BERBAGI
bagian relief parthayajna di candi jago
bagian relief parthayajna di candi jago | Foto http://singosari.info
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Melanjutkan cerita mengenai relief-relief yang terdapat dalam candi Jago, yakni pada relief Parthayajna. Singkatnya, relief ini mengisahkan tentang perjalanan Arjuna menuju Gunung Indrakila untuk bertapa dan bertemu dengan dewa. Hal ini ia lakukan dalam rangka melawan Kurawa yang telah menguasai istana.

Saat itu ketika Pandawa dan Kurawa saling berjudi dadu. Hal ini sesuai dengan  cerita dari relief Mahabarata di candi Jago. Dalam perjudian tersebut diceritakan bahwa Pandawa kalah sehingga harus menyerahkan seluruh hartanya. Pandawa pun akhirnya pergi menuju hutan dengan membawa serta ibu mereka yaitu Kunti, juga Drupadi, serta para Punakawan.

Pandawa tak menyerah begitu saja. Di hutan, tempat mereka mengasingkan diri, mereka merencanakan taktik untuk melawan Kurawa. Mereka pun memutuskan untuk melawan Kurawa dengan bantuan para Dewa. Untuk mendapatkan bantuan tersebut, seorang yang berangkat dari mereka, Arjuna harus melakukan tapa brata di gunung Indrakila.

Gunung Indrakila dipilih karena disanalah tempat para dewa berada. Lokasi gunung Indrakila adalah di jajaran gunung Semeru. Sebelum berangkat, Arjuna berguru terlebih dahulu kepada penasihat rohani Pandawa mengenai tata cara melakukan tapa brata. Untuk melakukannya, Arjuna terlebih dahulu juga harus menemui mahaguru ajaran dan praktek Siwadharma, Rsi Dwipayana.

Dalam perjalanan menuju gunung Indrakila, Arjuna bertemu dengan dua pertapa perempuan. Arjuna pun menceritakan maksud perjalanannya dan disambut baik oleh pertapa tersebut. Mereka menjelaskan bahwa daerah yang sedang didatangi Arjuna tersebut adalah daerah pertapaan Wanawati. Pertapaan tersebut didirikan oleh Mahayani, seorang wanita dari kalangan bangsawan.

Arjuna pun menghadap Mahayani. Disana, Mahayani memberi bekal kepada Arjuna. Salah satunya yakni mengenai halahayu. Halahayu adalah kejadian baik dan buruk yang pasti akan selalu dialami manusia. Jika manusia tersebut dikuasai oleh rajas dan tamas, maka akan muncul perbuatan jahat. Arjuna pun harus belajar menguasai emosinya terlebih dahulu agar kejadian yang sudah pernah dialami keluarganya tak terjadi lagi.

Setelah menemui Mahayani, Arjuna terus melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan tersebut, Arjuna bertemu dengan Dewi Sri yang merupakan dewi pelindung istana Indraprastha. Disana, Dewi Sri meramalkan bahwa Arjuna akan menerima senjata untuk dapat kembali ke istana dari Hyang Kirata. Sama halnya dengan Mahayani, Dewi Sri juga memberi bekal terhadap Arjuna. Arjuna diberi tahu mengenai musuh dalam hati manusia yang harus dilawan. Untuk dapat bebas dari musuh-musuh tersebut, manusia harus taat kepada siapa yang menciptakan mereka semua yang ada di dunia ini.

Perjalanan pun berlanjut hingga akhirnya Arjuna bertemu Kama dan Ratih, dewa dan dewi asmara. Disana, Kama meramalkan bahwa Arjuna akan tinggal di surga dan Kama pun menunjukkan jalan ke gunung Indrakila dengan pertapaan rsi Dwipayana di sisi timur laut. Untuk kesana pun tidak mudah, Arjuna harus melawan Nalamala. Nalamala adalah raksasa berkepala tiga, yaitu kepala raksasa, kepala gajah, dan kepala garuda. Hanya ada satu cara untuk mengalahkannya yaitu dengan  meditasi Siwa (nala cintyamani).

Ternyata benar apa yang dikatakan Kama, dalam perjalanannya, Arjuna harus berhadapan dengan kelompok raksasa dengan Nalamala pemimpinnya. Arjuna pun mempraktekkan saran Kama untuk melawan dengan nala cintyamani. Pasukan Nalamala pun mundur dan mengancam untuk nanti kembali beradu kekuatan dengan Arjuna.

Hingga sampailah Arjuna ke tempat Rsi Dwipayana. Disana, Rsi Dwipayana mengajari Arjuna cara untuk memperoleh pembebasan dengan bantuan dewa. Setelah kira-kira satu tahun melakukan tapa brata, Arjuna pun mendapatkan senjata yang diberikan oleh Hyang Kirata atau Siwa seperti yang diramalkan Dewi Sri.

 

sumber : tri widodo, portal garuda, ngalam

 

 

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.