BERBAGI
mepe pari dan tim
MEPE PARI dan tim | Foto koleksi tim MEPE PARI
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Karya-karya produksi mahasiswa teknik memang patut diandalkan. Salah satunya yaitu MEPE PARI. MEPE PARI merupakan kepanjangan dari Mesin Perontok Gabah Padi Tenaga Surya.

Mesin tersebut diciptakan oleh empat mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang yaitu Nur Kholiq dan Robby Wijaya (Pendidikan Teknik Otomotif 2014), Teguh Dewangga (Pendidikan Teknik Otomotif 2013), dan Abdur Rohman (Pendidikan Teknik Informatika 2012). Mereka membuat mesin perontok gabah ini dibawah bimbingan Drs. Imam Sudjono, M.T. selaku ketua lab. Mesin FT UM.

Alat yang dibuat pada tahun 2016 ini memiliki prinsip kerja yaitu mengubah energi cahaya matahari menjadi energi gerak. Energi gerak itulah yang dimanfaatkan untuk merotokkan gabah padi.

Cara kerjanya yaitu energi radiasi matahari diserap dan dikonversi menjadi listrik oleh solar cell. Dari solar cell, banyaknya arus dan tegangan yang mengalir ke aki diatur oleh charger controller. Nantinya, energi yang ada di dalam aki tersebut yang dapat memutar motor listrik dan perontok padi.

Komponen alat penyusun mesin yang telah melalui uji kinerja di lab. Mesin FT UM ini terdiri dari solar cell (50 WP/24 V/3.5 A), charger controller (10 Ah), baterai (24 V/30 A), motor listrik (24 V/2 A, 1000 rpm, 48 Watt), perontok (250 rpm), rangka baja, kipas dengan motor DC, dan pully.

Dari hasil penerapan yang telah dilakukan di kecamatan Munjungan, Trenggalek, diketahui ada peningkatan hasil daripada menggunakan cara konvensional. Pada alat konvensional akan dihasilkan panen sebesar 57 kwintal/hektar, produktivitas 65 kg/jam, dan waktu perontokan padi selama 7 hari/hektar.

tampak mesin MEPE PARI
tampak mesin MEPE PARI | Foto koleksi tim MEPE PARI

Sedangkan jika menggunakan MEPE PARI, hasil panen meningkat menjadi 62.13 kwintal/hektar, produktivitas menjadi 250 kg/jam, dan lama panen dapat dipersingkat menjadi 5 hari/hektar saja.

Selama pengerjaan, tentu ada kendala yang sempat dialami.

“Untuk beberapa komponen mesin itu kita buat sendiri karena di pasaran memang tidak ada. Medan tempuh lokasi pengaplikasian MEPE PARI di Trenggalek juga cukup sulit. Untungnya alat kami dapat dibongkar pasang.”, ungkap Teguh Dewangga, salah satu anggota tim.

Meskipun sudah ada yang menggunakan mesin modern, namun kendalanya ada pada biaya. Ada biaya yang dikeluarkan untuk membeli bahan bakar mesin tersebut. Sehingga pengeluaran produksi akan bertambah dan dirasa belum efektif.

Dengan adanya MEPE PARI ini, proses perontokan padi menjadi lebih efisien dan biaya operasional dapat menurun. Juga karena mesin ini tidak membutuhkan perawatan yang rumit. Hal ini dapat membantu para petani untuk mengatasi besarnya biaya dan efisiensi kerja yang masih menggunakan cara konvensional.

Tim berharap saat mesin sudah diproduksi massal, dapat dimanfaatkan juga oleh para petani di Malang. Sebab, lahan pertanian  Malang yang juga tak sedikit.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.