BERBAGI
Kebo Ijo dan Ken Arok yang menciptakan tuduhan sebagai pelaku pembunuh Tunggul Ametung (C) ONIGAMI
Kebo Ijo dan Ken Arok yang menciptakan tuduhan sebagai pelaku pembunuh Tunggul Ametung (C) ONIGAMI
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Sebagai daerah yang berada tak jauh dari lokasi Kerajaan Singosari, Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang juga turut menyimpan sejarah kelam kerajaan itu yang turut mempengaruhi penamaan dusun di desa tersebut. Salah satunya legenda Kebo Ijo, senopati yang dituduh sebagai pembunuh Akuwu Tunggul Ametung yang sebenarnya mati di tangan Ken Arok.

Konon, nama Desa Ngijo berasal dari nama Glagah Ijo, sebutan untuk sebuah tempat yang menjadi pusat penyusunan strategi dan peristirahatan Kebo Ijo. Sampai sekarang, tempat tersebut berada di wilayah persawahan Dusun Ngijo Krajan, Desa Ngijo. Dari istilah Glagah Ijo itulah maka banyak orang yang sampai kini menyebut wilayah itu dengan nama Desa Ngijo. Desa ini terdiri dari beberapa Dusun, yaitu Dusun Kagrengan, Dusun Kedawung, Dusun Ngijo Krajan, Dusun Ngepeh, Dusun Takeran, Dusun Kendalsari dan Dusun Leses.

Cerita bermula dari rencana jahat Ken Arok yang ingin membunuh Akuwu Tunggul Ametung untuk menguasai tahta Kerajaan Singosari, yang juga beristrikan Ken Dedes. Sebelum membunuh dengan keris yang dipesannya dari Empu Gandring, Ken Arok terlebih dulu memamerkannya pada Kebo Ijo. Tahu betul sifat arogan dan sok pamer yang dimiliki si senopati, Ken Arok pun menitipkan keris tersebut padanya, dengan harapan keris tersebut nantinya dipamer-pamerkan pada penghuni istana.

Benar saja, setelah keris itu dipamerkan Kebo Ijo, malam harinya Ken Arok menyelinap ke kamar sang senopati untuk mencuri keris tersebut. Setelah itu, keris tersebut langsung digunakan untuk menusuk Akuwu Tunggul Ametung hingga tewas. Cerdiknya, Ken Arok meninggalkan keris tersebut sebagai barang bukti sekaligus menghilangkan jejak. Karena hampirseisi istana mengetahui jika keris tersebut pernah dipamerkan Kebo Ijo, otomatis tuduhan pembunuh Akuwu Tunggul Ametung terarah pada senopati tersebut.

Seluruh pasukan Singosari disiagakan untuk memburu dan menangkap Kebo Ijo. Sadar akan jiwanya terancam, Kebo Ijo akhirnya kabur ke arah timur. Ia meminta bala bantuan dari tiga temannya yang sakti, yaitu Singo Joyo, Singo Kerto dan Singo Rekso.

Pasukan Singosari melakukan pengejaran terhadap Kebo Ijo yang kabarnya bergerak ke timur menuju sebuah bukit. Karena situasinya gelap ketika pasukan sampai di bukit tersebut maka hingga kini tempat itu dikenal sebagai Gunung Gelap yang letaknya masih berada di Kecamatan Singosari kini. Ketika pasukan tiba ternyata Kebo Ijo dan kawanannya sudah melarikan diri lagi ke arah timur menuju ke sebuah gunung lagi. Ketika melakukan pencarian terhadap Kebo Ijo, pasukan Singosari mencium bau tidak sedap seperti bau mayit (mayat). Karenanya, sampai sekarang tempat itu dikenal dengan nama “Gunung Gondo Mayit/Gondo Mayi” yang juga berada di daerah Kecamatan Singosari.

Meski telah menempuh jarak yang melelahkan, pencarian pasukan Singosari belum berhasil menemukan keberadaan kawanan Kebo Ijo. Kabar terbaru datang menyebutkan bahwa sang senopati yang difitnah itu lari ke arah selatan. Di tengah pengejaran, pasukan Singosari tiba-tiba dihadang oleh pohon tumbang yang melintang (ngedawang/menghadang) di tengah jalan. Hingga kini daerah tersebut disebut Kedawung, yang merupakan salah satu nama dusun di Desa Ngijo.

Pasukan Singosari memutuskan berbelok ke arah timur dan menemukan sebuah pohon atau kayu Tritih besar. Di tempat ini mereka merasakan suasana merinding (agreng). Akhirnya, daerah tersebut dinamakan Kagrengan, yang juga masuk wilayah Desa Ngijo dengan status dusun.

Karena tak menemukan yang dicari, pasukan Singosari berbalik arah ke barat lagi menuju Kedawung. Ternyata keputusan itu tidak salah, karena di sini mereka menemukan jejak Kebo Ijo dan berupaya menangkapnya hidup atau mati. Namun kesaktian sang senopati belum tertandingi. Apalagi ia dibantu ketiga teman yang tak kalah saktinya. Pasukan Singosari yang mengalami kekalahan, kemudian mundur menuju pusat kerajaan untuk merencanakan serangan balasan menggunakan strategi lainnya.

