BERBAGI
Sejak 1958, Ahmad Tabi'in Hidupi 11 Anak dengan Jual Gulali (C) SURYA MALANG
Sejak 1958, Ahmad Tabi'in Hidupi 11 Anak dengan Jual Gulali (C) SURYA MALANG
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Jika Anda sering berkunjung ke @MX Mall, mungkin sering melihat penjual gulali di lantai bawah. Adalah Ahmad Tabi’in yang sejak tahun 1958 sudah menekuni profesi tersebut.

Di usianya yang memasuki kepala tujuh, badannya masih cukup bugar. Suaranya pun tak bergetar seperti kakek-kakek seumurannya saat manawarkan gulali yang dijualnya. Tubuh renta itu masih sanggup membuat sendiri gulali yang akan dijajakan tiap harinya.

Gulali merupakan sejenis jajanan yang dibuat dari pintalan gula yang dibakar terlebih dahulu. Makanan tradisional seperti ini sudah sangat langka ditemukan di Malang. Mungkin hanya akan muncul setahun sekali dalam ajang Malang Tempo Dulu yang biasanya dihelat ketika Hari Ulang Tahun Kota Malang.

Ada dua macam gulali yang dijual Tabi’in. Pertama, yang berbahan dasar gula putih diwarnai merah dan hijau, sedangkan yang berasal dari gula merah tanpa pewarna. Untuk gulali yang terbuat dari gula putih, biasanya dibentuknya saat adonan masih panas, karena saat kering akan mengeras. Sementara itu, gulali yang dibuat Tabi’in dibentuknya dengan bermacam-macam rupa. Mulai dari bunga, dot, bentuk hati, hingga bentuk bulat seperti permen lollipop.

Tabi’in tinggal di Jalan Ir. Rais 2/18, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Sebelum mendapat tempat berjualan di @MX Mall ini, dirinya menjajakan dagangannya dengan berkeliling kota. Meski areanya tak menentu, yang jelas sekolah-sekolah SD atau TK menjadi target pasarnyanya yang paling ramai.

Di mall tersebut, Tabi’in pun tak bisa berjualan setiap hari. Maka, dipilihlah hari Jumat sampai Minggu untuk menjajakan permen tradisionalnya itu. Kecuali ketika ada even di mall tersebut, barulah Tabi’in diijinkan berjualan selama satu minggu penuh.

Hebatnya, sejak berjualan di tahun 1958, Tabi’in mampu menghidupi keluarga “besar”-nya, yang terdiri dari seorang istri dan 11 anak. Diakuinya, sejak dahulu, pepatah orang Jawa, “banyak anak, banyak rejeki” dianutnya. Tak heran jika selalu ada saja jalan untuk membesarkan ke-11 anak-anaknya, meski harus berjualan keliling kota. Upayanya pun berbuah manis, karena kini, ke-11 anaknya berhasil mentas dan mencari penghidupan masing-masing. Tabi’in pun tetap bersyukur walaupun dirinya tetaplah seorang penjaja gulali, makanan tradisional yang mungkin sedang Anda rindukan untuk sekadar mengobati kangen bernostalgia dengan masa kecil.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.