BERBAGI
Ogoh-ogoh atau replika raksasa yang ada di ritual satu suro dibakar sebagai simbol membakar keserakahan pada diri manusia. (Foto: YoelSW)
Ogoh-ogoh atau replika raksasa yang ada di ritual satu suro dibakar sebagai simbol membakar keserakahan pada diri manusia. (Foto: YoelSW)
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Keberadaan Pesarean Gunung Kawi sebagai objek wisata religi di Kabupaten Malang memang bukan hal baru. Begitu banyak kisah mistis dan hal-hal yang berkaitan dengan kepercayaan atau kekuatan supranatural di tempat ini. Tak hanya itu, ada pula ritual-ritual yang masih dipegang teguh masyarakat untuk memohon hal tertentu di waktu tertentu pula, salah satunya adalah ritual satu suro.

Sebelum membahas lebih rinci mengenai ritual satu suro, kami akan sedikit mengulas tentang lokasi Pesarean Gunung Kawi yang menjadi tempat berlangsungnya ritual tersebut. Ya, objek wisata religi iniĀ  terletak di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, tepatnya berada di lereng selatan Gunung Kawi. Jarak dari Kota Malang sekitar 38 kilometer, bisa ditempuh antara 1 – 1,5 jam perjalanan menggunakan kendaraan.

Pesarean Gunung Kawi berada di lingkungan pemukiman padat penduduk, layaknya perkampungan di atas bukit yang ramai. Di daerah ini terdapat satu adat istiadat yang masih dijalankan sampai sekarang, mereka menyebutnya dengan ritual satu suro.

Berdasarkan beberapa sumber, ritual ini dilakukan dengan cara melakukan kirab budaya yang atraktif. Pesertanya adalah warga setempat yang berjumlah sekitar 15 kontingen. Tiap kontingen diikuti oleh satu RW.

Hal yang menarik dari adanya kirab satu suroan ini adalah adanya akulturasi budaya. Kirab tersebut menyajikan aneka tarian tradisional, pakaian adat, barongsai, hadrah, dan tontonan menarik lainnya. Seperti yang kita tahu, barongsai adalah salah satu produk budaya masyarakat Tionghoa, dan hadrah lekat kaitannya dengan hal-hal berbau Islami. Tak hanya itu, penamaan ritual itu sendiri pun kurang lebih diambil dari perhitungan kalender Jawa. Jadi, setidaknya kita dapat melihat adanya tiga budaya yang berakulturasi di sini.
Sebagaimana ritual pada umumnya, setiap ritual selalu memiliki tujuan. Ritual Satu Suro ditujukan untuk menyampaikan rasa syukur warga setempat kepada Sang Pencipta alam semesta. Namun, kami belum menemukan rasa syukur terhadap apa sehingga mereka melakukan ritual tersebut.

Puncak ritual ini terletak pada iring-iringan pembawa replika patung buto atau yang lebih dikenal dengan sebutan ogoh-ogoh. Replika patung buto yang cukup besar tersebut pada akhirnya nanti akan dibakar dan disaksikan oleh banyak orang. Pembakaran replika patung buto ini dilakukan sebagai simbol pembakaran nafsu angkara murka yang ada pada sosok manusia.

Tak banyak media yang menjelaskan kapan ritual ini mulai ada di masyarakat setempat. Apakah memang sudah sejak dahulu kala ataukah terbilang baru. Karena ritual satu suro kini bukan sekedar tradisi yang hanya dilakukan dan dikonsumsi oleh masyarakat Gunung Kawi dan sekitarnya saja, melainkan juga diklaim sebagai objek wisata religi di Kabupaten Malang yang dapat dinikmati oleh pengunjung luar daerah bahkan luar kota dan mancanegara.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.