BERBAGI
pintu masuk terminal Arjosaridan area penjualan tiket
pintu masuk terminal Arjosaridan area penjualan tiket
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Sejak Februari 2017, masyarakat sudah dapat menikmati fasilitas-fasilitas baru di terminal Arjosari. Wajah baru terminal Arjosari ini nampak lebih rapi, tertata, dan tentu lebih luas daripada sebelumnya.

Pembenahan-pembenahan yang ada disini antara lain pada shelter bus, jalur menuju shelter bus, ruang tunggu, papan keterangan bilingual yang berbahasa Indonesia dan Inggris serta penunjuk lokasi lengkap dengan simbol gambar, seragam para arter dan pedagang asongan, posko pengaduan, dan lokasi penjualan tiket.

Dimulai dari bagian depan terminal yang didominasi oleh warna biru putih ini, calon penumpang akan disambut dengan area penjualan tiket. Di area ini, terdapat enam loket dengan PO (Perusahaan Otobus) bus yang berbeda-beda. Selain itu, di sisi kiri depan terdapat posko informasi/pengaduan terminal Arjosari Malang. Di seberangnya, terdapat toko makanan dan minuman. Namun, meskipun hanya satu ruang, anda tak perlu khawatir karena di dalam terminal masih banyak toko-toko serupa.

Masih di area yang sama, tepatnya di bawah papan bertuliskan ‘MALANG KOTA INDAH’ terdapat monitor berisikan jadwal kedatangan dan keberangkatan bus yang ada di terminal kelas A ini.

Berlanjut ke area dalam terminal, anda akan menjumpai perempatan. Perempatan ini merupakan persimpangan yang mempertemukan jalur dari arah pintu masuk, pintu keluar, kedatangan penumpang, dan keberangkatan penumpang. Tak perlu bingung lagi sebab sudah disediakan papan penunjuk arah yang menggantung dan berdiri di persimpangan.

Jika mengambil jalur ke pintu keluar, maka akan bertemu dengan terminal angkutan kota. Sedangkan jalur sebaliknya, adalah jalur kedatangan penumpang. Sepanjang jalur ini merupakan jalur bagi penumpang yang baru tiba di terminal Arjosari.

Sebelum terminal Arjosari direvitalisasi, jalur ini terbagi menjadi dua fungsi. Yaitu kedatangan dan keberangkatan penumpang. Sebab, keberangkatan bus-bus juga berada di area ini.

Namun, sekarang sudah tidak lagi, jalur ini nampak sepi dari teriakan para awak bus yang memberitahukan jurusan bus yang dibawanya. Kursi-kursi tunggu yang ada di jalur ini pun tetap tidak diubah.

shelter bus eksekutif Surabaya dan Probolinggo-Jember
shelter bus eksekutif Surabaya dan Probolinggo-Jember

Satu jalur sisa yang baru difungsikan secara penuh adalah jalur keberangkatan penumpang bus. Jalur keberangkatan penumpang ini jaraknya memang lebih jauh daripada sebelumnya. Sepanjang jalur ini terdapat banyak kursi tunggu yang berjajar menghadap ke arah kedatangan bus. Di belakang ruang tunggu ini terdapat food court.

Untuk menuju shelter bus, calon penumpang harus melewati jalur yang naik turun. Sebab, para penumpang diarahkan langsung ke jalur-jalur bus yang akan dinaikinya. Penumpang harus naik ke lantai dua dan turun sesuai dengan rute bus yang dituju.

Total ada lima jalur naik turun yang harus dilewati untuk sampai di shelter bus. Sesampainya di lantai dua, terdapat papan yang berisikan delapan jalur keberangkatan yang ada. Selain itu, juga sudah dilengkapi papan jalur keberangkatan di setiap jalur turun menuju shelter bus.

Tidak hanya fasilitas fisik yang berubah, tapi juga pada para arter bus dan pedagang asongan. Kini mereka sudah dilengkapi dengan seragam.

Pedagang asongan mengenakan seragam warna biru dengan bagian belakang bertuliskan ‘IKATAM’ yang berwarna kuning dan di bagian depan terdapat nomor identitas pedagang. Sedangkan para arter mengenakan seragam dominan warna hitam. Di bagian belakang seragam, terdapat tulisan ‘Arter Terminal Arjosari’. Berbeda ketika bus sudah keluar dari terminal, pedagang asongan yang naik ke bus tidak berseragam.

Selain itu, beberapa tahun belakangan, para penumpang bus yang menuju atau keluar dari terminal Arjosari ini akan berhadapan dengan seorang yang meminta sumbangan. Hal ini dilakukan dengan membagikan stiker Arema ke seluruh penumpang terlebih dahulu. Mereka berdalih bahwa itu bukan pemerasan tapi meminta sumbangan seikhlasnya dengan timbal balik dua lembar stiker Arema yang berbeda desain.

Hal tersebut bisa menjadi keuntungan bagi penumpang yang mengidolakan klub sepak bola Arema atau sekedar tanda pernah singgah di Malang. Sebab, dua lembar stiker tersebut bisa didapatkan dengan membayar seikhlasnya. Namun, tidak demikian dengan bagi orang yang rutinitasnya menggunakan tranportasi bus melewati Arjosari. Tentu hal tersebut bisa mengganggu kenyamanan penumpang.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.