BERBAGI
Foto di pusat layanan usaha terpadu kab. Malang, untuk mensupport produk Glucafe Cookies agar dikenal oleh masyarakat
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Produk karya mahasiswa UM menarik minat para orangtua anak-anak yang mempunyai Autism Spectrum Disorder di berbagai daerah. Biskuit yang memanfaatkan kacang kedelai serta free gluten dan casein Glucafe cookies itu rencananya akan dipasarkan lebih luas untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak-anak autis di Indonesia.

“Kami percaya dan optimis bisa memproduksi massal dan membantu anak-anak berkebutuhan khusus (Autis) di berbagai wilayah di Indonesia,” ungkap Amira Kamelia Sa’dya, mahasiswi Manajemen yang menjadi salah satu ketua tim pkmk Universitas Negeri Malang.

Produk Glucafe Cookies sebagai cemilan anak autis

Biskuit tersebut sudah diuji cobakan kepada beberapa anak autis di Kota Malang dan Kota Blitar. Ke depan tim akan melakukan bekerjasama dengan sekolah-sekolah autis di Indonesia untuk mengadakan penyuluhan dan sosialisasi kepada para orangtua anak berkebutuhan khusus agar sadar pentingnya diet makanan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak spesialnya.

Lebih jauh ia menjelaskan, Glucafe cookies adalah salah satu wujud penyelesaian masalah tidak tercukupinya gizi anak autis, dengan membuat makanan diet seimbang khusus bagi anak-anak yang mempunyai gangguan autism pada tubuhnya. Uswa mahasiswi Biologi salah seorang tim mengatakan bahwa biskuit Glucafe cookies ini telah teruji laboratorium dengan hasil kandungan gluten sebesar 0,030% per 100 gr dan casein 7,760% per 100 gr. Selain itu, glucafe cookies juga mengandung vitamin A, senyawa benzaelin dan benzalina yang sangat baik bagi tubuh anak dengan spektrum autis.

Menurut penuturan Sunsya mahasiswi Tata Boga, “biskuit ini sangat berbeda dari biskuit kebanyakan yang beredar di pasaran. Dalam satu kemasan tediri dari lima buah biskuit dengan berbagai varian rasa dan bentuk yang menarik untuk disajikan kepada anak. Bahkan biskuit ini direkomendasikan oleh psikolog-psikolog di Kota Malang, Guru salah satu SLB di Kota Malang  dan juga Duta Pangan Kota Malang.”

“Tidak ada peraturan khusus atau takaran khusus untuk mengonsumsi biskuit ini, karena biskuit ini adalah camilan jadi baik dan aman dikonsumsi karena juga bebas pengawet dan pewarna buatan,” tambah Lhulu mahasiswi Psikologi salah satu anggota tim pkm.

Lanjutnya, “biasanya anak autis mengalami gangguan pada nafsu makannya maka biskuit ini juga dapat digunakan sebagai pendamping makanan anak karena terdapat beberapa bahan tambahan alami berupa wortel, labu, secang, minyak zaitun dan madu asli sehingga sangat baik dan aman untuk dikonsumsi.

Biskuit Glucafe Cokies seharga Rp 25.000,00 tersebut cukup terjangkau apabila disetarakan dengan kebutuhan anak autis. Anggota lain, Amin yang bertanggung jawab dalam bidang pemasaranan mengungkapkan, “tidak ada segmentasi pasar, dan target pemasarannya pun sudah sangat jelas yakni SLB-SLB se-Malang Raya dan kedepannya akan melakukan ekspansi ke daerah lain di Indonesia hingga Luar Negeri.”

Tim ini terdiri dari Amira Kamelia Sa’dya dan Amin Nur Hidayah(Manajemen), Lhulu An-Nisa (Psikologi), Uswatun Khasanah (Biologi), Sunsya Putri Cahyaning Gusti (Tata Boga). Di bawah bimbingan dosen FE Dr. H. Sugeng Hadi Utomo. M.Ec. diharapkan mahasiswa mampu bergerak aktif menanggulangi masalah di Indonesia dengan pemanfaatan bahan-bahan makanan alami, sekaligus bersaing pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) hingga melaju PIMNAS 31 yang akan digelar di Jogjakarta Agustus nanti.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.