BERBAGI
Tempat ditemukannya Prasasti Penanjakan yang merupakan hadiah dari Hayam Wuruk untuk Desa Walandit (C) intaninchan
Tempat ditemukannya Prasasti Penanjakan yang merupakan hadiah dari Hayam Wuruk untuk Desa Walandit (C) intaninchan
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Hayam Wuruk yang memerintah Kerajaan Majapahit di tahun 1350-1389, pernah dua kali memberikan hadiah kepada warga Desa Walandit, yang terletak di wilayah Penanjakan, Tengger. Peristiwa itu secara gamblang dikisahkan dalam Prasasti Penanjakan (Walandit).

Prasasti berupa lempengan perunggu ini ditemukan secara kebetulan oleh seorang petani wanita di daerah Penanjakan, Desa Wonokitri, Tengger pada tahun 1880. Nama Walandit ini sendiri diambil dari nama desa yang tertera dalam prasasti tersebut. Kini, lempengan prasasti itu tersimpan di Museum Nasional dengan nomor inventaris E28.

Prasasti yang hanya satu lempeng ini, tergurat lima baris tulisan Jawa kuno pada kedua sisinya. Sebagaian besar tulisan pada lempengan prasasti berukuran 29,5 x 7,5 cm ini masih bisa terbaca hurufnya. Hanya pada baris kelima, huruf-hurufnya sulit terbaca lantaran sudah aus. Prasasti Penanjakan merupakan prasasti tinulad (salinan) dari prasasti yang sebelumnya dikeluarkan oleh Sri Paduka Bhatara Hyang Wekas ing Suka (Hayam Wuruk).

Prasati dengan dua angka tahun ini ternyata memperingati dua peristiwa. Pertama, berhubungan dengan larangan untuk menagih titileman (iuran untuk upacara ritual) di desa keramat atau desa terlarang Walandit dan sekitarnya yang terjadi tahun 1303 Saka atau 1381 Masehi. Raja Hayam Wuruk tak memperbolehkan seorang pun memungut pajak di sana. Pasalnya, desa tersebut sejak dulu dikenal sebagai tempat pemukiman bagi para hulun Hyang yang bebas dari segala bentuk pajak karena kesuciannya. Kedua, peristiwa ketika penduduk Desa Walandit dibuatkan sebuah piagam perunggu untuk mengukuhkan perintah Hayam Wuruk sebelumnya, yang terjadi tahun 1327 Saka bulan Asada (21 Juni 1405).

Prasasti Penanjakan terdiri dari dua sisi, bagian depan berbunyi:
1. wruhane kang lakoni hanagih titiloman, ring walandit, yena ndikaningong, de-
2. ne kang deśa hing walandit, mamanggis lili, jebing, kacaba, i rehane luwara dene ha-
3. nagih titiloman, i rehe kang i walandit deśa ilahila, hulun hyangira sang hyang
4. gunung brahma, iku ta hawalora sakwehing wong sakahuban dening deśa i walandit, ta-
5. n katagiha titiloman, ayo tinatab i rehing deśa ilaila kang rajamudra ye-

Sisi bagian belakang berbunyi:
1. n uwus kawaka, kagugana dene kang wong walandit, tithimasa, 5 śirah 3, // i śakakala
2. 1327, asadamasa, tithi, nawamikrsapkaksa, pa, ra, wara, dungulan, irikan diwasanya ri parawa-
3. rgga ri walandit tinambraken rajamudra indikani talam pakanira bhatara hyang wkasing suka, i reha deśa ila-
4. ila hulun hyangira sang hyang gunung brahma, yata kanimi-taning tinambraken dening kabayan made, buyut ….
5. …….

Salinan Prasasti Penanjakan bagian depan adalah sebagai berikut:
1. Hendaklah diketahui oleh mereka yang memungut pungutan pada bulan terang (titileman) di Walandit, bahwa titah kita
2. mengenai daerah Walandit, Mamanggis, Lili, Jebing, Kacaba, sepanjang pembebasan berhubungan dengan
3. pemungut titileman, karena daerah Walandit ialah suatu desa keramat (hila-hila) orang kehiangan, yang memuja gunung keramat yang mulia keramat
4. Brahma (yaitu Gunung Bromo di pegunungan Tengger), sehingga segala orang yang hidup di lingkaran Desa Walandit dilarang
5. dikenakan titileman oleh siapapun juga, dan janganlah menyelidiki lagi hal-hal itu, karena desa itu desa yang keramat. Bahwa inilah

