BERBAGI
John C van Dyke kagumi Malang semasa hidupnya (C) MUNIFILES
John C van Dyke kagumi Malang semasa hidupnya (C) MUNIFILES
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Malang, sejak zaman Kolonial Hindia-Belanda memang sudah menjadi primadona bagi orang asing yang sengaja tinggal atau sekadar singgah di kota tersebut. Salah satu bukti kekaguman itu dirasakan seorang sejarawan bernama Johan C van Dyke.

Van Dyke yang hidup di tahun 1861 hingga 1931) merupakan seorang sejarawan seni dan kritikus dari Amerika yang lahir di New Brunswick, New Jersey. Setelah menimba ilmu di Columbia, selama bertahun-tahun ia tinggal di Eropa. Beruntung, sebelum meninggal dunia, van Dyke pernah berkunjung ke Malang, sebuah kota yang dikaguminya. Pengalaman dan kekaguman itu dituangkan pada sebuah buku berjudul ‘Jawa Tempo Doeloe, 650 Tahun Bertemu Dunia Barat 1330-1985’. Berikut ini cuplikannya.

Malang! Orang Eropa manakah yang pernah mendengar nama ini? Brosur atau buku panduan turis mana yang pernah membeberkan kelebihan daerah ini kepada dunia? Dan apa yang diharapkan seseorang dari sebuah kota yang terletak di pedalaman Jawa, yang populasinya 40.000 jiwa, dan 36.000 di antaranya adalah orang Pribumi? Saya pernah mengunjungi kota sebesar itu di Meksiko, Amerika Selatan, Australia, Amerika Serikat dan biasanya saya akan keluar dari kota itu secepat mungkin. Rupanya memang tidak ada alasan khusus mengapa kota-kota itu ada dan kelihatannya tidak ada hal-hal baik yang muncul dari kota seperti Nazareth. Tetapi Malang, yang terletak di kaki bukit di Jawa, adalah cerita lain.

Kota ini berada di lembah luas yang dikelilngi oleh pegunungan tinggi, kota di mana jalan-jalannya yang baik, dengan daun-daun bergelantungan, taman-taman dengan pohon beringin besar, rumah-rumah bagus, halaman rumput, bunga-bunga, serta pemandangan sungai dan jembatan tinggi yang menakjubkan, cuacanya yang baik, dan terakhir (tetapi paling penting bagi para turis) adalah hotel dengan air minum yang baik dan kolam renang yang bagus…

Bangsa Belanda telah membangun kota Malang yang modern dan penduduk Pribumi menghiasnya dengan aneka warna. Di sini seperti di daerah lainnya di Jawa, kain sarong, selendang dan ikat kepala penduduk Pribumi memeriahkan suasana di jalan dan pasar serta membuat seluruh kota menjadi rangkaian pemandangan yang menarik. Duduk-duduk di bawah pepohonan di taman besar (aloun-aloun), melintasi sepanjang jalan, bekerja di penggergajian kayu dan toko pandai besi, mandi di sungai, bersujud di masjid, semua orang Pribumi menampilkan pemandangan yang indah.

Oh! Tentu saja mereka memiliki kekurangan. Jika ada yang bersikeras mengatakan beberapa dari mereka memiliki cara untuk menunda pekerjaan dari hari ke hari dan para wanita mempunyai kebiasaan buruk mengunyah campuran buah pinang dan sirih, tidak ada seorang pun yang akan membantahnya. Namun, pernyataan itu bisa mengingatkan kita bahwa jutaan penduduk Amerika memiliki kebiasaan mengunyah permen karet dan antrian makanan gratis tidak pernah berkurang. Dan tidak pernah ada anugerah keindahan yang dapat dilihat baik dari gadis penjaga toko Amerika maupun pengemis di Amerika…

