BERBAGI
Heroine, salah satu distro legendaris yang masih bertahan hingga kini di Malang (C) RECLUSEPLAN
Heroine, salah satu distro legendaris yang masih bertahan hingga kini di Malang (C) RECLUSEPLAN
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Deretan nama Distribution Outlet, atau yang biasa disebut Distro, pernah ada di Malang Raya. Kini, distro legendaris itu ada yang masih eksis, namun tak sedikit pula yang sudah gulung tikar.

Distro biasanya mendistribusikan berbagai barang gaya hidup anak muda di Malang, utamanya fashion, dan juga aksesoris, buku, musik, dan sebagainya. Dikutip dari blackflag.staff.ub.ac.id, dalam perkembangannya, distro sempat menjadi semacam pusat-pusat subkultur tandingan ala anak muda, seperti sub kebudayaan punk/hardcore/metal/indie pop, dan lain-lain. Alasannya cukup simpel, karena di distro memungkinkan adanya banyak pertemuan dan berkumpulnya pikiran-pikiran kreatif dengan segala ide-ide segar ala anak muda. Meski kini sudah tidak banyak distro yang dapat merepresentasikan sumber atau pusat kecil subkultur tandingan, rasanya sejarah perkembangannya masih layak untuk dibicarakan.

Beberapa nama distro legendaris di Malang ada yang merangkak dari nol, kemudian menjadi besar, ada yang bertahan, ada pula yang lantas menghilang tanpa jejak. Distro-distro tersebut memiliki peran yang dirasa cukup signifikan dalam perkembangan subkultur cutting edge/underground di Malang. Dalam tulisan yang pernah diunggah Yasmeen di laman yang sama, disebutkan beberapa nama Distro dan brand yang pernah berjaya di Malang, bahkan ada pula yang masih eksis hingga saat ini.

Nitro shop
Distro yang berdiri pada awal tahun 2000-an ini berlokasi di pusat Kota Batu. Tepatnya, terletak di dalam Plaza Batu. Yasmeen menyebut Nitro sebagai semacam youth sub-culture center di Batu kala itu. Mereka menjual berbagai pakaian dan hal-hal keren yang kemungkinan besar tidak ada di tempat lain. Di awal berdirinya distro ini memang tengah menjamur brand-brand skate/surf seperti Hook Ups, Toy Machine, Volcom, Independent, Think, Bitch, dan lain-lain. Nitro menyediakan baju dan aksesoris brand-brand tersebut. Meski bisa dipastikan tidak original tentunya, namun kualitasnya tergolong bagus. Di zaman itu, brand-brand tersebut di atas masih menjadi sesuatu yang langka alias ekslusif.

Selain clothing, Nitro juga menyediakan kaset-kaset rilisan independen, vcd, majalah musik, patches, pins, dan aneka pernak-pernik independen lainnya. Yang cukup laris di distro tersebut adalah majalah Ripple dan Trolley yang sekarang ini diklaim telah menjadi semacam legenda sub-kultur Indonesia.

Yasmeen menyebut Nitro kemudian menjadi kekuatan penggerak sub-kultur yang cukup baik di Batu saat itu. Nitro mensponsori banyak acara underground yang kerap diadakan di GOR Ganesha Batu, yang secara tidak langsung memfasilitasi perkembangan band-band underground di kota tersebut. Hingga akhir masa hidupnya pada sekitar 2005-2006, Nitro terus mendukung banyak kegiatan sub-kultur, bukan hanya di Batu, namun juga sampai Kota Malang. Bahkan, hal itu membuat Nitro bisa disebut sebagai salah satu distro terbesar di daerah Malang Raya.

Di kemudian hari, Nitro menjelma menjadi brand Heroine. Brand ini juga memiliki komitmen kuat untuk mendukung sub-kultur independen, meski dalam bentuk yang mungkin sedikit berbeda dengan Nitro.

Smash Shop
Smash merupakan sebuah toko kecil di daerah Kawi, tak jauh dari pusat Kota Malang. Berbeda dari Nitro yang juga menyediakan brand-brand skate/independent clothing, Smash lebih mengkhususkan diri untuk menyediakan rilisan-rilisan independen dan merchandise band underground. Yasmeen menyebut Smash menjadi semacam pusat berkumpulnya scenester underground Kota Malang yang cukup bervariasi, mulai dari anak metal, hardcore, hingga punk. Sayang, distro ini umurnya tidak bisa lama, hanya sekitar dua tahun. Namun, dalam masa aktifnya itu, Yasmeen menyebut Smash telah menjadi faktor penting pendorong perkembangan sub-kultur underground Kota Malang.

Red Cross
Distro yang berada di kawasan Dinoyo ini muncul pada tahun 2005/2006. Yasmeen menyebut Red Cross menjadi salah satu distro dalam gelombang awal demam distro di Kota Malang kala itu. Mereka menyediakan pilihan clothing yang cukup berbeda, yang tidak ada di tempat lain. Selain itu, distro ini juga menjual berbagai rilisan independen dari Bandung/Jakarta. Distro ini sempat memproduksi media zine Solid Rock, yang bertahan hingga beberapa edisi, dengan bonus CD dalam beberapa edisinya.

Rock Bandits
Rock bandit ini berdiri ketika Smash Shop tengah terpuruk. Yasmeen menyebut distro ini berhasil mengisi kekosongan ‘the loudest distro in Malang’ ketika Smash Shop vakum. Dari distro ini lahirlah nama-nama band dari bagian utara Kota Malang, seperti Primitive Chimpanzee, Antiphaty, Mobster, dan Jet Adore. Sebagai brand yang lumayan punya nama di Malang, Rock Bandits pernah menghasilkan desain t-shirt, dompet dan aksesoris lainnya yang cukup fenomenal.

Libertarian
Distro ini dikelola secara kolektif oleh para penggiat punk Malang yang memiliki banyak wacana komprehensif tentang ide-ide underground, khususnya yang berbau anarkisme. Libertarian menyediakan banyak sekali zine, rilisan underground, dan merchandise band independent. Distro ini sempat mati suri, dan membuka bisnis di Batu beberapa saat, sebelum akhirnya benar-benar tutup.

Selain distro-distro yang telah dibahas dalam artikel karya Yasmeen tersebut sebenarnya masih ada beberapa nama lainnya, seperti Hyena dan Hyena/Smash. Ada pula nama Revolver dan Inspired yang kemudian menjadi besar dan masih bertahan sampai hari ini.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.