BERBAGI
Aage Meinesz, penjahat kelahiran Malang yang pernah menggemparkan Belanda - Zalig-Zeeland.com
Aage Meinesz, penjahat kelahiran Malang yang pernah menggemparkan Belanda - Zalig-Zeeland.com
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Pernah ada sosok perampok ulung kelahiran Malang yang sempat mengguncang Belanda bernama Aage Meinesz. Meski bukan suatu hal yang bisa membanggakan, setidaknya kisahnya cukup menarik untuk disimak.

Lahir di Malang, 19 Juni 1942, pria bernama lengkap Aage Vening Meinesz itu kemudian kembali ke Belanda, tanah para leluhurnya. Di negeri kincir angin itulah Meinesz terkenal sebagai penjahat yang pernah melakukan perampokan bank ternama, Nederlandse Middenstands Bank di kawasan Helmond. Dari aksinya membobol bank pada awal tahun 1970-an itu, Meinesz mendapatkan uang sebesar 600.000 gulden. Hasil rempokan tersebut tercatat sebagai nominal terbesar yang pernah terjadi di Belanda pada waktu itu.

Menariknya, dalam melakukan aksi kejahatannya, Meinesz pantang menggunakan kekerasan. Pria berdarah Indo itu lebih memilih berhenti mencuri daripada harus membunuh penjaga dalam melakukan aksinya. Yang paling terkenal tentu sejata yang dipakainya dalam melakukan pembobolan bank tersebut. Aage Meinesz menggunakan sebuah batang pembakar yang legendaris. Dikutip dari laman Wikipedia, alat itu terbuat dari tabung besi panjang yang dilapisi dengan batang alumunium untuk menambah panas yang keluar. Melalui pembakaran beton dan logam tebal tersebut, tercipta lah api yang panasnya mencapai 3500 derajat. Karena alat yang dipakainya itu, Aage Meinesz mendapatkan julukan ‘Meesterkraker’ alias perampok ulung.

Pelarian Aage Meinesz berhenti di tahun 1973, saat dirinya mampu ditangkap kepolisian setempat. Di usianya yang beranjak 31 tahun, Meinesz dijatuhi hukuman 4,5 tahun penjara di Blokhuispoort di kawasan Leeuwarden, Belanda. Namun, secara cerdik, setelah menjalani empat bulan masa tahanan, Meinesz mampu melarikan diri dari selnya. Namun, tak lama kepolisian kembali berhasil menangkapnya dan Meinesz pun harus menjalani sisa masa tahanannya.

Ketika masa penahanannya berakhir, seluruh awak media Belanda menyambutnya di pintu tahanan untuk mengambil foto dan wawancara. Dari konferensi pers yang digelar, diketahui sebuah fakta bahwa Meinesz sama sekali tak mengalami kesulitan ketika membobol sel ketika ia pernah kabur dari penjara Leeuwarden. Pertanyaan awak media soal bagaimana ia kabur dijawabnya dengan santai, “Pembobolan lemari bank juga sulit, sekarang saya pernah memiliki kemampuan itu”. Jawaban itu menyiratkan bahwa lemari brankas bank saja bisa dibobolnya apalagi sekadar sel penjara.

Sejatinya, Meinesz memiliki latar belakang dari keluarga baik-baik. Terbukti, kakek buyutnya adalah seorang Walikota Rotterdam dan Amsterdam (Sjoerd Vening Meinesz), dan saudara kakeknya adalah profesor geofisika (Felix Vening Meinesz). Darah Indo mengalir dari sang ibu, yang tinggal dan bekerja di Utrecht, Belanda.

Gaya hidup mewah yang membutuhkan banyak uang disinyalir yang melatarbelakangi keputusannya kemudian terjun ke dunia hitam menjadi perampok. Kemudahannya dalam melakukan aksi perampokan demi perampokan membuatnya kemudian terjerat di lingkaran kejahatan.

Saat masih menjadi nara pidana di Leeuwarden, tepatnya pada tahun 1976, Meinesz sempat menulis sebuah buku autobiografi yang diberi judul Mijn Nachten Met de Thermische Lans. Dalam buku tersebut diketahui bahwa Meinesz pernah menikah sekali dan memiliki seorang putra dan seorang putri. Mereka diberi nama Conny (berdasarkan ibunya yang sudah meninggal) dan Jelle (berdasarkan ayahnya). Menariknya, dari sejumlah kekasihnya, Meines pun punya dua putra dan satu putri.

Meinesz meninggal pada 31 Oktober 1985 di usia 43 tahun di Den Haag, Belanda setelah berjuang melawan kanker lambung. Di kota itu pula lah ia dimakamkan. Namun, yang cukup mengejutkan, konon makam itu kini telah dikosongkan. Alasan dan kejelasannya masih menjadi misteri.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.