BERBAGI
ILUSTRASI: Pasukan Resimen Pelopor sebagai cikal bakal Mobile Brigade Besar (MBB) (C) WATUKOSEK
ILUSTRASI: Pasukan Resimen Pelopor sebagai cikal bakal Mobile Brigade Besar (MBB) (C) WATUKOSEK
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Banyak pasukan yang turut merebut kembali Malang dari cengkraman Belanda pada agresi militer pada Juli 1947. Salah satunya adalah Batalyon I Mobile Brigade Besar (MBB) Polisi Jawa Timur yang membuat barikade pertahanan di daerah Tlogowaru, yang sekarang masuk wilayah Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang.

Saat pasukan Belanda menyerang Kota Malang dan mendudukinya, Batalyon I MBB Polisi Jawa Timur dan beberapa batalyon lainnya mengadakan pertahanan di sepanjang Sungai Manten yang membujur dari barat ke timur (arah Desa Krebet). Batalyon I MBB yang dipimpin oleh R. Wirato ini membuat pertahanan di Desa Tlogowaru, perbatasan dengan Kecamatan Tajinan. Mereka sengaja memilih lokasi ini untuk bisa tetap terhubung dengan staf komandonya di Desa Tajinan di sebelah timur posisi mereka berada.

Selama dua bulan lamanya Batalyon I MBB bertahan sambil mengadakan serangan-serangan kecil sesekali terhadap tentara Belanda. Tak mau tinggal diam, tentara Belanda melakukan serangan balik ke pertahanan Kompi Aiptu Surapati di Tlogowaru pada tanggal 10 September 1947. Pertempuran jarak dekat tak bisa terelakkan lagi, sampai-sampai terjadi perkelahian satu lawan satu antar prajurit.

Kompi cadangan yang bermarkas di daerah Buring, tak jauh dari lokasi penyerangan pasukan Belanda segera membantu. Hal tersebut membuat Kompi Aiptu Surapati bertambah kekuatannya, sedangkan pasukan Belanda melemah. Musuh terdesak dan kabur ke arah Kota Malang. Dalam pertempuran ini banyak tentara Belanda yang tewas dan luka-luka. Sementara itu, di pihak Kompi Aiptu Surapati ada 14 orang tentara yang gugur.

Kekalahan pasukan Belanda ini yang diduga melatarbelakangi sebuah serangan berikutnya ke lokasi yang sama di mana Batalyon I Mobile Brigade Besar (MBB) Polisi Jawa Timur melakukan barikade pertahanan, dua bulan setelah peristiwa tersebut. Tepatnya pada tanggal 9 November 1947, sepasukan Belanda yang dikirim dari Pos II keamanan mereka di daerah Kendalpayak, sebelah barat Tlogowaru. Peristiwa besar yang menewaskan AP (Algemeene Politie/polisi umum) I Abdul Rachman, AP I Sukardi, AP II Soebadi, AP II Selo, AP II Ponidjan, AP II Amat, AP II Koesaeri, AP II Diman, AP I Abdil Madjid, AP II Imam, AP II Satelim, Alim (Sipil), Narijah (penduduk), dan Durrakim (penduduk) itu kemudian diabadikan dengan didirikannya Monumen Perjuangan Polri Tlogowaru di perbatasan desa tersebut dengan Desa Genengan.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.