BERBAGI
Upacara Ngembak Ghni di Candi Badut | Foto: Instagram @rosarioguntur
Upacara Ngembak Ghni di Candi Badut | Foto: Instagram @rosarioguntur
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Sekitar 5000-an umat Hindu se Malang Raya tumpah ruah di Candi Badut, Karangwidoro, Dau, Malang. Mereka mengakhiri perayaan Nyepi tahun saka 1039 dengan mengikuti upacara Ngembak Ghni. Acara itu dimaksudkan untuk mengakhiri acara Nyepi yang tidak beraktivitas selama sehari.

I Wayan Sunarya sebagai ketua panitia menyatakan jika kegiatan itu dimulai dengan beberapa bagian. Pada pukul 06.00 hingga 08.00 dilaksanakan acara Ida Pandita Memuja dan Prayascita Upakara. Setelah itu ada prosesi tari Renjang dan kemudian dilanjutkan dengan persembahyangan umat Hindu.

Persembahyangan bersama ini menjadi akhir prosesi tersebut. Sebelumnya umat Hindu sendiri saat merayakan Nyepi diawali dengan Melasti, kemudian Tawur Kesanga, Amati Ghni dan diakhiri Ngembak Ghni.

Walikota Malang yang datang kemarin mendapatkan penghormatan yang luar biasa sebagai warga kehormatan. Meskipun beda agama, Putu Moda Arsana sebagai Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) menyebut jika Abah Anton adalah Guru Wisesa karena dirinya adalah pemimpin Malang.

“Selamat bagi warga Hindu yang telah melaksanakan kegiatan hari raya nyepi. Saya melihat ada kebersamaan, dan yang paling penting adalah sesama umat beragam di Malang saling menjaga kerukunan dan hidup sosial karena Malang adalah kota yang punya keberagaman,” ujarnya.

“Nyepi adalah menyerahkan diri setelah melakukan kegiatan di hari yang lalu. Kemudian kini mereka memulai kehidupan yang baru. Semoga perayaan ini menjadi hari kebersamaan bagi umat Hindu dan umat agama lain,”

Putu yang juga mengatakan jika setelah upacara ini diharapkan umat Hindu sudah siap mental menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya.

“Hari Raya Nyepi adalah ajaran leluhur yang luar biasa karena setelah kita menjalani kehidupan selama 364 hari, kemudian ada satu hari kita merenung dan hening untuk melihat ke dalam diri sendiri apa yang pernah dilakukan. Melihat dari hati biasa disebut mulat sariro yang artinya introspeksi diri,” tegas Putu Arsana.

Menurutnya, manusia harus bisa melihat dirinya sendiri, bersyukur kepada Tuhan bahwa kehidupan itu sendiri adalah karunia yang luar biasa dengan tuntutan kehidupan yang juga sudah bermacam-macam.

Introspeksi tidak cukup pada dirinya sendiri, namun juga harus kepada keluarga, Apakah sudah terpenuhi sandang pangan mereka, kemudian introspeksi juga terhadap kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Semuanya harus bisa menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.