BERBAGI
Kantor Desa Poncokusumo (C) MALANGTIMUR
Kantor Desa Poncokusumo (C) MALANGTIMUR
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Keberhasilan serangan ke Desa Pajaran dan Tumpang satu-dua bulan sebelumnya, meningkatkan moral Pasukan Gerilya Istimewa (PGI). Mereka pun semakin semangat melancarkan lagi serangan ke pos-pos tentara Belanda di Malang Selatan. Kali ini serangan mereka menyasar pos Belanda di Poncokusumo.

Pada buku Perjuangan Total Brigade IV, yang dikisahkan oleh Rahmat (Shigeru Ono) dan N. Sugiyama (Sukardi), sejak keberhasilan penyerangan pos Belanda di Desa Pajaran, PGI memilih daerah di sekitar Desa Garotan sebagai pangkalan. Mereka pun punya misi lain sambil menyelidiki berita-berita dari daerah pendudukan. Mereka merencanakan sebuah serangan terhadap pos Belanda di Poncokusumo pada tanggal 16 September 1948.

Keesokan harinya, tanggal 17 September 1948, persiapan penyerangan pun selesai dengan matang. Mulai pukul 23.00, PGI memulai gerakan sesuai rencana yang telah disusun. Satu setengah regu yang dipimpin komandan PGI sendiri menuju ke jalan Pandansari, kemudian menuju Poncokusumo, sebagai kekuatan yang berdampingan. Sementara itu, satu seksi yang dipimpin oleh wakil komandan PGI bergerak ke jurusan jalan pegunungan di sekitar Poncokusumo.

Pada tanggal 18 September 1948, sekitar pukul 03.00, pasukan telah sampai di ujung timur Desa Poncokusumo. Kemudian, komandan PGI memerintahkan satu regu penyelidik untuk masuk ke dalam kampung. Apesnya, di tengah jalan mereka berjumpa dengan seorang penduduk yang sangat dicurigai sebagai kaki tangan musuh. Hal itu mamaksa komandan PGI mengambil keputusan untuk mempercepat aksi penyerangan dengan segera maju untuk memasuki desa.

Setelah kedudukan PGI mendekati pos musuh, mereka stelling, dan pada jarak sekitar 30 meter, serangan pun dimulai. Tembakan dan lemparan granat membuka serangan, terutama Hakoo Bakurai yang dilemparkan tepat sasaran.

Beberapa saat kemudian, tentara Belanda pun melakukan serangan balasan dengan tembakan 12,7 Tekidanto (Mortier 5), Mortier 8, dan Junki Kanjue (senapan mesin berat). Serangan balik tersebut membuat PGI berpencar di bagian depan, belakang, samping kiri, dan kanan pos musuh, sehingga mereka sukses menguasai keadaan.

Di saat demikian, kemudian pasukan inti yang dipimpin langsung oleh komandan PGI memulai serangannya. Mereka melemparkan granat dan menyerbu dengan Keiki Kanjue (senapan mesin ringan) yang dilakukan mendadak dari samping. Serangan berat tersebut membuat pasukan musuh menjadi kocar-kacir. Pasukan PGI yang merasa di atas angin pun berteriak gemuruh untuk merayakan kemenangan mereka.

Selang kurang lebih setengah jam setelah serangan berlangsung, pihak pasukan Belanda terlihat mulai mendatangkan bala bantuan dari jurusan Tumpang. Dengan kondisi demikian, komandan PGI memutuskan untuk menarik pasukan saat memasuki pukul 05.00. Mereka mundur ke pangkalan semula meninggalkan pos musuh di Poncokusumo yang sudah porak-poranda. Terdapat banyak korban di pihak musuh, sedangkan di pihak PGI tidak ada kerugian yang berarti.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.