Maret 26, 2023
?>
Kawasan Rajekwesi yang dulunya pernah jadi pertempuran pasukan Raden Aria Malayakusuma

Kawasan Rajekwesi yang dulunya pernah jadi pertempuran pasukan Raden Aria Malayakusuma

Setelah pertempuran di Gunung Mandaraka, Raden Aria Malayakusuma yang pernah menjabat sebagai Bupati Malang memutuskan meninggalkan wilayahnya bersama dengan seluruh keluarga dan pengawalnya. Mereka menuju ke Wulu Laras di mana Malayakusuma menyangka Pangeran Singasari dan Raden Mas masih bersembunyi di sana.

Alhasil, ketika Tropponegro dan Gondelag bersama pasukan mereka memasuki Malang, wilayah yang seperti kota mati itu pun dapat diduduki dengan mudah. Namun, mengetahui bahwa Malayakusuma sudah ‘kabur’, antek Belanda itu pun berang. Dari mata-mata yang dikirim, mereka mendapat informasi yang mengabarkan bahwa Malayakusuma kini berada di Wulu Laras. Tanpa pikir panjang, Tropponegro segera memimpin 186 prajurit Eropa, 500 prajurit Madura, dan 1.600 prajurit Surabaya, Bangil, dan Pasuruan menuju tempat yang dimaksud. Sementara itu, Letnan Gondelag tetap berada di Malang dengan 47 prajurit Eropa dan 1.000 prajurit Surabaya untuk mempertahankan kota dari kemungkinan serangan balasan dari kubu Malayakusuma.

Rombongan pasukan Letnan Hounold dari Jeruk Wangi juga menuju Antang untuk mendukung Tropponegro. Di wilayah Sultan Mataram, terdapat para prajurit Jawa di bawah pimpinan Tumenggung Wirasaba, dan di Panaraga juga terdapat beberapa prajurit di bawah pimpinan Raden Adipati Martadiningrat, yang juga diharapkan dapat membantu perburuan Malayakusuma tersebut. Sultan sendiri menjamin bakal mencegah Malayakusuma dan anak buahnya memasuki wilayahnya dan jika dibutuhkan pasukannya siap dikirim keluar untuk bergabung dengan kekuatan koalisi Belanda.

Sayang sekali, begitu sampai di Wulu Laras, Tropponegro yang tidak menjumpai satu pun musuh pun dibuat kecewa. Menurut kabar, Malayakusuma telah mundur sebelum Belanda datang. Jejaknya terekam pada satu-satunya jembatan di atas Sungai Lembal yang telah dirusak untuk menghalangi gerakan Belanda dan pasukannya. Kekesalan itu dilampiaskan Belanda dengan membunuh 17 orang perempuan dan anak-anak karena mereka menolak menunjukkan ke mana Malayakusuma dan orang-orangnya melarikan diri.

Meski demikian, serangan mendadak Belanda ke Wulu Laras tidak bisa dibilang percuma, sebab di tempat itu Tropponegro berhasil mengumpulkan keterangan bahwa Raden Mas, anak Pangeran Singasari, sedang bersembunyi di Tuntang, dekat Sungai Kampas di Rajegwesi (sekitar wilayah Batu). Ia pun langsung memutuskan untuk membawa pasukannya untuk melakukan penyerangan ke Rajegwesi di mana Raden Mas berada. Sementara itu, Gondelag sengaja ditinggal untuk mencari informasi keberadaan Malayakusuma yang diperkirakan akan pergi menuju wilayah Sultan.

Tropponegro tiba di Batu pada tanggal 9 Oktober 1767 dan langsung membangun benteng pertahanan. Sebelum melanjutkan perjalanan menuju Rajegwesi, pimpinan prajurit Madura, Kacamanggala, dan orang-orangnya dikirim untuk mencari jalan terpendek menuju Rajegwesi. Namun, mereka kembali dengan tangan kosong, lantaran menemui banyak jebakan yang dibuat oleh Raden Mas dan pasukannya. Jebakan berupa batu-batu besar di atas pohon itu dibuat di sepanjang jalan menuju Lodalem. Hal tersebut kembali membuat Belanda geram, karena dipaksa untuk membersihkannya.

Akhirnya, dengan mengerahkan 500 prajurit Madura dan 36 Eropa, Tropponegro menyerang posisi Raden Mas di Rajegwesi. Setelah bertempur selama beberapa jam, Rajegwesi dapat dikuasai, meski sebagian besar pemberontak pimpinan Raden Mas berhasil kabur ke arah selatan. Raden Mas yang hanya memiliki 60 pasukan, tidak mampu mempertahankan markasnya. Setelah menguasai Rajegwesi, sebuah benteng kecil didirikan Tropponegro dan memutuskan bertahan di sana selama delapan hari untuk mengumpulkan perbekalan bagi prajuritnya.

Di sisi lain, Letnan Hounold bersama dengan 46 prajurit Eropa dan 200 prajurit Jawa memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Rajegwesi dengan maksud mendukung Tropponegro melawan Raden Mas. Namun, mereka gagal mencapai Rajegwesi karena tidak mampu mendaki perbukitan. Lalu, ia pun menarik pasukannya pada tanggal 17 Oktober, usai mendengar bahwa Rajegwesi telah dikuasai rekannya.

