BERBAGI
Puthu Lanang
Puthu Lanang
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Siapa sangka di Malang masih ada jajanan tradisional yang bertahan sejak tahun 1935? Ya, Puthu Lanang Celaket telah bertahan sekitar delapan windu lebih alias 81 tahun bertahan dengan usaha jajanan tradisionalnya. Bahkan, puthu yang dijual di pinggir jalan setapak, tepatnya di Jalan Jaksa Agung Suprapto Gang Buntu, Celaket, kota Malang di dekat Rumah Sakit Lavallete ini setiap harinya selalu ludes 1000 puthu!

Sebelum selaris seperti saat ini, usaha yang dibuka oleh Ibu Siswojo, alm. Soepijah sejak tahun 1935 saat itu di depannya sering banyak tentara, bahkan sejak kemenangan Jepang di Indonesia, kala itu Malang yang juga dijajah banyak pelanggan alm. Soepijah yang merupakan orang Jepang, bahkan menjadi salah satu kuliner favoritnya.

Dahulu namanya bukan ‘Puthu Lanang’, namun ‘Puthu Celaket’ saja, karena lokasi berjualannya yang memang ada di lokasi Celaket. Sejak puthu ini memiliki penikmat yang banyak, akhirnya banyak juga yang mengatasnamakan usahanya menjadi ‘Puthu Celaket’ juga, mereka mengklaim bahwa puthu tersebut cabang dari usaha yang diteruskan oleh Sisjowo.

Namun akhirnya nama ‘Puthu Celaket’ menjadi ‘Puthu Lanang’ karena Siswojo yang terinspirasi oleh puthu yang bernama ‘Puthu Ayu’. Dianggap kurang pas dengan sebutan ‘Puthu Ganteng’ karena terkesan narsis, Siswojo mengubah nama warungnya menjadi ‘Puthu Lanang’ di tempat yang sama. Puthu Lanang ia sebut menjadi tandingan Puthu Ayu. Selain itu, seluruh cucu dari alm. Soepijah adalah laki-laki, sehingga nama Puthu Lanang ini pun bisa diartikan sebagai putu lanang alias cucu lelaki.

Lupis di Puthu Lanang, Celaket
Lupis di Puthu Lanang, Celaket via memowisata.com

Berkat pelanggannya juga akhirnya usaha Puthu Lanang ini tak lagi ada yang mengatasnamakan cabang atau menjiplak namanya, karena sejak tahun 2000, nama ‘Puthu Lanang’ ini dipatenkan.

Awalnya Siswojo ini merasakan beban yang cukup berat ketika diminta meneruskan usaha dari Ibunya, apalagi pekerjaan Siswojo sebelumnya adalah developer property. Namun karena semangat Siswojo dalam membuktikkan bahwa meskipun kuliner puthu ini telah dipegang di generasi kedua, nama baik, cita rasa dan mutunya tetap terjaga. Terbukti saat ini, setelah dua puluh tahun Suswijo melanjutkan resep dan usaha warisan Ibunya, pelanggan mencapai 100%.

Dengan harga terjangkau, puthu di sini dibandrol denga Rp10.000 mendapat sepuluh puthu ini setiap harinya ludes 1000 puthu termasuk jajanan tradisional yang dijual di Puthu Lanang, seperti cenil, lupis maupun klepon.

Yang awalnya Siswojo merasa berat meneruskan usaha ini, rupanya ia saat ini mengaku bahwa sangat tenang dan tidak merasa setenang ini semenjak melanjutkan usaha warisan ibunya. Bagi Anda penikmat kuliner, tak ada salahnya menikmati Puthu Lanang yang legendaris dan penuh cerita ditemani suasana Malang yang selalu dirindukan terutama Anda yang perantau.

sumber foto: foodyfloody.blogspot.com

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.