BERBAGI
Tentara Jepang yang kalah dalam perebutan Lanud Bugis dibawa ke Surabaya (C) IPPHOS
Tentara Jepang yang kalah dalam perebutan Lanud Bugis dibawa ke Surabaya (C) IPPHOS
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Di zaman penjajahan Jepang, Kota Malang memiliki Pangkalan Udara (Lanud) bernama Bugis yang berada di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Sempat terjadi upaya perebutan paksa oleh BKR (Barisan Keamanan Rakyat) Malang atas Lanud yang dijadikan markas pasukan Jepang itu.

Begitu dibentuknya KNI dan BKR, banyak pemuda dan rakyat Malang yang mulai melakukan aksi-aksi perebutan kekuasaan atas fasilitas-fasilitas yang sempat dikuasai Jepang. Mereka berusaha menduduki tempat-tempat penting, pusat-pusat kegiatan pemerintahan dan militer. Sasaran pertama adalah markas Kempetai yang berada di Jalan Semeru, Kota Malang. Saat itu pemuda BKR dengan pejuang lainnya, termasuk pelajar dan rakyat mengepung gudang senjata pasukan Jepang tersebut. Awalnya perebutan senjata milik tentara Jepang itu sempat menegangkan, tetapi berakhir dengan menyerahnya Kempetai. Orang-orang Jepang itu pun kebanyakan langsung meninggalkan kantor setelah menyerahkan senjatanya.

Tempat tentara Jepang lainnya yang menjadi sasaran berikut adalah Katagiri Butai. Pengepungan dilakukan oleh rombongan delegasi dipimpin oleh Ketua BKR Malang, Imam Soedja’i. Pengikut rombongan delegasi terdiri dari unsur Peta, sipil, polisi, dan pemuda. Pengambilalihan dan perundingan dengan Katagiri Butai ini berjalan dengan sukses. Akhirnya, dalam perundingan dengan Katagiri Butai kedua belah pihak menyepakati bahwa konsentrasi tentara Jepang hanya di Lebakroto, Malang selatan.

Setelah sukses menguasai Kempetai, sasaran berikutnya adalah Pangkalan Udara Bugis yang saat itu menjadi markas Angkatan Udara Jepang. Lanud Bugis menjadi sasaran penyerangan rakyat dan pemuda yang tergabung dalam BKR. Tanpa perlawanan berarti, seluruh pangkalan beserta fasilitasnya dapat dikuasai pada tanggal 18 September 1945. Mereka berhasil mengambil alih pesawat terbang sebanyak kurang lebih 50 buah dalam keadaan rusak, 20 dalam perbaikan, dan 12 buah pesawat dalam keadaan laik terbang. Ada pula sebanyak 167 pucuk senjata otomatis dari hasil aksi tersebut. Peasawat-pesawat beserta perlengkapannya inilah yang kemudian menjadi modal perjuangan untuk membentuk kekuatan udara Republik Indonesia kala itu.

Keberhasilan tersebut membuat BKR Malang mempunyai bagian penerbangan (Angkatan Udara). Kepala Sekolah Penerbangan Malang, Suhud diangkat sebagai pimpinan BKR Bagian Penerbangan. Lanud Bugis pun dijaga ketat oleh BKR pimpinan Sulam Samsun, mantan Chudancho agar tak direbut kembali oleh musuh.

Untuk sementara, BKR Penerbangan dibantu oleh orang Jepang yang ikut dalam pasukan Indonesia sebagai pelatih terbang. Penyebabnya, jelas karena langkanya penerbang lokal kala itu. Pemuda yang pernah belajar sebagai pilot pada zaman penjajagan Belanda dan berada di Malang, di antaranya adalah dr. Karbol Abdulrachman Saleh, Sulistio, dan Hendro Suwarno.

Panglima Besar Jendral Soedirman pernah mengadakan peninjauan langsung ke Malang bersama Panglima Divisi Jendral Mayor Imam Soedja’i. Rombongan tersebut melakukan inspeksi pula ke Pangkalan Udara Bugis Malang pada Februari 1946.

Ketika BKR diubah menjadi TKR, maka pemerintah pusat mengeluarkan keputusan agar BKR Malang menyerahkan Lanud Bugis berikut pesawatnya kepada AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia). Pada perkembangannya, di Malang didirikan Sekolah Penerbang. Secara kebetulan, Kadet TKR seasrama dengan calon pilot AURI yang bertempat tinggal di gedung bekas Sekolah Menengah Pertama (SMP/Chugakko) Malang.

Setelah berhasil menguasai Pangkalan Udara Bugis, saat itu BKR Malang juga menyerang Angkatan Laut Jepang di Pujon sebagai sasaran terakhir. Mereka pun menggunakan senjata-senjata dari hasil rampasan pada penyerangan di Katagiri Butai, sehingga mempermudah mereka mengambil alih markas Angkatan Laut Jepang di Pujon. Saat itu, disinyalir musuh adalah anggota Angkatan Laut Jepang yang berasal dari Angkatan Laut (Kaigun) basis Surabaya, yang sedang mengisolasi diri di Pujon.

Tentara Jepang diangkut ke Surabaya, April 1946 (Gambar: Ipphos)

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.