BERBAGI
Pangeran Masud Thoyib (tiga dari kanan) dan Romo Djathi (tengah) di Workshop Nasional Naskah Klasik Nusantara jilid II | Foto Instagram @capt_flash72
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

“Percaya dengan bangsa sendiri, itulah yang menjadikan suatu bangsa menjadi kuat”, tutur Djathi Koesoemo.

Terdengar lantunan cerita-cerita yang sarat akan sejarah di Auditorium Fakultas Hukum Universitas Brawijaya pada 23 September 2016. Ya, tepatnya pada acara Workshop Nasional Naskah Klasik Nusantara Jilid II.

Acara bertema ‘Membangun Generasi Muda dan Calon Pemimpin Bangsa dengan Budi Pekerti Luhur’ ini mengangkat diskusi mengenai budaya, sejarah, dan pembelajaran. Ada tiga pemateri yang masing-masing membawakan materi berbeda, yakni Pangeran Nata Adiguna Masud Thoyib Jayakarta Adiningrat (Sekjen Yayasan Raja & Sultan Nusantara / Yarasutra) membawakan materi ‘perspektif : Raja, Sultan, dan Kitab Klasik Nusantara’, lalu ada Romo Ki Djathi Koesoemo (Budayawan) dengan materi ‘Perspektif : Nusantara Era Digitalisasi’, dan K.H. Marzuki Mustamar (Ketua PCNU Kota Malang) yang membawakan tentang pendidikan pesantren.

Mengenai kepemimpinan, Romo Djathi menuturkan bahwa seorang yang menjadi pemimpin dalam suatu daerah, dalam konteks ini yang dibicarakan adalah raja Jawa yang harus berani miskin dan lebih miskin dari rakyatnya yang paling miskin. Disini berarti seorang pemimpin harus memiliki perencanaan kedepan baik jangka pendek maupun jangka panjang untuk kemakmuran masyarakatnya.

kh-marzuki-mustamar-menyampaikan-materi-dalam-workshop-nasional-naskah-klasik-nusantara-jilid-ii
K.H. Marzuki Mustamar menyampaikan materi dalam Workshop Nasional Naskah Klasik Nusantara Jilid II

Di era sekarang, potensi sumber daya manusia yang meliputi filosofi, keahlian, saintek sudah luar biasa. Layaknya kata para pujangga di jaman Mojopahit dulu, anak kecil saja sudah membawa keris yang terbuat dari emas. Itu menunjukkan bahwa sebenarnya kita sudah mampu dan kaya. Sehingga, mari bersama-sama menggali secara lebih mendalam dengan akal dan hati yang tentunya sudah harus terukur secara pasti dan memiliki dasar.

Adapun urutan proses belajar yang disampaikan oleh K.H. Marzuki yakni harus mantap, patuh terhadap guru terlebih dahulu. Lalu, sudah yakin mengenai materi yang akan dipelajari terutama dengan segala aspek yang ada kaitan dengannya. Ilmu itu suci, sehingga untuk menerimanya juga harus dalam keadaan yang suci atau bening hatinya. Ketika keduanya sudah dimiliki, baru proses belajar bisa berlangsung.

Proses belajar yang dibahas disini yakni melalui dua arah, pendidik dan pelajar. Berkah dalam menuntut ilmu yang datang tak hanya berasal dari murid saja, tapi juga harus datang dari niat tulus ikhlas para pengajarnya. Juga, menularkan karakter ke murid itu baik, misal karakter disiplin, kritis, jujur, dsb.

Selain itu, suksesnya penuntut ilmu juga tak jarang datang dari tugas yang diberikan seorang guru. K. H. Marzuki menceritakan mengenai seorang murid yang dulunya biasa-biasa saja namun sekarang menjadi pengusaha burung yang sukses. Ternyata awal mulanya yakni dulu semasa menuntut ilmu ia ditugasi gurunya untuk merawat burung. Sehingga dia paham mengenai burung yang akhirnya membuatnya sukses seperti sekarang.

Oleh karena itu, selagi kita memiliki waktu hidup, kita harus memikirkan bagaimana caranya agar peradaban kita bisa lebih baik lagi. Yang penting adalah ibadah untuk hidup, bukan hanya untuk memikirkan mati.

 

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.