BERBAGI
Warga Tionghoa di Malang Punya Wayang Orang Ang Hien Hoo (C) MERDEKA
Warga Tionghoa di Malang Punya Wayang Orang Ang Hien Hoo (C) MERDEKA
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Kelompok wayang orang Ang Hien Hoo di awal era setelah Indonesia merdeka cukup terkenal di Malang. Mereka merupakan kelompok wayang orang yang dimainkan oleh warga Tionghoa yang ada di Malang.

Wayang orang Ang Hien Hoo ini cukup menarik lantaran sebagai kesenian yang kental dengan budaya Jawa, tapi dimainkan oleh mereka yang berasal dari etnis Tionghoa. Hal inilah yang jelas-jelas membedakan kelompok wayang orang ini dengan kelompok wayang orang lain pada umumnya. Pada masa jayanya, jumlah pemain wayang orang kelompok Ang Hien Hoo ini mencapai 90 personil. Meski sebagian besar anggotanya beretnis Tionghoa yang kebanyakan tinggal di kawasan Pecinan, namun sejak kecil mereka sudah mengenal budaya lokal dengan baik karena lahir di tanah Jawa. Mereka mampu membawakan berbagai jenis musik, tarian, dan tembang Jawa dengan baik.

Nama Ang Hien Hoo bermula dari sebuah organisasi sosial bidang kematian yang muncul di Jalan Laksamana Martadinata No. 70, Kelurahan Kotalama, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Bermula dari organisasi tersebut, akhirnya mereka menghimpun diri untuk berlatih pada tahun 1957. Pada saat itu, awalnya kelompok kesenian ini hanya memainkan alat musik tradisional Jawa secara bersama-sama. Mereka masih menyewa alat-alat musik tersebut. Seiring berjalannya waktu, kemudian mereka melengkapi pertunjukannya dengan tarian dan tembang Jawa hingga akhirnya menjadi kelompok wayang orang.

Kala itu, latihan rutin dilakukan di aula gedung perkumpulan sosial Ang Hien Hoo. Tak hanya latihan, kelompok ini juga sesekali melakukan pertunjukkan yang menjadi hiburan bagi masyarakat Malang. Tak disangka, aksi Ang Hien Hoo banyak digemari oleh masyarakat kota ini. Menariknya, karena memang berawal dari organisasi sosial, kelompok ini tidak mencari keuntungan dengan memungut tiket di setiap pertunjukan yang mereka gelar.

Kelompok wayang orang dengan latar belakang personil yang tidak umum ini cukup terkenal di tingkat Jawa Timur. Bahkan nama Ang Hien Hoo terdengar sampai ke telinga Presiden Sukarno. Pada tahun 1962, Presiden Sukarno pun mengundang kelompok wayang orang ini untuk tampil di Istana Merdeka. Presiden memberikan apresiasinya kepada kelompok ini karena penampilan mereka yang bagus. Pujian juga diberikan atas upaya dan kemauan kelompok ini untuk melestarikan kesenian lokal.

Sayang, kelompok wayang orang ini tidak bertahan lama. Konflik negara di tahun 1965 menyeret nama Ketua Ang Hien Hoo kala itu, Siauw Giok Bie. Konflik itu pun memaksa Ang Hien Hoo mengganti nama organisasi menjadi Panca Budhi. Tragedi tahun 1965 itu mengakibatkan nama organisasi Tionghoa begitu dihindari dan budaya-budanyanya dilarang ditampilkan. Bahkan bukan hanya budaya Tionghoa saja, budaya Jawa yang dimainkan masyarakat Tionghoa seperti wayang orang Ang Hien Hoo ini pun turut merasakan imbasnya. Pamor kelompok kesenian mereka pun surut dan perlahan namun pasti, sejumlah kesenian tradisional menghilang karena sudah tak ditampilkan lagi. Ada anggapan kala itu, bahwa kesenian rakyat erat hubungannya dengan faksi tertentu.

Kini Ang Hien Hoo hanyalah menjadi bagian dari cerita kejayaan etnis Tionghoa di Malang. Yang menjadi pelajaran utamanya, tentu bagaimana upaya masyarakat Tionghoa di Malang mengakui sekaligus menjadikan diri mereka lebih “Jawa” dibanding orang asli ketika berkesenian.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.