BERBAGI
Kapten Laut Albert Warokka
Kapten Laut Albert Warokka
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Mendengar nama Albert Warokka, mungkin saat ini hanya beberapa orang tertentu saja yang mengenalinya. Atau mungkin langsung teringat dengan sebuah gedung yang beralamat di Jl. Menari No. 66 Malang, gedung PPAL Rayon Malang.

Sebenarnya, Albert Warokka adalah salah satu pahlawan yang gugur dalam perang laut pertama Indonesia. Perang tersebut berlangsung pada Maret-April 1946 di selat Bali. Saat itu, armada laut RI berpusat di Malang.

Putra dari Yohanes Warokka dan Armini ini bergabung dengan Tri laut X Banyuwangi pada masa kemerdekaan tahun 1946 dengan gelar kapten laut yang ia peroleh dari Sekolah Tinggi Pelayaran di Semarang.

Diketahui, Kapten Laut Albert Warokka dan pasukan berangkat ke Bali pada 3 April 1946. Mereka berlayar menggunakan tiga perahu nelayan, yaitu jukung, mayang, dan telapak.

Dalam operasi tersebut, ada tiga tim pasukan yang selain Kapten laut Albert Warokka masih ada I Gusti Ngurah Rai dan Kapten Markadi. Yang mana masing-masing pasukan mereka mengarah pada posisi laut yang berbeda. Peran Kapten Laut Albert Warokka yakni memimpin Operasi Lintas Laut Banyuwangi Bali di pantai utara Bali.

Sebelum melakukan taktik, pastinya dilakukan persiapan yang matang, termasuk lokasi pendaratan yang aman. Sehingga Kapten Markadi mengirimkan empat tim intelejen untuk mengumpulkan informasi. Informasi yang dibutuhkan antara lain kondisi geografis, kondisi sosial politik masyarakatnya, lokasi yang aman untuk pendaratan, kekuatan masyarakat, dan rute patroli pasukan Belanda.

Untuk melancarkan aksinya, pada H-1, Kapten Markadi mengirimkan beberapa anak buahnya ke Bali. Mereka ditugaskan untuk memandu pendaratan pasukannya. Pemanduan lokasi pendaratan yang aman itu dilakukan dengan cara memberikan kode berupa api yang berbentuk segitiga.

Kapten Laut yang lahir di Malang, 15 Juni 1925 ini dan pasukan mendarat di pantai Celukanbawang, Bali. Sesampainya di daratan, mereka melakukan penghadangan terhadap pasukan Belanda yang sedang berkonvoi di jalan raya. Kala itu, mereka bersama para pemuda Bali berperang melawan pasukan belanda untuk merebut wilayah Seririt.

Dirasa kekurangan senjata, maka mereka memutuskan pergi ke Banyuwangi untuk mengambil senjata. Dalam perjalanan menuju Banyuwangi, perahu yang ditumpangi Kapten Laut Albert Warokka berpapasan dengan perahu patrol Belanda.

Terjadilah peperangan disana. Dua perahu yang membawa Kapten Laut Albert Warokka beserta 15 orang pasukannya terseret arus dan tenggelam. Tidak ada yang selamat termasuk Kapten Laut Albert Warokka. Kecuali dua orang yang diketahui selamat adalah I.G.M. Wijono dan Kamdi.

Kapten Laut Albert Warokka (tanda X putih)
Kapten Laut Albert Warokka (tanda X putih)

Setelah kejadian tersebut, giliran tim I Gusti Ngurah Rai dan Makardi yang memenangkan pertempuran melawan Belanda. Saat itu, tim yang dipimpin Makardi berpapasan dengan dua kapal angkatan laut Belanda berjenis LCM (Landing Craft Mechanized) yang berpatroli.

Terjadi pertempuran dan merasa dalam keadaan terjepit, dilemparkanlah dua buah granat ke arah kapal LCM tersebut. Hanya satu kapal Belanda yang melanjutkan perjalanan ke Gilimanuk meskipun dalam keadaan dek dan lambungnya terbakar.

Pertempuran tersebut, disinyalir adalah pertempuran laut pertama setelah kemerdekaan dimana angkatan perang Indonesia yang memenangkannya.

Atas jasanya, nama Kapten Laut Albert Warokka selain diabadikan sebagai nama gedung tapi juga nama jalan. Diantaranya di belakang gedung DPRD Banyuwangi, dekat pintu masuk Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Lawang, Malang.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.