BERBAGI
Guru Besar Universitas Brawijaya Malang, Prof. Dr. Aulanniam, drh. DES saat menerima penghargaan dari Kemenristek
Guru Besar Universitas Brawijaya Malang, Prof. Dr. Aulanniam, drh. DES saat menerima penghargaan dari Kemenristek
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Guru besar Universitas Brawijaya kembali menorehkan prestasi dari hasil penelitian yang dilakukan. Salah satunya adalah Prof. Dr. Aulanni’am drh. DES. yang menemukan vaksin kontrasepsi.

Vaksin yang diteliti perempuan asal Tuban tersebut diklaim lebih baik dibandingkan alat kontrasepsi biasa karena tidak menimbulkan efek samping. Penggunaannya pun tidak oleh perempuan saja melainkan juga untuk laki-laki. Jika untuk perempuan olehnya dinamakan vaksin zona pellusida-3 (ZP3) makan yang laki-laki dinamakan vaksin inhibin.

Saat ini berbagai macam alat kontrasepsi yang beredar yang dimasukkan ke tubuh seperti spiral, pil, ataupun suntik dinilai tidak tepat sasaran. Karena ketika dipakai, akan berdampak pada perkembangan fisiologi hormon yang tidak stabil. Tidak jarang pemakainya akan mengalami kegemukan atau hipertensinya juga naik.

Di sisi lain, alat kontrasepsi kehamilan yang ada sekarang berlakunya hanya tiga bulan saja. Sedangkan vaksin temuan dari Aulanni’am tersebut bisa menahan kehamilan hingga tujuh bulan.

“Secara fungsi sama untuk menahan kehamilan, tetapi efek samping dan penggunaannya berbeda, vaksin ini reversible (tidak banyak perubahan) dan tidak menyebabkan patologis (sakit) di saluran reproduksi wanita. Vaksin kontrasepsi ini pun sudah diujicobakan pada hewan Makaka vesicularis (monyet) karena ada kesamaan antara mamalia dan manusia,” tegasnya.

Dirinya menjelaskan jika alat kontrasepsi yang dia temukan ini berupa protein. Kerjanya, protein tersebut mengenali molekul zonal pellusida atau protein di luar sel telur. Sehingga membuat sel telur tidak laki mengenali sperma laki-laki.

Sedang dari vaksin inhibin cara kerjanya adalah melemahkan sperma laki-laki. Protein tersebut juga menganggu proses spematogenesis (proses pembuatan sel sperma).

“Untuk inhibin ini masih belum sempurna, masih diujicoba,” tegas sosok yang mengaku melakukan penelitian bersama Prof Sutiman B Sumitro yang juga Guru besar Universitas Brawijaya dari Fakultas Biologi.

Aulanni’am sendiri adalah dosen peneliti yang sangat andal dari UB. Beberapa penelitiannya diakui kelasnya di Indonesia ataupun dunia. Beberapa kali dirinya menerima penghargaan dari hasil penelitiannya ini, yang terbaru dia mendapatkan penghargaan dari Kementerian Riset dan Teknologi RI berupa temuan diagnostic kit dini penyakit diabetes mellitus. Penemuan ini tercatat dalam 19 karya Unggulan Teknologi Anak Bangsa.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.