BERBAGI
Desa Pakisjajar punya keterkaitan sejarah dengan Pangeran Mas Ario
Desa Pakisjajar punya keterkaitan sejarah dengan Pangeran Mas Ario
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Pangeran Mas Ario Suryo Tjokrodiningrat merupakan bangsawan dari kerajaan seberang Pulau Madura yang yang merantau ke Pulau Jawa, dan sampai di sisi timur Kabupaten Malang, tepatnya di Kecamatan Pakis. Daerah yang dulunya hutan belantara itu kini telah menjadi tempat tinggal bernama Desa Pakisjajar berkat jasa-jasanya.

Pangeran Mas Ario Suryo Tjokrodiningrat punya banyak nama sebutan. Mulai dari Kanjeng Mas Malik Ibrahim, hingga Mbik Jereh (1624 M) yang berarti ludah di dalam bambu. Ia merupakan keturunan Ki Demung Plakaran, Desa Plakaran, Kecamatan Arosbaya, Bangkalan Madura, yang dikenal sebagai Kerajaan Islam pertama di Pulau Madura sebelah barat. Ki Demung Plakaran sendiri merupakan keturunan dari Prabu Brawijaya V (1468-1478), raja terakhir dari Kerajaan Majapahit.

Silsilahnya berawal dari Ki Demung Plakaran yang menikah dengan permaisurinya, Nyi Sumekar. Dari situlah sistem pemerintahan di wilayah Madura Barat kemudian jadi semakin terbangun dan berkembang pesat. Saat Kraton Plakaran diperintah Raden Pragalbo, putra ketiga Ki Demung Plakaran, yang kemudian populer dengan sebutan Pangeran Islam Onghu’ (Islam Mengangguk), kekuasaan kerajaan ini pusat pemerintahannya berpindah ke Arisbaya (sekarang Arosbaya), dan kian berkembang luas hingga ke seluruh Pulau Madura.

Sama halnya ketika Kerajaan Arisbaya diperintah oleh salah seorang putra Raden Pragalbo, yakni Raden Pratanu alias Panembahan Ki Lemah Duwur (1531-1592), penyebaran Agama Islam untuk pertama kalinya berkembang luas hingga ke seluruh Pulau Madura. Dari keturunan Raden Pratanu inilah kemudian lahirlah raja-raja besar di kawasan Madura Barat, termasuk para raja keturunan Raden Praseno alias Pangeran Cakraningrat I dengan permaisurinya Kanjeng Ratu Syarifah Ambami atau Ratoe Ebu (Ratu ibu) yang dikenal memerintah wilayah Madura Barat hingga tujuh turunan, dan situs makamnya menyatu di kompleks Pasarean Aermata.

Pangeran Mas Ario Suryo Tjokrodiningrat memerintah Kerajaan Arosbaya (1621-1624) karena ditunjuk oleh kakaknya, Pangeran Tengah untuk menggantikannya sesaat sebelum wafat, karena Putra Mahkota, Raden Prasena atau Pangeran Tjakraningrat 1 masih kecil dan dititipkan di Madegan Sampang. Pada masa pemerintah Pangeran Mas ini terjadilah perang besar antara Kerajaan Arosbaya dengan Kerajaan Mataram yang diperintah Sultan Agung. Dalam peperangan ini Patih dari Mataram dan sekitar 6000 pasukan Mataram gugur di medan laga. Pangeran Mas Ario Suryo Tjokrodiningrat terpaksa meninggalkan Arosbaya, menuju Gresik, daerah asal sang istri, Raden Ajeng Putri Sumarlik atau Raden Ajeng Putri Pembayun, yang masih kerabat dari Kanjeng Sinuwun Sunan Giri.

Raden Mas Ario pun melanjutkan perjalanan ke arah selatan, hingga sampailah di Desa Pakisjajar, yang dulunya masih berupa hutan belantara yang di tumbuhi pohon pakis. Karena pohon-pohon pakis itu posisinya berjejer (dalam Bahasa Jawa) atau berjajar dan berderet rapi, maka daerah ini dinamakan Pakisjajar yang hingga kini menjadi Desa Pakisjajar.

Dalam perjalanannya “menemukan” Pakisjajar, Pangeran Mas Ario ditemani oleh beberapa kerabat, di antaranya Kanjeng Mas Hadi Panotogomo atau Kanjeng Mas Hadi Notoningrat atau Mbah Surgi Ningrat adik kandungnya, Raden Ajeng Putri Ningrum Larasati (dari Keraton Surakarta Hadiningrat) istri adiknya. Selain mereka berdua, ada beberapa nama yang mengikuti perjalanan Raden Mas Ario pada waktu itu, yaitu Raden Mas Abdi Yakso Suryodiningrat, Raden Mas Benowo Suryodiningrat pamannya, Raden Mas Sastro Wijoyo Suryodiningrat, Raden Ajeng Nimas Rukmi keponakan, Raden Ajeng Nimas Retno Pertiwi Suryo Adiningrat bibinya.

Tujuan Pangeran Mas Ario hijrah ke Malang sebelah timur dan membuka desa sebagai tempat bermukim bukan cuma karena kerajaan yang dipimpinnya kalah dari Mataram, melainkan juga menyebarkan Agama Islam. Ia mengajarkan pemahaman kitab suci Al Quran dan tata cara sholat lima waktu, dan mengajarkan ilmu spiritual kanoragan dan bermacam macam ilmu lainya.

Tak heran jika sekarang ini banyak ditemukan orang-orang berdarah dan keturunan Madura di Desa Pakisjajar, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Sebab, “penemu” dan sesepuh mereka pun berasal dari pulau tersebut.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.