Setelah jatuhnya Rajegwesi ke tangan Belanda, Raden Mas pergi ke selatan dan bergabung dengan para pemimpin pemberontak lainnya, seperti Tumenggung Antang, Wongsanagara, Mas Pangulu, dan Jayakusuma. Mereka memperkuat pasukan dengan 2.000 prajurit kavaleri. Mereka hendak berjalan kembali ke timur menuju Malang untuk mengambil alih kota tersebut. Pada tanggal 18 Oktober, Hounold menerima kabar bahwa para pemberontak yang terkurung di wilayah Sultan telah kembali ke Malang. Mereka memperkirakan Raden Mas dan Prabujaka berada di Samperak, di sebelah utara Lodalem. Sementara itu, Malayakusuma dan Tirtanagara dilaporkan berada di Sambigeger, barat daya Samperak. Hounold lantas memerintahkan pasukannya untuk memotong jalan menuju Malang dan menyerang Malayakusuma dan saudaranya di tempat itu. Sementara itu, bala bantuan datang dari Bupati Kediri yang berjanji untuk menuju Samperak menyerang Singasari dan Raden Mas.

Pada tanggal 3 November, pasukan koalisi Belanda berjalan dari Sarengat menuju Blitar. Mereka tiba di Pagulungan pada siang hari dan langsung menuju Selagurit pada sore harinya untuk menyerang posisi musuh. Mereka sempat menawan beberapa orang yang dipaksa untuk menunjukkan jalan menuju Selagurit. Tawanan ini berjanji menunjukkan jalan paling mudah bagi prajurit Belanda. Namun, seperti yang telah diduga, mereka justru menunjukkan jalan yang lebih sulit dilalui karena harus melintasi perbukitan, yang terletak satu setengah jam dari Selagurit.

Ketika itu, datanglah Raden Adipati Martadiningrat dari Panaraga dan meminta komandan Belanda mengikutinya, karena ia mengetahui jalan yang lebih baik menuju tujuan mereka. Namun, para tawanan tetap bersikeras bahwa jalan yang mereka pilih adalah jalan yang terbaik ketimbang jalan yang lain, karena ada sungai besar yang harus diseberangi. Sang Adipati memaksa mereka berbelok.

Pada pagi harinya ketika mereka masih berada di perbukitan tersebut, mereka mendengar suara tambur yang sepertinya dibunyikan oleh musuh dan dibalas dengan suara tembakan oleh prajurit Sultan. Kapten Hounold bersama sekitar 12 prajurit Eropa dan satu penembak meriam dan dua boschieter dan hampir 80 prajurit Jawa bersenjata api dan tombak di bawah komando Tirtakusuma, mantri dari bupati muda Sarengat, dengan cepat maju memasuki hutan. Seorang kurir yang dikirim Raden Adipati memberi tahu kapten bahwa tuannya terlibat pertempuran dengan musuh dan mereka kalahk. Tak lama berselang, seorang budak muda Mas Tumenggung Suradirja datang dengan membawa pesan yang menyebutkan tuannya terluka serius. Kemudian, Raden Adipati pun datang beserta beberapa bupati dan mengatakan bahwa Raden Mas Tumenggung Sudirja telah terbunuh.

Asisten Helmond dan Kapten Hounold mengamati medan perang, sambil memperkirakan posisi musuh. Selang beberapa menit, mereka melihat serombongan orang di bawah pimpinan Raden Mas, dan dari kejauhan Raden Adipati berteriak kepada sang Kapten bahwa orang yang tidak menggunakan payung berwarna kuning adalah Raden Mas. Kapten Hounold tidak merespon, dan justru mundur untuk menyiapkan serangan mortir. Terlambat, karena tidak lama kemudian Raden Adipati datang dan mengatakan bahwa musuh telah mundur.

Dalam laporan pertempuran yang dibuatnya untuk Gezagghebber, Hounold mengakui bahwa ia tidak menyadari musuh sangat kuat. Pasalnya, Raden Mas saat itu didukung oleh Tumenggung Wongsanagara, dan anggota keluarga Raden Aria Malayakusuma yang lain, seperti Mas Pangulu dan Jayakusuma, bersama 2.000 prajurit kavaleri. Dengan kekuatan sebesar itu, mereka yang dikepung oleh prajurit Sultan terpaksa menceburkan diri ke sungai. Akhirnya banyak di antara mereka yang tenggelam sia-sia. Di antara berondongan tembakan mortir, Raden Mas melarikan diri ke ayahnya Prabujaka di Kalijingga. Prajurit Susuhunan tak mampu menangkapnya. Namun, ia kehilangan sekitar 25 prajurit terbaik yang ditangkap bersama 1.000 ekor kerbau, 200 kuda, senjata api, bubuk mesiu, dan sejumlah besar tombak dan keris.

Dalam pertempuran itu, Belanda berhasil pula menangkap tiga orang pemimpin dan tiga orang prajurit infanteri bersama dengan tiga olas, sementara sisanya melarikan diri. Raden Mas dan pasukannya dikabarkan melarikan diri menuju Kalijingga, Sarengat.

Pada tanggal 5 Oktober, Bupati Wirasaba dan Kediri memotong jalan ke Sarengat. Sementara itu di Antang, Tropponegro dan prajuritnya malah terserang wabah penyakit. Beberapa prajurit Eropa di Jerukwangi juga terkena sakit mendadak. Mereka yang dibutuhkan untuk mempertahankan Kediri malah mati satu persatu karena kekurangan obat-obatan.

?>