BERBAGI
Bekas tentara Jepang bergabung dalam pasukan elite bernama Pasukan Gerilya Istimewa (PGI) (C) SIPERUBAHAN
Bekas tentara Jepang bergabung dalam pasukan elite bernama Pasukan Gerilya Istimewa (PGI) (C) SIPERUBAHAN
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Malang selatan pernah menjadi basis salah satu pasukan khusus bernama Pasukan Gerilya Istimewa (PGI). Istimewanya, pasukan ini terdiri dari mantan tentara Jepang yang pernah ikut berjuang membela Indonesia dalam melawan penjajah Belanda.

Seorang bekas tentara Jepang yang membantu perjuangan Indonesia bernama Abdul Rachman (Tatsuo Ichiki) yang berkedudukan sebagai penasihat di markas besar TKR (MBT) di Yogyakarta pada bulan Juli 1948 berunding dengan Kolonel Sungkono. Pria yang juga merangkap sebagai penasihat pada Divisi Sungkono di Kediri itu merencanakan untuk mengumpulkan orang-orang Jepang di wilayah Jawa Timur yang sedang tergabung dalam kesatuannya masing-masing. Rencananya, mereka akan dijadikan satu di bawah satu pimpinan dan satu tujuan untuk berjuang melawan Belanda.

Kolonel Sungkono memerintahkan semua anggota kesatuan di bawah kekuasaannya, yang di dalamnya terdapat orang-orang Jepang, untuk bergabung menjadi satu kesatuan baru. Dalam waktu yang singkat, terkumpul lah 28 orang Jepang di daerah Wlingi, Blitar. Dari sanalah, atas inisiatif Arif (T. Yoshizumi) dan Abdul Rachman (T. Ichiki), terbentuk Pasukan Gerilya Istimewa (PGI). Pasukan ini berada di bawah pimpinan Brigade Surachmad, sehingga kemudian terkenal dengan sebutan “Brigade S” dengan komandan pertamanya Arif (T. Yoshizumi) dan wakil komandannya Abdul Rachman (T. Ichiki). Kala itu, karena Arif sedang sakit, Abdul Rachman pun mengambil pucuk pimpinan pasukan.

Pembentukan PGI sendiri bersamaan waktunya dengan pelaksanaan genjatan senjata setelah diadakannya Perjanjian Renville. Meski dalam kondisi ‘damai’, pasukan gerilya masih tetap disiagakan. Untuk mengisi waktu, dilakukan langkah-langkah strategis untuk membagi pasukan menjadi tiga bagian. Masing-masing bagian ditunjuk seorang pemimpin dan petugas untuk masuk ke perkebunan-perkebunan yang ada di sekitar Wlingi. Di daerah tersebut, pasukan berlatih secara mandiri, termasuk mengupayakan mendapat pasokan makanan sendiri. Selain itu, beberapa latihan militer dan gerilya dilakukan, sehingga pasukan tersebut dapat langsung dipanggil ketika nanti sewaktu-waktu dibutuhkan untuk berjuang.

Perispan-persiapan yang dilakukan itu selesai pada akhir bulan Agustus 1948. Pasukan dibagi menjadi dua bagian. Pertama, Komandan Abdul Rachman (T. Ichiki) langsung membawahi 17 orang dari bagian pasukan PGI ke Dampit, Kabupaten Malang. Namun, dalam kelanjutan pelaksanaannya Hasan (T. Tanaka) dengan anggota sebanyak 9 orang justru ditugaskan ke Jawa Tengah. Kedua, Harsono (T. Tanimoto) dengan anggota sebanyak 11 orang diberi tugas di daerah Kediri.

PGI yang ditugaskan di Dampit sebagai induk pasukan memasuki perkebunan dan menggunakan kantor perkebunan (bekas kantor perkebunan Kertodol) sebagai markas. Dari tempat tersebut, mulai disusun lah rencana untuk mengadakan penyerangan ke pos-pos Belanda yang berada di Wajak, yang berbatasan dengan Dampit.

Secara umum, tugas PGI di Dampit adalah mengadakan penyerangan terhadap beberapa pos musuh di daerah Malang Selatan, turut menyelidiki dan membuka jalan serta merencanakan memasuki daerah kantong, membantu pasukan-pasukan yang memasuki daerah kantong, membuat barang-barang atau bahan-bahan perang rahasia untuk kepentingan sabotase dan memberikan senjata kepada pasukan-pasukan yang akan memasuki daerah-daerah kantong. Mereka juga bertugas menyusun jaring pemberitaan ke daerah-daerah yang ditempati tentara musuh, mengadakan propaganda dan penerangan kepada penduduk di daerah kantong, dan membentuk gerilya rakyat dan mengadakan sabotase di daerah kantong.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.