BERBAGI
Sejarah Perkembangan Pembangunan Pasar di Kota Malang (C) GREENINGMALANG
Sejarah Perkembangan Pembangunan Pasar di Kota Malang (C) GREENINGMALANG
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Sebelum ‘merdeka’ menjadi kotapraja memisahkan diri dari Karesidenan Pasuruan pada tahun 1914, Malang hanya memiliki satu pasar milik swasta di kawasan Pecinan. Sungguh berbanding terbalik jika dibandingkan dengan keberadaan belasan pasar tradisional dan modern di Malang saat ini. Lalu bagaimana sejarah perkembangan pembangunan pasar di Kota Malang?

Pasar adalah tempat di mana dapat memungkinkan adanya pembeli dan penjual yang saling menukar jenis barang atau jasa dengan menggunakan mata uang tertentu. Dengan berbagai macam jenisnya, pasar berfungsi menjadi salah satu penggerak ekonomi suatu kota. Peran ini yang cukup minim dimiliki Malang ketika masih belum menjadi kotapraja. Hal itu tak lepas hanya adanya satu pasar di kawasan Pecinan.

Pada masa awal menjadi kotapraja, Pemerintah Kota Malang memiliki rencana perluasan pembangunan kota yang terdiri dari tahap 1 hingga VIII. Rencana perluasan pembangunan pasar-pasar sendiri muncul pada Bowplan VI, di mana tersedia lahan 220.901 meter persegi.

Ketika itu sempat terjadi kekhawatiran bergesernya Alun-alun kota yang terlihat dari gejala perluasan daerah pertokoan di daerah utara menuju ke arah Oro-oro Dowo, Kayutangan dan Rampal. Efeknya, pergeseran itu dinilai lambat laun dapat meninggalkan daerah pasar di Pecinan yang bersejarah.

Hal tersebut tidak dikehendaki oleh Karsten sebagai penasehat kota waktu itu. Gejala itu dicegahnya dengan memberikan perhubungan yang lebih baik pada bagian tenggara kota untuk keperluan lainnya yang lebih bermanfaat. Hal itu untuk mengurangi tekanan lalu lintas di daerah baru.

Ide inilah yang menyebabkan munculnya rancangan perluasan kota ke VI, yang dikenal dengan daerah Eilandenbuurt (daerah pulau-pulau). Muncullah jalan-jalan dengan nama pulau, seperti Lombok Weg, Java Weg, Soemba Weg, Bawean Weg, dan lain-lain.

Dalam perkembangan pembangunan kota kali ini konsentrasi Pemkot Malang, selain pada pembangunan daerah pulau-pulau itu, juga pembangunan pasar. Dewan wilayah yang berkedudukan di Pasuruan sempat hendak membangun pasar di daerah Kayutangan, tetapi akhirnya tidak jadi. Mereka lebih memilih mengambil alih pasar di kawasan Pecinan, yang awalya memang milik swasta dan mulai membangunnya pada 1920. Sekarang pasar itu dikenal sebagai Pasar Besar Kota Malang.

Selanjutnya, dibangunlah pasar lainnya di kampung-kampung. Mulai dari Pasar Bunulrejo, Kebalen, dan Oro-Oro Dowo pada tahun 1932. Dua tahun berselang bedirilah Pasar Embong Brantas dan Lowokwaru. Sementara itu Pasar Dinoyo dan Pasar Blimbing dibangun pada Januari 1940.

Sekali lagi, pembangunan pasar di Kota Malang dapat menopang perekonomian kota yang ketika itu baru saja memisahkan diri sebagai kotapraja baru. Dengan adanya pasar-pasar tradisional itu, setidaknya kota bisa mengelola perekonomiannya sendiri.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.