BERBAGI
Tampak depan mesin penebar dan penyemprot pupuk semi otomatis
Tampak depan mesin penebar dan penyemprot pupuk semi otomatis | Foto oleh Farid Hasannudin
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Satu lagi inovasi yang membantu pertanian di Indonesia. Adalah mesin penebar dan penyemprot pupuk semi otomatis tenaga surya karya mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang.

Lima mahasiswa yang terdiri dari Farid Hasannudin (Teknik Mesin 2015), Irfan Arnanda (Teknik Mesin 2015), Anwar Faishol Faridi (Teknik Mesin 2015), Andry Ariadi (Teknik Mesin 2015), dan Mohammad Tri Bahana Lazuardi (Pendidikan Teknik Elektro 2014) ini menghadirkan mesin pemupuk menggunakan energi terbarukan.

“Pemupukan tanaman dengan mesin ini menggunakan dua metode. Disebar (untuk pupuk padat/urea) dengan bantuan spreader dan disemprot (pupuk cair) menggunakan pompa yang energinya dari sinar matahari.”, tegas Farid, ketua tim.

Sumber ide yang dituangkan dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta ini berawal dari keluhan para petani akan operasional sawah mereka.

“Sering saya dengan mereka (petani) mengeluh soal capeknya kerja di sawah dan biaya operasional khususnya pada pemupukan.”, ungkap mahasiswa yang sedang menempuh strata-1 ini.

Umumnya, alat pemupuk tanaman yang digunakan petani adalah dengan tangki yang ditopang oleh badan. Dimana hal tersebut membutuhkan tenaga dan biaya yang besar.

Cara bekerjanya alat ini yaitu dimulai dari memasukkan pupuk ke dalam hopper (penampung pupun urea) yang ada atas spreader serta pupuk cair dimasukkan ke dalam tangki. Lalu, panas matahari yang mengenai permukaan sel surya dikonversi menjadi sumber listrik. Dimana arus listrik yang dihasilkan akan diteruskan melalui solar charger controller dan disimpan oleh baterai/aki.

Dari arus listrik tersebut, nantinya dapat digunakan untuk mengoperasikan pompa wiper mobil dan motor listrik. Motor listrik kemudian akan menggerakkan spreader yang terhubung dengan roda menggunakan v-belt. Hal ini mengakibatkan pupuk turun ke spreader yang berputar, sehingga pupuk akan tersebar ke lahan.

“Untuk sistem penyemprotan, arus listrik dialirkan ke pompa. Ketika pompa sudah beroperasi, akan ada tekanan yang mengenai zat cair (pupuk cair). Sehingga pupuk cair dalam tangki terdorong keluar ke arah nozzle dan terjadilah penyemprotan.”, tambahnya.

Cara penggunaan alat ini pun tergolong mudah, hanya saja petani perlu mengaturnya terlebih dahulu. Misalnya saja sebelum memasukkan pupuk urea ke hopper dan pupuk cair ke tangki, jarak antar roda harus disesuaikan dengan jarak antar tanaman. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga padi agar tidak rusak.

Selanjutnya tinggal menyalakan saklar pompa dan motor listrik. Kemudian mengatur kecepatan motor pada PWM (Pulse Widht Modulation) controller dan mesin sudah bisa digunakan di lahan.

“Kalau pengen lemparannya jauh tinggal menambah kecepatan motor spreader dengan PWM controller.”, imbuh mahasiswa bimbingan Dr. Widiyanti, M.Pd., dosen Teknik Mesin UM ini.

Alat ini sudah dilengkapi dengan tiga saklar, yaitu untuk motor penggerak roda, pemutar spreader, dan pompa. Dimana bagian tersebut menjadi pengontrol pupuk apa yang ingin ditaburkan.

Sebab masih bekerja secara semi otomatis, maka tentu masih perlu operator. Misalnya untuk mengatur arah jalannya alat di lahan dan menyalakan ataupun mematikan mesin.

Alat yang mendapat kucuran dana dari RISTEKDIKTI ini dapat digunakan pada tanaman yang memiliki tinggi 30 cm. Selain itu juga dapat menjangkau tanaman yang jarak celahnya sesuai dengan jarak antar roda.

Keunggulan yang ditawarkan alat ini yaitu dalam satu kali operasi dapat digunakan untuk dua pekerjaan sekaligus, yaitu menyebar dan menyemprot. Juga dari adanya penggunaan energi matahari serta beban pupuk yang ditopang oleh alat.

Tim ini juga berharap dapat segera bekerja sama dengan PT. Kubota Quick untuk produksi massal. Sehingga masyarakat Indonesia banyak yang menggunakannya.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.