BERBAGI
pengamatan burung dengan binokuler
pengamatan burung dengan binokuler | Foto Instagram @malangeyeslapwing
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Apa yang ada dibenak anda ketika mendengar tiga kata berikut Malang Eyes Lapwing. Mungkin anda sudah familiar dengan kata ‘Malang’ dan ‘eyes’. Namun, bagaimana dengan ‘lapwing’?

Sebelum mengenal lebih jauh apa itu ‘lapwing’ mari ketahui dulu apa Malang Eyes Lapwing itu. Malang Eyes Lapwing merupakan suatu kelompok studi burung liar alias burung yang berada di habitat aslinya dibawah naungan jurusan Biologi Universitas Negeri Malang.

Kembali ke pertanyaan di awal, ‘apa itu lapwing?’.

Lapwing merupakan Trulek Jawa, burung endemik jawa yang katanya sudah punah. Lapwing sendiri diambil dari nama inggris Trulek Jawa, Javanese lapwing.”, ungkap Nurul Hikmah, sekretaris Malang Eyes Lapwing.

Dapat dikatakan, Malang Eyes Lapwing ini adalah kelompok yang berisi para pengamat burung liar. Tujuannya yaitu agar tidak ada lagi burung endemik yang punah seperti Trulek Jawa.

Munguk Loreng yang berhasil diabadikan
Munguk Loreng yang berhasil diabadikan | Foto Instagram @malangeyeslapwing

Dibentuk oleh tiga orang yaitu Heru, Nugroho, dan Zania dimana ketiganya merupakan mahasiswa Biologi angkatan 2006 Universitas Negeri Malang dengan konsentrasi Botani. Pembentukannya ini berawal dari pemikiran mereka selepas mengikuti lomba di Universitas Mataram pada tahun 2010 yang mana saat itu di Malang masih belum ada kelompok serupa.

Kegiatan rutin dari kelompok yang terbentuk pada 5 Mei 2010 ini yaitu pengamatan. Lokasinya pun berbeda-beda disesuaikan dengan kesibukan kuliah para anggotanya. Beberapa lokasi yang pernah dituju yakni Cangar dan Pantai Kondang Merak. Tak jarang, pengamatan juga dilakukan secara bersama-sama dengan komunitas Seriwang (Serikat Birdwatcher Ngalam).

Hasil pengamatan ini berupa foto burung-burung yang ada di habitatnya. Biasanya, foto-foto ini dipamerkan dalam rangka untuk mengenalkan ke masyarakat bahwa burung-burung yang ada di Indonesia itu sangat elok. Bahkan, ragam keelokannya ini mampu menarik pengamat burung asal Jepang. Yang disayangkan oleh para pengamat burung asal Jepang tersebut adalah keindahan burung-burung dan ragam biodiversitas yang tinggi di Indonesia tak diimbangi dengan kepedulian masyarakatnya.

Kini, kelompok berakun instagram @malangeyeslapwing ini sudah beranggotakan sebanyak 50 orang. Para alumni pun kerap bergabung dengan kelompok ini saat melakukan pengamatan. Tak jarang, merekalah yang menjadi instruktur saat pengamatan.

gelaran pameran burung yang ada di lingkup Universitas Negeri Malang oleh Malang Eyes Lapwing
gelaran pameran burung yang ada di lingkup Universitas Negeri Malang oleh Malang Eyes Lapwing | Foto Instagram @malangeyeslapwing

Peralatan utama yang mendukung selama pengamatan yaitu binokuler dan buku catatan. Binokuler untuk menjangkau pandangan yang jauh dan buku catatan untuk mendata burung. Buku catatan disini biasanya memuat nama burung, lokasi dan waktu ditemukan, dan hal yang sedang dilakukan burung tersebut.

Tak berarti pengamatan serta pendataan burung berjalan selaras. Terkadang, peralatan yang dimiliki kurang memuaskan untuk memotret burung yang berada di ketinggian. Selain itu, ragam burung yang diamati juga tak menentu. Ada kalanya menemukan burung yang jarang ditemui di daerah tersebut. Hal ini juga berlaku sebaliknya, burung yang dulu banyak dijumpai kini tak terlihat lagi.

Diharapkan kedepannya tetap ada kelompok pengamat burung maupun komunitas sejenisnya yang semakin produktif. Disamping itu juga untuk semakin menyadarkan masyarakat betapa pentingnya kelestarian burung dan biodiversitas itu sendiri.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.