Selepas pertempuran itu Kebo Ijo mencari tempat persembunyian di sebuah daerah yang memiliki hamparan luas padang rerumputan hijau atau disebut dengan Glagah Ijo. Lokasi ini kini terletak di tengah area persawahan di Desa Ngijo, dekat perbatasan dengan Desa Ampeldento. Glagah Ijo ini merupakan area tanah rawa (embag) yang ditumbuhi rerumputan hijau yang amat luas. Menariknya, saat cuaca panas menyengat area tersebut tidak terasa panas dan pada saat cuaca dingin menusuk area tersebut tidak terasa dingin. Karenanya, padang rumput tersebut dipilih sebagai tempat yang cocok untuk kawanan Kebo Ijo beristirahat sambil menyusun strategi mengantisipasi serangan balasan dari pasukan Singosari.

Kawanan Kebo Ijo mendengar kabar bahwa pasukan Singosari yang telah menyusun strategi untuk melakukan serangan balik keesokan harinya. Kebo Ijo beserta tiga temannya pun bergerak menuju ke arah barat dan beristirahat sejenak (istilah jawanya ngepeh). Singkat cerita, tempat ini kemudian dinamakan Dusun Ngepeh.

Mengetahui keberadaan pasti Kebo Ijo di tempat tersebut, pasukan Singosari pun segera melancarkan serangan. Kebo Ijo bersembunyi dengan nempel (ndesel) pada pohon kedondong yang berada di area tersebut. Tempat ini kemudian dikenal dengan sebutan Dusun Ndesel, yang tepatnya berada di sumber air (belik) Takeran di tengah-tengah antara Dusun Ngepeh dan Dusun Takeran. Saat ini nama Dusun Ngepeh dan Dusun Takeran masih digunakan.

Terjadi tepat di sumber air Takeran, pasukan Singosari dan kawanan Kebo Ijo terlibar pertarungan mati-matian (taker pati). Banyak pasukan Singosari yang akhirnya tewas karena kesaktian Kebo Ijo dan teman-temannya. Pasukan Singosari ditarik mundur, sedangkan Kebo Ijo terus merangsek ke arah barat. Setelah berjalan cukup jauh, Kebo Ijo menemukan daerah di mana terdapat sebuah pohon (kayu) Kendal dan menjadikannya sebagai tempat tidur (sari). Kemudian, daerah itu pun dinamakan Dusun Kendalsari.

Ketika Kebo Ijo beristirahat, tanpa sadar pasukan Singosari yang berkamuflase tak jadi pulan ke pusat kerajaan mereka tiba-tiba menyergap. Kebo Ijo pun langsung ambil langkah seribu menyeberangi sebuah sungai ke arah utara. Saking lelahnya, Kebo Ijo pun menghela napas panjang (Ngeses). Daerah itu pun akhirnya dinamai Dusun Leses.

Tak lama kemudian, Kebo Ijo melanjutkan perjalananya menuju ke barat hingga menemukan daerah yang dipenuhi pohon blimbing yang sedang berbunga (moyo). Pepohonan itu berada di sebuah bukit (Giri), sehingga daerah ini disebut Dusun Girimoyo.

Dari sana, Kebo Ijo melanjutkan perjalanan menuju barat lagi. Sang senopati kembali menemukan sebuah pohon besar bernama pohon Ploso, di sebuah wilayah yang agak tandus (saat ini digunakan sebagai Pasar Karangploso). Karenanya, daerah itu pun dinamakan Karangploso yang kini menjadi nama desa sekaligus kecamatan.

Kebo Ijo kemudian berjalan menuju ke arah timur sampai menemukan daerah yang dipenuhi rumpun bambu ampel (jenis bambu yang ukurannya kecil), yang ada tempat untuk memandikan sapi di bawahnya. Biasanya, sapi-sapi yang dimandikan di sini memakai lonceng kecil (Gento) di lehernya. Oleh karena itu, daerah ini kemudian dikenal dengan sebutan Ampelgento/Ampeldento.

Kawanan Kebo Ijo terus bergerak ke arah timur. Mereka menjumpai seekor burung yang memakan tanah. Ada yang bilang bahwa burung tersebut Ngasin (mencari/memakan sesuatu yang asin) untuk membantu proses pencernaannya. Tak heran jika kemudian daerah ini dikenal dengan nama Dusun Kasin.

Perjalanan mereka terus berlanjut, kali ini mereka mengambil jalur samping (Nyisih) yang tetap mengarah ke timur. Jalur tersebut kemudian kini diberi nama Dusun Tlasih. Di daerah itulah mengalir sungai besar yang akhirnya oleh Kebo Ijo dijadikan sebagai perlindungan (Tameng) dan penghalang (Benteng aling-aling) dari pasukan Singosari. Daerah itu pun kini disebut Dusun Tameng. Merasa sudah aman, kawanan Kebo Ijo kembali ke utara menuju Glagah Ijo.

Rupanya mereka salah perhitungan, karena sesaat setelah sampai, mendadak pasukan Singosari menyerbu mereka. Karena sudah menyiapkan strategi bertahan, kawanan Kebo Ijo pun menggiring pasukan lawan ke arah Tameng. Sayangnya, karena pasukan yang menyerang saat itu terlalu banyak sampai seperti Ngepuh (keroyokan), akhirnya Kebo Ijo pun tertangkap dalam pelariannya menuju Tameng. Daerah pelarian itu kini dikenal dengan sebutan Desa Kepuharjo.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.