BERBAGI
Kantor Desa Landungsari
Kantor Desa Landungsari
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Landungsari, sebuah desa yang berbatasan langsung dengan Malang. Tidak banyak yang tahu jika dahulu Desa yang punya ikon terminal antar kota itu adalah desa kuno.

Desa yang secara administratif berada di Kecamatan Dau Kabupaten Malang ini terletak pada ketinggian 540-700 meter dari permukaan laut. Dulunya adalah hutan belantara yang sangat lebat. Kemudian ada tokoh yang melakukan babat alas untuk menjadikannya sebagai perkampungan atau desa.

Wilayah yang dibuka pertama menjadi Dusun Bendungan, nama tersebut diberikan karena Bendungan adalah sebuah wilayah yang sangat subur karena dilalui oleh dua buah sungai. Dari sungai itu dibendung agar alirnya bisa digunakan untuk sawah pertanian.

Babat alas kemudian meluas ke wilayah utara dengan kampung yang bernama Rambaan, kemudian diteruskan atau ‘ngelandungno’ babat alas ke selatan. Tambah meluasnya wilayah biasa disebut dengan landing sehingga kampungnya diberi nama Klandungan.

Akhirnya orang tersebut meninggal dan dimakamkan di dusun Klandungan, dan sebagai tetenger makam tersebut dinamakan Makam Ki Ageng Mbah Doko Wono. Sampai saat ini tidak diketahui secara jelas dari berbagai sumber asal usul Ki Ageng Mbah Doko Wono tersebut, keluarga dan kerabatnya. Karena hanya ditemukan di cerita dan prasasti makam, sementara catatan sejarahnya belum ditemukan.

Pada Februari 2016 lalu, ada versi lain dari Dusun Klandungan. Hal ini tidak lepas dari ditemukannya sebuah peninggalan atau situs yang diperkirakan berasal dari abad ke-11. Menurut Adi Cahyono sejarawan dari Universitas Negeri Malang, pada masa silam dari situs adalah bekas sebuah pemukiman yang bernama Wuradungan. Di sana ditemukan pecahan gerabah, batu bata kuno, batu pandas, dan batu kali yang digunakan sebagai pondasi rumah.

Penggalian situs di Klandungan, Landungsari (Foto: Kompas)
Penggalian situs di Klandungan, Landungsari (Foto: Kompas)

Dari prasasti yang bertarikh 1120 Saka (1198) Masehi, dikatakan jika daerah tersebut adalah tanah perdikan (sima atau swatantra) yang diberikan rakai Pamotoh yang bernama Dyah Limpa kepada warga setempat seluas 4 jong di timur pasar Desa Wurandungan.

Rakai adalah penguasa watak (distrik) Pamotoh yang atas nama raja Kadiri menganugerahkan tanah kepada sejumlah desa, termasuk Wurandungan. Rakai Pamotoh Dyah Limpa saat itu berkedudukan di Gasek, yang sekarang masuk wilayah Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang.

Sementara itu, nama Desa Landungsari yang merupakan gabungan dari tiga dusun Dusun Rambaan, Dusun Bendungan, dan Dusun Klandungan masih belum diketahui darimana berasal. Namun, ketika bersih desa, sesepuh menyatakan jika Landung sama dengan panjang, sari adalah inti atau madu, dan dapat diartikan panjang penggalihe, punjung rejekine.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.