BERBAGI
Tiga mahasiswa UB beserta Tersomineum buatannya
Tiga mahasiswa UB beserta Tersomineum buatannya | Foto merdeka.com
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Indonesia terkenal sebagai negara agraris. Negara agraris adalah negara yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani. Sebutan ini sudah selayaknya berbanding lurus dengan jumlah padi yang dihasilkan. Namun, apa mau dikata, impor beras masih banyak dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan di negara ini.

Melihat kondisi tersebut, riset-riset di perguruan tinggi pun selalu dilakukan. Salah satunya adalah riset yang dilakukan oleh mahasiswa universitas Brawijaya.

Tiga mahasiswa Teknik Mesin UB bernama Siti Amalina Azahra, Achmad Syafi’udin, dan Dimas Eko Prasetyo membuat alat untuk meningkatkan produktivitas padi dengan memanfaatkan frekuensi kicauan burung yang disebut tersimeniom.

Mereka menciptakan alat ini setelah menemukan penelitian Dr. Dan Carlson dari Australia. Hasil riset tersebut menyatakan bahwa frekuensi burung dapat memengaruhi lebar stomata atau mulut daun yang terbuka.

Umumnya, maksimal lebar stomata yang membuka adalah sekitar 1 x 10-4 mm saja. Semakin lebar stomata, maka semakin besar juga hasil fotosintesis yang dihasilkan. Beberapa hasil fotosintesis yaitu oksigen dan karbohidrat. Sehingga, bulir padi yang dihasilkan akan semakin meningkat.

Berdasarkan hal tersebut, tiga mahasiswa ini mengharapkan para petani padi di Indonesia kelak mampu memenuhi permintaan beras di negara sendiri. Salah satunya dengan alat yang telah mereka buat.

Sebetulnya, alat serupa sudah beredar di Australia. Namun, alatnya masih besar lagi mahal. Disana, alat tersebut dijual dengan tambahan pupuk yang menjadi satu paket. Dirasa kurang cocok diterapkan di Indonesia, maka dibuat modifikasinya. Selain mudah dibawa, harganya juga murah.

Tersimeniom terdiri dari beberapa komponen elektronik, kabel, speaker, dan dua buah baterai kecil yang dirangkai dalam satu kotak berbentuk seperti radio. Suara yang keluar adalah suara berfrekuensi 3000-5000 Hz. Rentang ini merupakan rentang frekuensi kicauan burung, khususnya burung kutilang. Suara ini dapat didengar manusia atau audiosonik. Sebab, getaran frekuensi yang dapat dibengar oleh manusia adalah 20 Hz–20.000 KHz.

Penggunaan alat ini yaitu dengan meletakkannya di dekat padi selama dua jam per hari secara rutin. Untuk hasil yang lebih optimal, alat dipasang pada pukul 08.00-10.00 dan 15.00-17.00. Sebab, pada jam-jam tersebut temperatur udara relatif rendah. Sehingga dapat mencegah agar penguapan zat hara tidak berlebihan.

Secara uji laboratorium di jurusan Biologi, FMIPA, UB, diperoleh hasil bahwa selisih lebar perubahan stomata yang membuka adalah sebesar 2,0 µm setelah tersimeniom diaplikasikan. Yaitu yang semula 3,8 µm menjadi 5,8 µm. Selain itu, bulir padi yang sejumlah 16 bulir per tanaman dapat meningkat menjadi 27 bulir per tanaman. Dalam uji lab. yang dilakukan selama dua minggu ini tidak didapati adanya pengaruh yang terjadi pada tinggi tanaman.

Jangkauan alat berukuran 5 x 12 x 20 cm yang dapat dilengkapi dengan tripod ini masih relatif dekat, yaitu dalam radius 7 meter. Untuk memperluasnya, masih dilakukan pengembangan lebih lanjut. Salah satunya dengan penambahan penguat frekuensi agar frekuensi dapat diperkuat lagi ketika sudah mencapai titik lemahnya.

Harapannya alat ini dapat digunakan untuk seluruh petani di Indonesia. Sehingga dapat meninimalkan angka impor beras dari negara lain. Juga, alat yang meraih juara I dalam Pekan Inovasi Mahasiswa Pertanian Indonesia (PIMPI) 2016 ini akan dapat membantu kesejahteraan para petani kecil.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.