BERBAGI
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Buah Bintaro seringkali digunakan masyarakat untuk pengusir luka dan obat tikus. Namun, di tangan empat mahasiswa Universitas Negeri Malang ini, buah Bintaro digunakan sebagi bahan baku pembuatan bioetanol. Buah Bintaro sendiri adalah tumbuhan mangrove yang tumbuh melimpah di daerah tropis Indonesia.

Walaupun melimpah, masyarakat masih kurang memanfaatkannya secara maksimal. Buah yang memiliki nama ilmiah Cerbera manghas ini memiliki kandungan selulosa sebesar 36,945 %. Banyaknya kandungan selulosa tersebut menentukan bagus tidaknya bahan bioetanol.

Penelitian oleh tim Bioaction yang terdiri dari Rangga Ega Santoso (Teknik Mesin 2013), Nur Fitriana (Biologi 2014), Maria Carolina Yuaniar (Teknik Sipil 2015), dan Firda Chynthia (Kimia 2015), didapatkan % yield etanol yang lebih tinggi dibandingkan penelitian-penelitian yang sudah ada sebelumnya. Dibawah bimbingan Dr. Sumari, M.Si., dosen Kimia UM, buah bintaro diubah menjadi bioetanol dengan proses pretreatment, delignifikasi, hidrolisis asam sulfat, fermentasi, dan diakhiri dengan distilasi.

Produk bioetanol dari buah bintaro
Produk bioetanol dari buah bintaro | Foto dok. tim

Jika dibandingkan dengan penelitian Iman (2011), pengolahan buah Bintaro oleh tim Bioaction ini lebih efektif. Sebab, dari tiga uji yang mereka lakukan, semuanya mengunggulkan buah bintaro. Ketiga uji tersebut yaitu uji gas kromatografi, metode Fehling, dan metode Nelson-semogyi.

Pada uji gas kromatografi diketahui kadar etanol buah bintaro sebesar 9.977 %. Sedangkan penelitian oleh Iman (2011) hanya 0.53 %. Dengan metode Fehling didapatkan nilai gula pereduksi sebesar 7002 ppm dibandingkan milik Iman (2011) ± 6100 ppm. Selain itu, juga diketahui bahwa 1 kg buah bintaro dapat menghasilkan rendemen bioetanol sebanyak 9 ml.

Tidak hanya keefektifannya yang diunggulkan, tapi juga aspek efisiensinya. Buktinya, tim Bioaction hanya menghabiskan waktu selama 4 hari 3,5 jam untuk membuatnya. Lebih singkat 3 hari 1,5 jam dari Iman (2011).

Penggunaan buah bintaro ini bukan semata-mata karena melimpah dan memiliki kadar etanol tinggi saja, tetapi juga berhubungan dengan kelangsungan kebutuhan pangan. Dimana bioetanol kebanyakan terbuat dari kelapa dan singkong. Namun kedua bahan tersebut memiliki kendala masing-masing. Kelapa rentan akan hama ulat pengerat daun (Artona catoxantha). Sedangkan singkong oleh masyarakat Indonesia masih condong digunakan untuk bahan baku pangan.

Keistimewaan lain buah bintaro ini yaitu dengan adanya kandungan racun pada biji bintaro sehingga tidak dapat dikonsumsi dan daya serap CO2-nya yang tergolong tinggi. Dengan begitu, nantinya diharapkan 135 ribu ton etanol selama satu tahun dapat terpenuhi untuk wilayah Jawa Timur. Jika merunut pada cita-cita produksi etanol sesuai skenario Kebijakan Energi Nasional tahun 2025 akan dihasilkan 3.332 juta TOE secara tepat waktu.

 

 

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.