Bangunan di kota seperti ini tidak begitu saja dibangun kemudian dicat dengan warna yang menarik. Anda bisa menemukan di jalan-jalan, rumah, jembatan, taman dan toko, paling tidak, usaha untuk menyesuaikan bangunan dengan iklim, tanah dan kondisi tropis di daerah itu. Bangsa Belanda, sewajarnya, membawa banyak ide dari Belanda yang sangat cocok untuk dipraktikkan di Belanda, tetapi tidak untuk daerah Jawa. Mereka masih berusaha memahami bahwa bangunan-bangunan modern yang mereka kenal di Belanda, lebih cocok dibangun di Amsterdam dan Den Haag. Namun sejak awal, bahkan di saat mereka masih berusaha membangun istana klasik dari batu bata dan semen, mereka berupaya menyesuaikan dengan kondisi panas setempat. Sejak mula mereka sudah menanam pohon, merencanakan pembuatan taman dan jalan besar dengan barisan pohon, serta membangun saluran air dan jalan raya yang teduh. Semua pondok dan villa memiliki atap lebar, sangat teduh dan dibangun terbuka sehingga memiliki sirkulasi udara yang baik. Ide-ide orang Belanda telah dimodifikasi dan bahkan diubah menjadi sesuatu yang sesuai dengan Jawa.

Pemaksaan ide asing terhadap suatu negeri atau masyarakat selalu menjadi proses yang dipertanyakan. Ide-ide itu biasanya tidak sesuai dan seringkali menemui pertentangan dari penduduk Pribumi hanya karena alasan itu berasal dari luar. Orang Belanda telah belajar dari pengalaman tersebut dan saat ini mereka cenderung menyesuaikan ide mereka dengan kondisi setempat. Mereka melindungi kaum Pribumi dan membiarkan mereka berkembang menurut kemauannya sendiri. Mereka tidak berusaha mengubahnya menjadi seorang Belanda. Bahkan dalam hal sepele seperti pakaian, mereka tidak meminta orang-orang Pribumi untuk mengenakan sepatu, kemeja, dan topi orang Belanda, tetapi justru memperbolehkan mereka untuk bertelanjang kaki dan mengenakan sarong.

Kepercayaan, adat istiadat dan tradisi kaum Pribumi dihormati; hak mereka atas tanah dilindungi, dibantu dalam mengolah pertaniannya serta didengar dalam pemeriksaan perkara legislatif dan politik. Pemerintahan Belanda bisa membuktikan kalau mereka adalah pemerintahan kolonial paling berhasil di era modern sebagian besar mungkin dipengaruhi oleh kebijakan mereka yang liberal dan toleran. Baik Amerika Serikat maupun Inggris dapat belajar banyak dari mereka, jika mereka mau…

Kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan Belanda selama menjalankan pemerintahan di Jawa dan pulau-pulau lainnya tidak perlu dibahas. Faktanya adalah Hindia Belanda ditangani dengan baik, jauh lebih baik daripada daerah koloni mana pun yang ada di peta. Sistem pemerintahan Amerika yang picik di daerah koloninya mungkin bisa mendekati keefisiensian pemerintah Belanda, tetapi mereka mengalami kerugian keuangan. Belanda secara tidak langsung menghasilkan keuntungan dari Pulau Jawa, tetapi mereka membiarkan para penduduk Pribumi ikut menikmati keuntungan itu. Di samping itu, mereka menggunakan kembali jutaan uang untuk mengembangkan negeri itu.

Pemerintah Belanda berusaha membangun pemerintahan yang adil dan setara serta sebuah koloni yang makmur. Untuk memastikan hal itu terwujud, mereka mengakui hak kepemilikan tanah masyarakat Pribumi, memperkenalkan metode irigasi dan pertanian yang lebih modern, melakukan konservasi hutan, mendirikan sekolah dan universitas untuk rakyat Pribumi, membangun kota, jalan dan jembatan, membuka rute transportasi baru dan melakukan seribu satu macam hal untuk memperbaiki kondisi kota-kota kecil serta daerah pedesaan. Hasilnya para penduduk Pribumi memiliki cukup makanan, rumah dan pakaian yang baik, terlihat bahagia dan tampak tentram. Dan Jawa sebagai pulau terindah di antara semua pulau tropis lainnya, dapat memberikan kesenangan tersendiri bagi seorang pengelana. Belanda patut mendapatkan pujian atas semua keberhasilan ini.

Sumber: Jawa Tempo Doeloe, 650 Tahun Bertemu Dunia Barat 1330-1985

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.