BERBAGI
Salah satu murid membidik objek di luar ruangan
Salah satu murid membidik objek di luar ruangan
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Matahari tepat diatas ka’bah (istiwa a’dhom) menjadi momentum yang tepat untuk para umat Islam pelurusan arah kiblat kembali. Pada tahun 2017, peristiwa ini jatuh pada tanggal 28 Mei dan 16 Juli.

Momentum yang istimewa ini tentu tak dilewatkan oleh para pegiat astronomi kota Malang. Berlokasi di SMA Negeri 5 Malang, diadakan acara pelurusan arah kiblat.

Istiwa a’dhom pada tanggal 28 Mei jatuh pada pukul 16.18 WIB. Sebelum praktik pelurusan arah kiblat dimulai, para peserta dibekali oleh materi penentuan arah kiblat terlebih dahulu.

Dr. Chatief Kunjaya, M.Sc. memberikan materi di depan peserta
Dr. Chatief Kunjaya, M.Sc. memberikan materi di depan peserta | Foto oleh Agus Yasin

“Tentang penentuan arah kiblat dengan cara hisab”, jawab Sabrina Ainun, salah satu murid kelas XII saat ditanya mengenai materi yang disampaikan di kelas.

Peserta yang terdiri dari para murid, guru SMA Negeri 5 Malang, dan anggota Malang Astronomy Club (MAC) antusias menyimak materi yang disampaikan oleh Dr. Chatief Kunjaya, M.Sc. Total sekitar 50 orang peserta ini memenuhi salah satu kelas program bahasa milik SMA yang beralamat di Jl. Tanimbar No.24, Kasin, Klojen, Kota Malang ini.

“Hari ini bertepatan dengan matahari yang sedang melintasi zenith (titik atas) kota Mekkah. Kalau yang perhitungan dengan hisab dihitung dengan segitiga bola”, ringkas siswi yang telah diterima menjadi calon mahasiswa S1 Astronomi ITB 2017 ini.

Di samping kelas yang digunakan untuk materi, sudah disediakan satu teleskop. Penempatan teleskop ini berada di salah satu pojok kelas samping jendela. Posisi ini sangat tepat untuk bisa menangkap objek jauh diluar. Mengingat lingkungan SMA Negeri 5 Malang nampak rimbun dan berdekatan antar gedung.

Para peserta antusias menyimak materi yang disampaikan Dr Chatief Kunjaya, MSc
Para peserta antusias menyimak materi yang disampaikan Dr. Chatief Kunjaya, M.Sc. | Foto oleh Agus Yasin

Juga karena cuaca kota Malang saat itu sedang mendung dan hujan, teleskop diletakkan di dalam ruang kelas. Selain itu, karena faktor cuaca jugalah praktik pelurusan arah kiblat tidak dapat dilakukan.

Sebagai gantinya, para peserta diberi kebebasan untuk berdiskusi mengenai teleskop dan peristiwa astronomi lain sembari menunggu waktu berbuka puasa.

Para siswa dan guru mengaku senang dengan terselenggaranya acara ini. Namun, yang disayangkan cuaca sedang tidak mendukung pengamatan.

“Kalau tahun-tahun kemarin dari sekolah cuma ada pengamatan bulan, belum ada acara seperti ini”, terang siswi berkacamata ini.

Meskipun begitu, kegiatan ini dapat dilakukan kebali pada saat matahari kembali melintas tepat diatas Ka’bah, yaitu pada Juli mendatang.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.