Sisi bagian belakang:
1. perintah raja, dan apabila sudah dibacakan akan dipegang oleh rakyat Walandit. Tertanggal pada bulan ke-5 (Margasira) dalam tahun ke-3. Pada tahun Śaka
2. 1327, dalam bulan Asada, tertanggal pada hari ke-9, ketika bulan sedang turun, pada hari Pahing, Radite (Minggu) bulan pekan Dunggulan (Galungan) pada waktu itulah
3. para warga (rakyat) Desa Walandit membuat piagam loyang berisi perintah raja Sri Paduka Bhatara Hyang Wekasing Suka, oleh karena desa itu adalah desa keramat
4. dari orang-orang kehiangan yang memuja Gunung Brahma yang bertuah. Itulah yang menjadi sebab atau alasan, maka piagam loyang diperintahkan dibuat mereka untuk mereka oleh kebayan Made, buyut …
5. …….

Mungkin sekali kata Kasada (orang Jawa mengucapkan Kasodo) berasal dari kata Asada, bulan keempat dalam kalender Jawa kuno. Kemungkinan mereka mengambil nama tersebut untuk mengabadikan peristiwa penting karena mereka sudah memiliki landasan hukum yang kuat untuk tetap menjalankan tradisi tua mereka, memuja Sang Hyang Gunung Brahma. Agaknya tradisi upacara Kesada (Asadamaśa) berkaitan erat dengan Prasasti Walandit tersebut. Barangkali kewajiban untuk berkorban di Gunung Bromo diteguhkan di dalam prasasti ini. Pengorbanan pada Gunung Bromo dibebankan kepada masyarakat Desa Walandit dan sekitarnya, agar jangan lalai. Sebab jika pengorbanan itu sampai tidak dilaksanakan, masyarakat di sekitar Bromo akan terkena bencana (lahar). Menurut kepercayaan orang-orang Tengger, Gunung Bromo sebagai gunung api diyakini mempunyai tenaga dahsyat yang menimbulkan gempa bumi, semburan api, dan lahar yang mengakibatkan kerusakan di sekitarnya. Upacara Kasodo dimaksudkan untuk menenangkan Gunung Bromo yang bertenaga besar dan menghindari kemurkaan dewa-dewa atau roh-roh nenek moyang yang bertempat tinggal di Gunung Bromo.

Di Jawa prasasti-prasasti abad ke-10 banyak sekali memuat ungkapan Sang Hyang Brahma. Sebutan itu adalah julukan yang ditujukan kepada api suci, salah satu benda pelengkap upacara penetapan sima. Sang Hyang Brahma mendapat sesaji berupa emas dan bahan pakaian. Dalam Prasasti Kembang Arum (824 Saka atau 902 M) ada ungkapan berbunyi “…hyang brahma tumunui ikang kayu sakagegongan“, artinya “…seperti api suci yang membakar kayu segenggaman…”. Jadi, ungkapan Sang Hyang Gunung Brahma sebagaimana Prasasti Walandit dapat juga berarti Sang Hyang Gunung Api, mengingat Gunung Bromo masih aktif sampai kini.

Dalam prasasti itu disebutkan adanya larangan untuk menarik pajak pada bulan titileman atau akhir bulan di Bulan Asada. Larangan itu berlaku untuk lima desa, yaitu Desa Walandit, Mamanggis, Lili, Jebing, dan Kacaba. Epigraf J.G. de Casparis menganggap Walandit terletak di lereng barat Pegunungan Tengger, Desa Wonorejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Desa Wonorejo dulu bernama Blandit. Pada peta topografi lembar XLII 54-D:1918-1923 masih dijumpai sebuah dukuh bernama Blandit, bagian dari wilayah Desa Wonorejo (Casparis, 1940:52). Sementara itu, Desa Mamanggis sekarang diperkirakan bernama daerah Kemanggisan yang terletak di sekitar Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Desa Jebing diperkirakan kini berubah menjadi daerah Jabung, yang juga terletak di Kabupaten Malang.

Sumber:
Dari Pura Kanjuruhan Menuju Kabupaten Malang
Gunung Bromo menurut Sumber Kuno – Trigangga

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.