BERBAGI
Dusun Kendalpayak
Dusun Kendalpayak
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Kendalpayak bisa dikatakan desa kuno di Malang, meskipun jejaknya tidak sebanyak Desa di wilayah Kota Malang, desa ini punya sejarah yang cukup panjang sejak masa Kerajaan Mataram.

Sejarah Kendalpayak dibedakan berdasarkan dusun-dusun yang melingkupinya, ada empat dusun yang ada di sana yaitu Dusun Watudakon, Dusun Cerme, Dusun Kendalpayak, dan Dusun Segaran.

Dusun Watudakon pada masa silan banyak ditemui batu-batu pecahan sisa lampau.
Dusun Watudakon pada masa silan banyak ditemui batu-batu pecahan sisa lampau.

Dusun Watudakon
Dusun ini bisa dikatakan menjadi daerah pertama yang ada di Kendalpayak. Ceritanya berasal dari batu yang berlubang yang dipakai untuk bermain dakon (congklak) oleh keluarga mbok Nyai Cengkaruk Selo – orang yang melakukan babat alas wilayah itu. Nyai Cengkaruk Selo sendiri berasal dari pelarian keraton Mataram.

Keberhasilan dabat alas di Watudakon membuat Cengkaruk Selo memiliki wilayah kekuasaan, diperkirakan di Watudakon ini ada sebuah keraton yang menjadi pusat desa. Hal ini terbukti dengan banyak peninggalan batu dan arca yang kini masih ada meskipun dengan pecahan kaca yang kecil.

Jalanan di dusun Cerme pada masa lampau.
Jalanan di dusun Cerme pada masa lampau.

Dusun Cerme
Menurut cerita turun-temurun dikatakan jika dusun ini dibuka oleh pendatang dari Kerajaan Mataram yang bernama Wira Hadi Wijaya, dia juga membawa tiga orang rekan yaitu Gono Sakti, Jaya Sakti dan Maling Aguno. Keempat orang itu akhirnya melakukan babat alas.

Suatu ketika di Keputrian Watudakon terjadi kemalingan dan yang diambil adalah cermin putri yang terbuat dari emas dan kencana. Pencuri itu berlari ke tempat orang yang sedang babat alas, di sana terjadilah perang tanding antara Maling Aguno dengan pencuri dari malam hingga pagi. Tidak ada yang kalah dalam duel itu, hingga akhirnya Wira Hadi tahu dan dia membantu Maling Aguno untuk memenangkan duel.

Pada hari itulah, akhirnya tempat yang baru saja dibabat itu diberi nama Cerme yang merupakan Bahasa Madura dari Cermin. Setelah dikembalikan ke Keraton Watudakon, Wira Hadi kemudian diberi hak untuk mengelola wilayah itu dan menjadi bagian dari Watudakon.

Foto perayaan Agustus yang diperkirakan di pohon Kendal.
Foto perayaan Agustus yang diperkirakan di pohon Kendal.

Dusun Kendalpayak
Dusun yang juga menjadi nama desa ini dibuka oleh Raden Ayu Nganten Patmini atau juga disebut mbok Kawul seorang petani yang di masa mudanya menjadi penari di keraton Doho Kediri. Nama dusun ini berasal dari pohon Kendal yang rindang (ngrempayak).

Makam dari Mbok Kawul ini merupakan punden tempat nyadren apabila di dusun tersebut sedang dilaksanakan bersih desa atau punya hajat.

Petani di Dusun Segaran
Petani di Dusun Segaran

Dusun Segaran
Dusun ini dinamakan demikian karena wilayahnya pada masa dulu berupa rawa atau danau. Danau tersebut diberi nama Segoro Wurung (laut yang tidak jadi), lokasinya ada di perbatasan desa di sebelah utara dengan kota Malang. Dusun ini pun dinamakan Segaran. Cikal bakal dusun ini dibuka oleh seseorang dari keraton Watudakon yang tidak dijelaskan siapa namanya.

Uniknya di dusun ini pernah ada mitos yang cukup unik, yaitu tidak akan langgeng sebuah keluarga jika berasal dari satu dusun. Diceritakan pula konon Raden Trunojoyo juga pernah bersembunyi di Segaran.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.