BERBAGI
Tradisi Lebaran tempo dulu di Malang (C) EKO
Tradisi Lebaran tempo dulu di Malang (C) EKO
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Suasana Hari Raya Idul Fitri di Malang tak kalah syahdu seperti di kota-kota lainnya. Jika Anda penasaran seperti apa dan bagaimana suasananya, mungkin foto-foto lebaran tempo dulu berikut ini bisa sedikit banyak mengungkapkannya.

Foto-foto tersebut diunggah akun Eko Yunianto dalam sebuah grup facebook bernama Mengingat Malang (MM). Eko sendiri selaku kontributor tetap foto-foto tempo dulu di grup tersebut. Tercatat ada tiga foto lebaran jadul yang diunggah Eko pada 24 Juni, pukul 7.56 pm.

Persamaan dari ketiga foto tersebut adalah tradisi sungkeman yang selalu melekat dalam suasana lebaran tempo dulu di Malang. Tradisi ini memang biasa dilakukan anak-anak yang lebih muda kepada mereka yang lebih tua di Hari Raya Idul Fitri. Tradisi itu tetap terjaga dan selalu dilakukan dan dilestarikan hingga kini. Tak hanya antar sanak saudara, tradisi itu dilakukan antar sesama tetangga.

Tradisi Lebaran tempo dulu di Malang (C) EKO
Tradisi Lebaran tempo dulu di Malang (C) EKO

“Lebaran dari jaman dulu sampai sekarang identik dengan yang namanya sungkeman yang lebih muda meminta maaf dengan yang lebih tua..begitu juga dengan saling jabat tangan antar tetangga untuk saling memaafkan…..selamat hari raya idul fitri 1438H ..minalaidin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin…,” tulis Eko di caption foto-fotonya.

“Orang dulu” memang memiliki keluarga besar dengan jumlah anggota keluarga yang banyak. Sebab, mereka punya filosofi “Banyak anak, banyak rezeki”. Tak heran jika dari satu pasang kakek-nenek saja bisa menghasilkan banyak cucu yang dihasilkan dari banyak anak pula. Banyaknya anggota keluarga ini sudah bisa dipastikan bakal meramaikan suasana Lebaran.

Tradisi Lebaran tempo dulu di Malang (C) EKO
Tradisi Lebaran tempo dulu di Malang (C) EKO

Biasanya, kakek-nenek atau siapa saja yang paling tua atau dituakan dalam keluarga duduk sebagai poros sungkeman. Kemudian, anggota keluarga berjajar ke belakang dari yang paling tua hingga yang termuda. Secara bergilir, membentuk ular-ularan memanjang, mereka sungkem kepada yang paling dituakan tadi. “Kepala ular-ularan” yang biasanya adalah saudara paling tua kemudian duduk di sebelah kakek-nenek untuk kemudian disungkemi oleh mereka yang secara struktur keluarga lebih muda. Begitu seterusnya hingga habis.

Sayang sekali, dalam ketiga foto sungkeman jadul yang diunggah Eko, pria tersebut tak menyebutkan keluarga siapakah mereka yang ada di dalam foto. Lokasi dan waktu pengambilan foto hitam-putih itu juga tak disebutkannya secara detil. Eko hanya menyebutkan, itu adalah foto suasana lebaran tempo dulu di Malang.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.