini menjadi salah satu lokasi favorit pemerintahan kolonial waktu itu. Di akhir abad 18, Malang terpilih oleh meneer en mevrouv alias tuan dan nyonya Belanda sebagai tempat peristirahatan. Karena daerah ini tidak hanya terkenal dengan kesejukannya, tapi juga indahnya panorama yang disuguhkan.

Bahkan, jauh-jauh hari, pemerintah kolonial sudah menyiapkan kota ini sebagai ibu kota pemerintahan. Keluarnya UU desentralisasi pada tahun 1913 pun dijadikan momen oleh Belanda untuk memindahkan pusat pemerintahan dari alun-alun kota menuju alun-alun bunder. Dulu, alun-alun bunder hanya berbentuk tanah lapang atau ruang terbuka hijau berbentuk bulat yang di kelilingi bangunan-bangunan penting, salah satunya gedung balai kota.

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, warga Malang juga berhak atas wilayah yang dikuasai oleh Belanda. Dan untuk memperingati kemerdekaan itu, dibangunlah tugu kemerdekaan di tengah alun-alun bunder pada 17 Agustus 1946. Tugu ini sekaligus menandakan bahwa daerah alun-alun bunder sah menjadi milik rakyat Malang atau Indonesia.

Sayangnya, masih banyak dunia internasional yang belum mengakui kemerdekaan Indonesia. Sehingga, niat jahat Belanda muncul dengan mengklain bahwa Jawa Timur dikuasai lagi, khususnya Malang. Pada 31 Juli 1947, Belanda menyerang Kota Malang dengan hebat.

Nah, sebelum Belanda datang ke Malang, hampir 1000 bangunan yang dibuat Belanda di Kota Malang dibumihanguskan oleh warga Malang, termasuk Balai Kota Malang. Peritiwa ini yang disebut Clash I atau Malang Bumi Hangus.

Kejadian itu terekam jelas dalam dokumentasi foto di Museum Tempoe Doeloe. Tampak sejumlah tempat penting seperti Balai Kota Malang (Bleed Van Eeen Stad), Sarinah, dan sejumlah sekolah bekas bangunan Belanda habis terbakar.

Dibumihanguskannya sejumlah bangunan sisa kolonial Belanda tersebut bukan tanpa alasan. Pemerintah Kota Malang sengaja membumihanguskan bangunan kolonial tersebut agar Belanda tidak masuk ke Malang kembali. Sebab, pada tahun 1947, Belanda kembali berhasil menaklukan sejumlah kota di Indonesia. “Tujuannya waktu itu memang hanya satu, yakni agar Belanda tidak lagi masuk ke Malang,” kata Suwardono, sejarawan dan arkeolog Kota Malang.

Hanya saja, rencana pemerintah Malang waktu itu tidak berhasil. Pada Juli 1947, Malang kembali jatuh ke tangan Belanda hingga pada akhirnya pada tahun 1949 Belanda baru angkat kaki dari Malang.” Secara tujuan memang betul membumihanguskan bangunan itu agar Belanda tidak nyaman menjalankan operasinya di Malang, tapi dampaknya bangunan bersejarah kita banyak yang tidak ada,” imbuh pria yang juga dosen di IKIP Budi Utomo ini.

Kembali didudukinya Malang oleh Belanda memang membuat masyarakat Kota Malang kesulitan. Ketika itu pemerintahan sempat pindah ke Bantur, kabupaten Malang, dan disejumlah kecamatan, salah satunya Gondanglegi. Tidak hanya itu, dalam sejarahnya, tugu yang dibangun pada tahun 1946 juga dihancurkan oleh Belanda pada 1948. Tak pelak, Malang luluh lantak dan tugu hanya tinggal fondasinya saja.

Terkait sejarah Tugu, pria yang juga Pegawai Negeri sipil (PNS) di SMAN 7 Kota Malang ini mengatakan, sebenarnya, tugu yang saat ini menjadi salah satu ikon Malang itu tidak hanya Ikon Malang, tapi juga Indonesia.

Ini karena, pada tahun 1946, Presiden Indonesia Ir. Soekarno waktu itu menginginkan Indonesia mempunyai monumen kemerdekaan. Dari sejumlah daerah yang diseleksi seperti Jakarta, Bandung, Jogjakarta, dan Surabaya, akhirnya Malang yang dipilih. “Kenapa dipilih Malang, karena Malang relatif aman dan dikelilingi gunung. Bahkan, saat itu, untuk masuk Malang hanya bisa melalui Lawang saja,” paparnya
sumber: Jawa Pos Minggu, 17 Agustus 2014

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.