BERBAGI
Tradisi Lombe di pulau Kangean Sumenep Madura
Tradisi Lombe di pulau Kangean Sumenep Madura | Foto oleh Asmul Nicest
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Aspek budaya tak luput dari perhatian para kaum muda. Tak hanya budaya yang sudah booming, tapi juga budaya yang masih terkenal di wilayah lokal, salah satunya tradisi Lombe.

Tiga mahasiswa Geografi angkatan 2015 Universitas Negeri Malang ini meneliti tentang APS-TRAL (Aplikasi Tradisi Lombe) sebagai upaya konservasi kerbau di pulau Kangean, kab. Sumenep, Madura. Tradisi Lombe adalah tradisi kerapan kerbau yang ada di pulau Kangean, Madura. Masyarakat setempat melaksanakan tradisi ini sebagai bentuk rasa syukur supaya nanti hasil panen padi mereka melimpah.

Alasan Misbahul Ulum, Kartika Hardiyanti, dan Irfan mengangkat penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh antara penerapan tradisi Lombe dan banyaknya kerbau di pulau tersebut. Bermula dari tugas kuliah dan pengaruh keluarga yang sering melakukan tradisi inilah akhirnya muncul inisiatif untuk melakukan penelitian ini.

“Banyak sekali masyarakat yang berminat memelihara kerbau. Nantinya, kerbau-kerbau itu diikutsertakan dalam tradisi Lombe. Jumlah kerbau yang ada di Kangean juga meningkat setiap tahunnya meskipun tidak signifikan.”, jelas Misbahul Ulum, ketua tim penelitian.

Sebab harga jual kerbau pemenang tradisi Lombe yang melejit, masyarakat berlomba-lomba merawat kerbau dengan sebaik-baiknya. Bagaimana tidak, sepasang kerbau biasa dihargai Rp 40 juta-50 juta. Sedangkan harga jual kerbau yang memenangkan lomba dipatok harga Rp 50 juta-55 juta.

Tim mahasiswa Geografi UM peneliti APS-TRAL
Tim mahasiswa Geografi UM peneliti APS-TRAL | dok. pribadi tim

Dari situ, Kangean dikenal sebagai daerah pemasok kerbau ke beberapa daerah di Indonesia. Beberapanya yaitu Jawa Barat dan Banjarmasin.

Sebelumnya, tradisi ini tidak terlalu dikenal oleh masyarakat. Bahkan banyak dari masyarakat Sumenep sendiri yang tidak mengetahui keberadaannya. Namun, sejak tahun 2010 tradisi ini berkembang menjadi tradisi modern.

Yang mana sudah mulai banyak masyarakat yang menaruh minat padanya. Status sosial bukan penghalang mereka untuk memelihara kerbau perlombaan ini. Sehingga, jumlah kerbau di pulau yang berada di bagian paling timur pulau Madura ini semakin meningkat.

Penelitian yang dilakukan dibawah bimbingan Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si., dosen Geografi Universitas Negeri Malang ini diambil selama tiga bulan di Dsn. Gerangmoseng, desa Angkatan, kec. Arjasa, pulau Kangean, Sumenep.

Penelitian ini juga telah melalui diskusi terpusat dengan beberapa tokoh masyarakat yang paham akan tradisi Lombe dan para peternak kerbau.

Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini yaitu dengan semakin dikenalnya tradisi Lombe, masyarakat lokal banyak yang melakukan konservasi kerbau. Jika dijual, hasil penjualannya pun dapat membantu perekonomian masyarakat. Selain itu, tradisi Lombe juga semakin dikenal secara luas.

Harapannya, para pemuda semakin sadar akan keberadaan budaya dan tradisi yang ada di daerahnya. Selanjutnya, mencari cara bagaimana untuk melestarikannya supaya dikenal masyarakat luas.

 

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.