BERBAGI
Tradisi nyusur di beberapa daerah disebut dengan istilah nginang, menyirih, dan lain-lain. Tradisi ini bertujuan untuk memperkuat gigi. (Foto: Johny Siahaan)
Tradisi nyusur di beberapa daerah disebut dengan istilah nginang, menyirih, dan lain-lain. Tradisi ini bertujuan untuk memperkuat gigi. (Foto: Johny Siahaan)
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Budaya leluhur di nusantara memang sangat unik dan beragam. Salah satu yang masih ada rekam jejaknya adalah tradisi nyusur. Tradisi yang ditujukan untuk memperkuat gigi ini juga masih ada di Malang.

Tradisi nyusur sebenarnya tersebar merata di nusantara. Beda daerah beda pula istilahnya. Ada yang menyebutnya menyirih, ada pula yang menyebut gamping mati, pinang, tembakau, gambir, dan nginang. Namun untuk masyarakat tradisional di Malang, tradisi ini lebih dikenal dengan istilah nyusur.

Nyusur atau nginang adalah kegiatan mengunyah sirih dengan gambir dan disusur dengan tembakau. Tradisi ini merupakan tradisi turun temurun dari nenek moyang pada zaman dahulu dengan tujuan untuk memperkuat gigi. Saat itu, belum ada pasta gigi dan sikat gigi seperti saat ini.

Konon, budaya ini masuk ke Asia Tenggara pada abad ke-6 Masehi. Dibawa oleh para pedagang dari India yang melakukan perjalanan ke Asia Tenggara, terutama Indonesia. Wilayah di Indonesia yang masih cukup kental dengan budaya ini adalah Pulau Jawa.

Berdasarkan pengamatan dan informasi dari beberapa sumber, tradisi nyusur hanya dilakukan oleh kaum wanita di zaman dahulu. Saat ini pun yang melakukannya hanya nenek-nenek. Entah mengapa hanya wanita yang melakukan tradisi nyusur. Mungkin saja selain untuk memperkuat gigi, nyusur juga sarat dengan tujuan untuk menunjukkan kecantikan seorang wanita pada masa itu.

Semakin hari, budaya ini semakin memudar di kalangan masyarakat. Terlebih lagi saat masyarakat mulai mengenal pasta gigi dan sikat gigi serta obat antiseptik yang mampu membunuh kuman dalam mulut. Jadi, tradisi nyusur semakin jarang kita jumpai di zaman sekarang ini.

Hanya saja, di beberapa daerah pedesaan di Malang masih terdapat beberapa nenek yang sudah renta masih melakukan tradisi nyusur. Salah satunya di Desa Kapurono, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang.

Tidak ada hari khusus dalam melakukan tradisi ini. Biasanya, nyusur dilakukan usai makan. Jadi, jika seseorang makan sebanyak tiga kali dalam sehari, maka dia akan nyusur sebanyak tiga kali juga dalam sehari. Nyusur ibarat makanan penutup. Uniknya, sekali melakukan nyusur bisa sampai satu jam lebih. Tertarik untuk mencoba?

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.