BERBAGI
Situs Sumur Windhu, petilasan Ken Dedes yang ada di Kelurahan Polowijen (C) NMRNEWS
Situs Sumur Windhu, petilasan Ken Dedes yang ada di Kelurahan Polowijen (C) NMRNEWS
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Kampung Budaya Polowijen merupakan kampung tematik baru yang ada di Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Kampung tersebut didapuk menjadi pintu masuk menuju situs wisata sejarah bernama Sumur Windhu yang merupakan jejak peninggalan Ken Dedes, permaisuri Kerajaan Tumapel (Singhasari).

Sumur yang juga disebut dengan nama lain Sumur Upas itu tepatnya berada di Jalan Cakalang, Lingkungan Watu Kenong RT.03/RW.02 Kelurahan Polowijen. Jika Anda ingin mengunjunginya, gampang sekali, karena berada tak terlalu jauh dari pusat Kota Malang. Dari arah Alun-alun kota, sebelum pertigaan flyover (jika ke kanan menuju ke Terminal Arjosari), silakan belok ke kiri di dekat rel kereta api. Tidak terlalu sulit menemukan lokasi situs yang berada dekat sungai kecil tersebut. Beberapa ratus meter dari sana, Anda akan menemukan papan bertuliskan “Sumur Windhu Ken Dedes”. Tinggal berjalan kaki sebentar melewati sebuah area persawahan atau bisa pula melewati area pemakaman umum, Anda akan sampai di sebuah bangunan kecil berbentuk pendopo. Nah, di bawah pendopo kecil ini terdapat sebuah mata air atau lebih tepatnya sumur kuno yang dinamai Sumur Windhu.

Sayang, Anda tidak bisa melongokkan kepala ke dalamnya, karena memang sumur kuno tersebut saat ini sudah tidak aktif lagi. Entah mata air di dalamnya masih ada atau tidak, yang jelas, ujung atas Sumur Windhu ini sudah ditutup dengan penutup yang terbuat dari semen. Konon, menurut sang juru kunci, seorang wanita berusia sekitar 70 tahun, ada lorong di bawah sumur tersebut. Lorong ini sangat dalam, makanya tak heran jika sumur ini disebut Sumur Windhu yang artinya sumur yang sangat dalam tak berujung. Konon pula, lorong atau terowongan memanjang di bawah sumur itu mengarah ke utara, tepatnya ke Kecamatan Singosari yang dulunya adalah Kutaraja Kerajaan Singhasari. Meski belum ada ahli yang membuktikan kebenarannya, namun masyarakat setempat menyakini hal tersebut.

Diyakini pula, area sumur ini dulunya menjadi petilasan dari Ken Dedes yang konon memiliki betis yang paling indah di zaman Kerajaan Singhasari. Semua tahu bahwa Ken Dedes merupakan ratu kerajaan tersebut yang bersanding dengan Tunggul Ametung, kemudian Ken Arok.

Situs Sumur Windhu ini disebut-sebut sebagai area hunian keagamaan, lantaran banyak ditemukan bata merah, batu umpak (kenong), serta struktur pondasi bangunan di sekitar situs. Kawasan desa ini sendiri diklaim merupakan kampung halaman Ken Dedes, karena Polowijen yang dahulunya bernama Panawijen ini merupakan lokasi berdirinya Kerajaan Purwwa. Kerajaan kecil ini dipimpin oleh seorang pendeta agung agama Budha, Mpu Purwa, yang tak lain adalah bapak di Ken Dedes.

Dalam Kitab Pararaton disebutkan bahwa Mpu Purwa memiliki pertapaan di Setra Panawijen yang merupakan sebuah pekuburan. Alasannya cukup sederhana, karena area tersebut sangat sepi, damai dan tenang, sehingga cocok sebagai tempat tinggal dan pertapaan bagi Brahmana seperti Mpu Purwa. Dalam perkembangannya, daerah ini tetap digunakan sebagai asrama kependetaan agama resi pada zaman Kerajaan Majapahit. Hingga kini pun, tak jauh dari area Sumur Windhu masih difungsikan sebagai pemakaman umum oleh warga setempat. Setelah mengetahui nilai sejarah tersebut, masyarakat desa setempat membangun cungkup dan pagar untuk melindungi situs sumur tersebut, tepatnya pada tahun 2002.

Situs Sumur Windhu juga dilengkapi dengan silsilah Ken Dedes dan keturunannya. Situs ini diduga masih memiliki keterkaitan dengan situs “Joko Lulo” yang terletak di sebelah timurnya, serta lorong bawah tanah yang ditemukan di Kelurahan Polowijen Gang II, yang jaraknya sekitar 800 meter.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.